jurnalistik.co.id – Pemerintah mengumumkan skema dukungan bagi orang tua yang menerima manfaat negara, dengan potensi kompensasi hingga £4.500 setahun jika anak mereka memilih program apprenticeships.
Langkah ini dirancang untuk memberi insentif agar remaja yang berada dalam keluarga penerima bantuan tidak mundur ketika hendak masuk ke dunia kerja melalui jalur keterampilan berbasis kerja.
Menurut rencana yang disampaikan pemerintah, keluarga akan memperoleh semacam bursary untuk menggantikan pembayaran Universal Credit yang berkurang ketika anak mulai bekerja melalui apprenticeships.
Bursary tersebut diperkirakan menjangkau beberapa ribu rumah tangga, yang saat ini menghadapi kehilangan antara £17 hingga £330 per minggu jika anak mereka mengambil apprenticeships.
Skema ini juga menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk mendorong lebih banyak anak muda memasuki pekerjaan dan pelatihan, sekaligus menekan jumlah yang tidak berada dalam pendidikan, pekerjaan, atau pelatihan (Neet).
Dari sisi pendanaan, pemerintah menyebut pembayaran bursary akan diambil dari kantong dana senilai £30 juta. Dana itu bersumber dari growth and skills levy, yaitu pajak yang dikenakan kepada pemberi kerja dengan total tagihan upah tahunan di atas £3 juta.
Langkah tersebut mendapat tanggapan beragam dari kalangan politik.
Partai Konservatif mengapresiasi dukungan Perdana Menteri Andy Burnham terhadap apprenticeships, tetapi mengkritik rencana Burnham untuk membiayai bursary tersebut.
Kritik itu sejalan dengan peringatan yang sebelumnya muncul dari Social Security Advisory Committee. Dalam laporannya, komite itu menyebut adanya “perverse effects” dari sistem manfaat bagi keputusan kerja anak muda.
Komite memberi contoh agar efeknya terlihat nyata di lapangan.
Misalnya, orang tua tunggal yang memiliki anak disabilitas dapat kehilangan hingga £340 per minggu dalam manfaat ketika anaknya memulai apprenticeships. Nilai itu disebut lebih tinggi daripada perkiraan gaji apprenticeships yang mencapai £258 per minggu.
Komite menjelaskan bahwa karena apprenticeships dipandang sebagai pekerjaan bergaji, pembayaran manfaat akan menurun pada rumah tangga yang memiliki anak muda mengambil jalur tersebut.
Dengan mekanisme itu, komite menilai sistem sedang menghambat upaya pemerintah untuk menurunkan jumlah anak muda yang masuk kategori Neet.
Pembahasan itu juga bertaut dengan peringatan dari laporan lain yang lebih menekankan urgensi kebijakan. Dalam laporan terbaru, mantan Health Secretary Alan Milburn memperingatkan bahwa satu dari enam orang muda berpotensi menjadi Neet dalam lima tahun ke depan bila tidak ada tindakan segera.
Data resmi yang disebutkan juga menunjukkan bahwa lebih dari satu juta orang berusia 16 hingga 24 tahun saat ini berada dalam status Neet.
Pemerintah menyatakan, bursary baru yang akan diberikan diharapkan mampu menghilangkan hambatan yang membuat keluarga enggan mendorong anaknya mengambil apprenticeships.
Dengan skema ini, anak muda diharapkan bisa “earn and learn”, yaitu memperoleh kesempatan belajar sekaligus pendapatan dari pekerjaan.
Berita Terkait
Work and Pensions Secretary Pat McFadden menyampaikan, “By providing bursaries to those who need them most and fully funding apprenticeship training, we are making sure cost is not the reason someone misses out.”
Pernyataan itu menekankan bahwa biaya seharusnya tidak menjadi alasan utama seseorang kehilangan kesempatan mengikuti program pelatihan berbasis kerja.
McFadden juga menempatkan kebijakan tersebut sebagai bagian dari paket dukungan yang lebih luas untuk apprenticeships. Paket itu mencakup pendanaan pelatihan bagi kelompok di bawah 25 tahun, serta dukungan tambahan bagi pemberi kerja yang menerima anak muda untuk program tersebut.
Di kubu oposisi, Helen Whately selaku Shadow Work and Pensions Secretary menyatakan apresiasi atas kesepakatan Burnham soal nilai apprenticeships.
Namun, ia menilai rencana itu bermasalah dari sisi pembiayaan.
Whately mengatakan, “I’m glad Burnham agrees: apprenticeships are a good thing, and we need more of them.”
Setelah itu, ia menambahkan kritik bahwa rencana tersebut “uncosted”.
Menurut Whately, “It is spending money already committed elsewhere. So, either it is another unfunded announcement, or Andy Burnham is not being straight with us about his plans.”
Dalam konteks kebijakan Neet, Burnham menegaskan bahwa fokusnya adalah menekan tren yang dinilai meningkat.
Ia menyebut dirinya “on a mission” untuk mengurangi jumlah Neet.
Burnham juga menyatakan, “The trend is rising at the moment, so the first thing I’ve got to do is to stop that rise,” he said.
Seiring serangkaian pengumuman kebijakan awal, Burnham pada hari Selasa dikabarkan memaparkan rencana untuk mencari keseimbangan dalam sistem pendidikan.
Rencana itu disebut bertujuan menata prioritas antara keterampilan akademik dan keterampilan teknis, dalam rangka menyesuaikan kebutuhan yang lebih relevan bagi dunia kerja dan pelatihan.
Secara keseluruhan, skema bursary yang dapat mencapai £4.500 setahun bagi orang tua penerima manfaat menempatkan apprenticeships sebagai jalur yang ingin didorong, sambil mencoba meredam efek finansial yang selama ini membuat sebagian keluarga kehilangan manfaat ketika anak mulai menjalani program bergaji.
Pemerintah memandang dukungan itu sebagai pintu agar lebih banyak anak muda tetap bergerak ke jalur “earn and learn”, sementara kritik dari pihak oposisi berfokus pada pertanyaan pendanaan dan apakah rencana tersebut benar-benar telah dihitung secara matang.
Adapun narasi kebijakan yang dibawa dari laporan komite maupun peringatan Alan Milburn menunjukkan bahwa isu Neet menjadi latar besar dari seluruh perubahan ini, dengan data resmi yang memperlihatkan skala masalah yang masih luas pada kelompok usia 16 hingga 24 tahun.
Keputusan pemerintah dalam merespons hambatan manfaat dan menyelaraskan pendanaan pelatihan apprenticeships akan menentukan apakah insentif tersebut efektif mengubah pilihan keluarga penerima bantuan saat anak mereka mempertimbangkan pekerjaan berbasis keterampilan.












