jurnalistik.co.id – Jerman bersiap menghadapi salah satu pemilihan yang berpotensi mengubah lanskap politik di kawasan timur akhir pekan ini. Pusat perhatian tertuju pada pemilu negara bagian Saxony-Anhalt, tempat partai Alternative fĂĽr Deutschland (AfD) berupaya meraih kemenangan bersejarah.
Jika AfD memperoleh mayoritas mutlak di parlemen regional, ini akan menjadi pertama kalinya partai sayap kanan memegang kekuasaan tingkat negara sejak era pascaperang. Bagi lawan-lawan politiknya, skenario tersebut dipandang sebagai situasi berisiko besar.
Sementara itu, AfD melihat pemilu ini sebagai langkah awal menuju ambisinya menembus kekuasaan nasional. Bagi sebagian pendukung, momentum seperti ini dianggap membuka jalan yang sebelumnya tertutup oleh tatanan politik arus utama.
Di Saxony-Anhalt, AfD dipimpin oleh kandidat terdepan Ulrich Siegmund, yang dalam kampanye dan sorotan media tampak tampil dominan. Der Spiegel pernah menjuluki Siegmund sebagai “Germany’s Most Dangerous Man”, seiring beredarnya penilaian bahwa ia dekat dengan lingkaran politik yang lebih ekstrem.
Siegmund yang berusia 35 tahun sering terlihat berada di tengah kerumunan pendukung, bahkan dalam unggahan media sosialnya sendiri. Ia juga tampil santai, termasuk beraktivitas dengan kendaraan khas Jerman Timur secara bergaya.
AfD tumbuh di wilayah-wilayah yang selama ini menjadi basis kekuatannya, terutama karena gabungan nostalgia terhadap masa lalu dan ketidakpuasan terhadap kondisi yang berjalan. Dalam berbagai penuturan warga, keluhan yang menonjol berkaitan dengan persoalan imigrasi, keamanan publik, ekonomi Jerman yang melemah, biaya energi yang tinggi, serta bantuan yang dikirim ke luar negeri seperti ke Ukraina.
Sejumlah orang yang berbicara dengan BBC menyatakan bahwa mereka melihat AfD sebagai kesempatan nyata untuk perubahan radikal. Ada pula pendukung yang memilih penjelasan lebih sederhana: mereka merasa sudah kehilangan kepercayaan pada partai-partai arus utama yang, menurut mereka, mendominasi politik selama puluhan tahun.
Di sisi lain, rencana AfD untuk Saxony-Anhalt memicu kontroversi tajam di dalam Jerman. Salah satu gagasannya adalah memisahkan anak-anak pengungsi ke dalam kelas-kelas khusus, dengan pesan bahwa masa tinggal mereka di Jerman hanya bersifat sementara.
Dalam dokumen manifestonya, AfD menyebut adanya dorongan agresif terhadap “sexual deviations and non-reproductive lifestyles” yang, menurut naskah itu, menggeser struktur keluarga “normal”. Partai itu juga mengusulkan larangan bendera pelangi LGBT dikibarkan di sekolah, serta menekankan agar anak-anak mempelajari lebih sedikit tentang Nazi dan lebih banyak aspek positif dari sejarah Jerman.
Terkait kebijakan imigrasi, AfD merancang pembentukan satuan tugas untuk menahan dan mendeportasi migran yang tidak lagi memiliki hak untuk berada di negara bagian tersebut. Partai ini juga menyerukan penghentian “illegal, culturally alien mass migration”, sesuai frasa yang tercantum dalam gagasan mereka.
AfD juga kerap mendapat sorotan karena simpati yang dianggap pro-Rusia, sehingga muncul tuduhan bahwa partai tidak dapat dipercaya memegang informasi intelijen sensitif. Dalam konteks Saxony-Anhalt, pernah terlihat cangkir bergambar tentara Rusia di kantor figur AfD Hans-Thomas Tillschneider; ia menjelaskan benda itu hanyalah suvenir dan menyatakan, “it’s not our war”.
Berita Terkait
Ketika Berlin mempublikasikan tuduhan terhadap Moskow atas serangan drone yang gagal di Leipzig/Halle Airport, pihak Kremlin membantah keterlibatan. Di saat yang sama, sumber keamanan Jerman memperingatkan bahwa kampanye disinformasi yang didukung Rusia dinilai meningkat, sering kali menarget lawan-lawan AfD.
Menurut perwakilan Moskow, yang terjadi disebut “anti-Russian hysteria”. Pada titik ini, penting dicatat bahwa pemerintah negara bagian memiliki kewenangan yang signifikan, termasuk untuk pendidikan, kepolisian, dan kebudayaan, sementara delegasi mereka duduk di kamar kedua parlemen federal, yakni Bundesrat.
Karena itu, bila AfD membentuk pemerintahan di Saxony-Anhalt, perubahan bisa diterapkan pada level lokal sekaligus memperbesar suara partai tersebut di panggung nasional. AfD memang terkuat di bekas wilayah Jerman Timur, namun partai itu juga memimpin dalam survei di tingkat nasional.
AfD sendiri pernah didirikan pada 2013 dengan corak euroskeptik. Kini, peringatan muncul bahwa partai tersebut telah bergeser hingga mendekati, atau menarik dukungan dari, kelompok-kelompok yang dinilai ekstrem.
Contoh yang disebut adalah momen di sebuah rapat AfD ketika terlihat seorang pria mengenakan kaus bertuliskan “Arisch”, istilah Jerman yang digunakan Nazi untuk mempromosikan teori palsu tentang ras unggul. Namun BBC menyatakan tidak diketahui apakah orang tersebut pendukung partai, anggota, atau sekadar hadirin, karena ia tidak bersedia berbicara.
Di Saxony-Anhalt, AfD juga secara resmi diklasifikasikan sebagai kekuatan politik sayap kanan ekstrem. Intelijen domestik menilai cabang lokalnya dipengaruhi “racist ideology” dan bertujuan anti-konstitusional, sementara AfD menolak penetapan tersebut dengan menyebutnya sebagai tuduhan politis dan menolak perbandingan dengan Nazisme.
Dalam konteks kekuasaan, Siegmund tidak menutup kemungkinan menghapus lembaga intelijen domestik (BfV) di negara bagian tersebut apabila AfD meraih mayoritas. Di saat yang sama, partai-partai lain tidak bersedia berkoalisi dengan AfD, sebuah pola yang dikenal sebagai Brandmauer atau “firewall” untuk mencegah sayap kanan ekstrem masuk pemerintahan.
Karena itu, AfD perlu mencari mayoritas di parlemen agar bisa memastikan jalur kekuasaan. Di Saxony-Anhalt, fokusnya bukan lagi sekadar mencari celah di firewall, melainkan mencoba melewatinya melalui hitungan politik yang lebih rumit.
Keberhasilan upaya tersebut diperkirakan bergantung pada apakah partai-partai kecil mampu memperoleh suara cukup untuk melampaui ambang 5% guna masuk parlemen. Dengan kata lain, matematika politik di ruang perwakilan akan menentukan apakah AfD bisa membentuk pemerintahan, bukan sekadar menjadi penantang utama.
Jika AfD benar-benar meraih kemenangan yang menentukan, partai yang selama ini memperluas dukungan lewat retorika anti-sistem akan menghadapi ujian yang belum pernah mereka hadapi sebelumnya. Keluhan yang selama ini disandarkan pada pemerintah federal di Berlin mungkin tetap muncul, namun setelah AfD berada di posisi kekuasaan, narasi kritik tidak lagi sepenuhnya “di luar jangkauan”.
Meski Saxony-Anhalt berstatus negara bagian yang relatif kecil dari sisi populasi, wilayah ini kini menjadi tuan rumah pemilu yang bisa berdampak besar. Hasilnya akan menjadi penentu apakah AfD hanya terus menekan dari pinggir kekuasaan, atau untuk pertama kalinya masuk dan memerintah pada level negara bagian di era pascaperang.








