jurnalistik.co.id – Perdebatan hangat muncul setelah legenda sepak bola Inggris Michael Owen mengatakan bahwa ia “never ever” tidak mengucapkan “I love you” kepada anak-anaknya. Dalam sebuah wawancara podcast dengan Jamie Laing, Owen menekankan bahwa rasa sayangnya menurutnya sudah terlihat melalui tindakan.
Owen menjelaskan, “I don’t say anything like that,” lalu menambahkan alasan yang ia yakini selama ini. Ia berkata, “I just assume my actions would show them that I love them. I think most of us are like that.” Baginya, kata-kata bukan satu-satunya penanda kasih, dan ia percaya mayoritas orang tua bekerja dengan cara yang serupa.
Namun, komentar Owen langsung memantik reaksi beragam. Sejumlah orang tua mengaku terkejut—bahkan ada yang menegaskan mereka selalu memastikan anak mendengar perasaan mereka secara jelas. Di sisi lain, ada juga orang tua yang merasa sejalan dengan pandangan Owen, bahwa tindakan dapat menjadi bukti utama kedekatan emosional.
Kapan “mengatakan” dan “membuktikan” sama-sama penting?
Psikolog pendidikan Dr Patricia Britto menjelaskan kepada BBC bahwa memberi anak rasa dicintai tidak bisa disimpulkan hanya dari ada atau tidaknya tiga kata itu. Menurutnya, yang paling penting adalah apakah anak merasa “safe, valued and emotionally secure”.
Britto menegaskan, ketidakhadiran kalimat tertentu tidak otomatis berarti anak mengalami kerusakan psikologis. “We shouldn’t conclude that children have been psychologically damaged and harmed simply because they don’t hear those words,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa anak bisa merasakan cinta dengan sangat jelas melalui perilaku orang tua.
Lebih jauh, Britto menyebut tantangan yang sering luput: apakah kasih sayang itu “consistently communicated”. Pesan cinta bisa datang dari kata maupun tindakan, bahkan lebih kuat jika keduanya saling melengkapi. Ia memberi contoh yang tegas: jika seseorang mengatakan “I love you, I love you” berulang-ulang, tetapi tidak pernah hadir saat momen penting anak—misalnya pertandingan sepak bola atau pertunjukan—maka yang diterima anak bisa jadi justru “empty words.”
Di titik ini, perbincangan dengan Aaron Dale, pembawa podcast Raisingboys2men sekaligus penulis buku parenting, mengarah pada gagasan yang sama. Dale setuju bahwa kata dan tindakan tidak perlu saling bersaing. Ia menekankan, “It’s not words or actions – they shouldn’t compete against each other, they should complement each other.” Dale menambahkan, “Words are to speak the message and actions are the evidence.”
Dale juga menyinggung pengalaman pribadinya. Ia mencontohkan bahwa ayahnya kerap mengatakan “I love you” bahkan setelah melakukan sesuatu yang mengecewakan—sehingga makna kalimat tersebut bisa tampak lebih kecil, terutama bagi penerima yang sedang merasakan penurunan kualitas tindakan.
Reaksi orang tua: ada yang menganggapnya “awful”, ada yang menganggapnya biasa
Meski diskusi ini bersifat personal, dampaknya meluas karena banyak orang merasa kalimat “I love you” memegang fungsi yang berbeda-beda. Seorang ayah yang memiliki anak perempuan berusia tujuh tahun menyatakan ia terkejut dengan komentar Owen. Ia menyebutnya “awful” dan mengatakan, “You should always tell your children you love them no matter what, when they’re bad, when they’re good.”
Di media sosial, wacana tersebut juga muncul dalam bentuk pesan yang ditulis para pengguna lain. Salah satu komentar berbunyi, “Parents and potential parents do not listen to this man. Tell your kids you love them everyday, even when it annoys them.” Intinya, mereka menganggap frekuensi pengucapan menjadi bagian penting dari jaminan emosional anak.
Berita Terkait
Di sisi lain, ada pula yang merasa “tidak ada masalah besar” karena cinta dapat ditunjukkan dengan cara yang lain. Sebagian orang menilai apa yang dilakukan jauh lebih kuat daripada apa yang diucapkan, terutama ketika tindakan itu konsisten dan hadir dalam keseharian anak.
Gender, generasi, dan budaya membentuk definisi “cara menjadi ayah”
Dalam pandangan publik, tidak ada keraguan bahwa Owen mencintai anak-anaknya. Trailer untuk acara barunya, Meet the Owens, memperlihatkan sekilas kehidupan rumah tangga yang tampak hangat bersama istri dan anak-anaknya. Selain itu, pada 2024 ia juga pernah berbicara menyentuh soal putranya, James, yang mengalami gangguan penglihatan, dengan mengatakan: “If I could give him my eyes… I would.”
Meski begitu, ketika Laing mendorong alasan mengapa Owen tidak membiarkan kalimat cinta mengalir dengan mudah, Owen mengaku bahwa ia ingin bisa lebih terbuka secara emosional. Ia berkata ia “would love to be a little bit soft.” Dalam lanjutan, “I’m definitely getting softer,” katanya, “but still not soft enough to say anything like that.”
Pemakaian kata “soft” untuk menggambarkan keinginan mengucapkan cinta sering dibaca sebagai cerminan sikap lama yang memengaruhi banyak ayah. Dale dan Dr Britto sama-sama mengaitkan pola tersebut dengan latar berbeda: budaya, kelas sosial, gender, serta perbedaan generasi.
Dale menilai ada bagian “dangerous” dalam keyakinan tentang apa yang “men” harus lakukan dan apa yang seharusnya tidak dilakukan. Ia berkata, “I think that’s the dangerous part there,” lalu menambahkan bahwa peran ayah sering dipersempit menjadi sekadar “provide.” Menurut Dale, sebenarnya ayah dapat lebih dari itu: “Men are much more than just providers… what about our emotional capacity and willingness to have conversations and be there as fathers? And maybe we can’t provide, but you know what? Our presence is at full capacity.”
Ia juga menambahkan bahwa gaya pengasuhan biasanya “stems from somewhere”, termasuk apakah seseorang dulu sering mendengar dirinya dicintai saat masih kecil.
Britto menambahkan bahwa ekspektasi gender bukan satu-satunya faktor. Menurutnya, dalam beberapa budaya, frasa “I love you” bahkan tidak lazim dipakai. Ia mengatakan, “In some cultures they don’t even use those words [I love you] at all,” dan orang tua mungkin memilih pertanyaan seperti “Have you eaten?” sebagai tanda perhatian, bukan sebagai kalimat cinta langsung.
Britto mencontohkan pengalamannya sendiri: “As an African myself, in Nigerian culture parents don’t always say ‘I love you’… but I still felt loved.” Ini menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan mungkin berbeda, tetapi perasaan yang sampai pada anak bisa tetap utuh.
Kesimpulannya: cinta bukan cuma kalimat, melainkan rasa aman
Di tengah perbedaan cara menyayangi, sejumlah komentar di media sosial menegaskan bahwa banyak keluarga membentuk “kebiasaan merasa dicintai” lewat tindakan. Ada yang menulis ayahnya tidak pernah mengucapkan kata-kata tersebut, tapi “it was also never in doubt.” Ada pula yang berpendapat, “What’s the big deal? My dad – and I’m sure most dads of our generation – didn’t. He did something far, far better than emotional words he ‘showed us’ by his actions.”
Britto menutup dengan fokus yang lebih luas: persoalannya bukan sekadar “kata” versus “tindakan”, melainkan apakah anak merasa memiliki tempat dan keterikatan. “Do they feel loved?” tanyanya. Ia melanjutkan, “Do they feel wanted? Do they feel that they matter,” bukan hanya sekadar mendengar kalimat tertentu.
Dengan kata lain, perdebatan yang dipicu Owen lebih berperan sebagai cermin tentang nilai budaya dan pola keluarga. Yang menentukan akhirnya adalah bagaimana anak dibesarkan agar aman secara emosional—baik melalui kata, melalui tindakan, maupun gabungan keduanya yang konsisten.












