Internasional

Anjing liar catat perjalanan rekor 2.500 mil melintasi Afrika, tiga bersaudara jadi harapan baru

×

Anjing liar catat perjalanan rekor 2.500 mil melintasi Afrika, tiga bersaudara jadi harapan baru

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Wild dogs defy the odds with record 2,500-mile trek across Africa

jurnalistik.co.id – Anjing liar Afrika (African wild dogs) baru saja mencatat perjalanan terjauh yang pernah didokumentasikan untuk mamalia darat di benua tersebut saat mereka mencari pasangan. Dalam studi yang melaporkan temuan itu, tiga individu “bersaudara” menyelesaikan perjalanan jauh melintasi Afrika dengan total sekitar 2.485 mil (sekitar 4.000 km).

Jarak rekor tersebut dinilai memberi sinyal bahwa satwa yang hidup berpindah masih mungkin bertahan menempuh hamparan luas meski tekanan dari manusia terus meningkat. Para ilmuwan juga menekankan, keberhasilan perjalanan mereka tidak berarti ancaman akan hilang—sebab kematian akibat jerat ilegal tetap menjadi risiko besar.

Ketiga “bersaudara” bergerak dengan pola zigzag melintasi wilayah Zambia. Sepanjang rute, mereka berupaya menavigasi lanskap yang makin dibentuk oleh aktivitas manusia, sekaligus menghindari berbagai hambatan, termasuk area yang padat seperti Ibu Kota Lusaka dan kawasan industri yang sangat berkembang.

Jalur yang mereka pilih menjadi bagian penting dari cerita. Penelitian ini menyebut pergerakan itu tidak sekadar soal jarak, melainkan juga tentang cara melintasi “ruang-ruang” yang masih memungkinkan satwa bergerak di antara kantong-kantong habitat.

Jauh dari sekadar upaya mencari pasangan, perilaku yang ditunjukkan anjing liar itu dikenal sebagai dispersals. Perjalanan satu arah untuk mencari pasangan berbeda dari migrasi musiman yang bergerak bolak-balik mengikuti ketersediaan makanan atau habitat.

Dalam konteks pembanding, Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Spesies yang Bermigrasi (UN Convention on Migratory Species) mengidentifikasi migrasi terpanjang di Afrika pada wildebeest yang berpindah secara musiman antara Tanzania dan Kenya, dengan jarak lebih dari 400 mil. Di luar Afrika, caribou disebut melakukan migrasi darat terpanjang untuk satu perjalanan, yakni 839 mil dalam hitungan pulang-pergi, sedangkan grey wolves pernah tercatat menempuh lebih dari 4.350 mil selama setahun.

Walau tiga “bersaudara” mampu menyelesaikan perjalanan mereka, studi itu juga memotret sisi kelam dari perjalanan satwa liar yang bergerak di ruang yang terfragmentasi. Dalam kajian menggunakan kerah GPS, anjing liar lain yang turut dipantau justru mati karena jerat ilegal.

Temuan ini memperlihatkan bahwa rekor jarak tidak otomatis berarti rekor keselamatan. Ancaman dari jerat menjadi titik balik yang menentukan apakah satwa dapat meneruskan langkahnya atau justru berhenti di tengah perjalanan.

Di luar kelompok “bersaudara”, studi juga mencatat upaya perjalanan oleh “tiga saudari” yang nyaris sama epiknya, namun tidak berakhir sempurna. Salah satu dari tiga betina terjebak dalam jerat, sehingga perjalanan kelompok tersebut tidak mencapai penyelesaian penuh.

Anjing liar Afrika termasuk predator langka dengan populasi sekitar 6.000 individu yang tersisa di alam liar. Mereka hidup dalam kelompok sosial yang erat, berburu secara bersama, serta dikenal dengan kemampuan menjelajah untuk menemukan wilayah baru dan peluang berkembang biak dengan kelompok lain.

Karena anjing liar tidak dapat berkembang biak dalam kelompok tempat mereka dilahirkan, mereka perlu mencari jalan untuk menemukan pasangan di luar “komunitas asal”. Pada usia sekitar dua atau tiga tahun, sebagian individu memulai perjalanan mencari pasangan, sementara sebagian lain menunggu hingga memperoleh peluang melalui dinamika kelompok.

Pada kasus “bersaudara” itu, jarak yang ditempuh menunjukkan skala mobilitas yang sangat berbeda dibanding jarak garis lurus. Mereka menempuh sekitar 260 mil dalam garis lurus selama delapan bulan, namun total perjalanan menjadi hampir sepuluh kali lipat saat melintasi lanskap yang terpecah-pecah.

Penelitian ini menilai bahwa rute yang ditempuh melalui Zambia memberi gambaran tentang kemungkinan konektivitas populasi antarwilayah. Temuan itu menunjukkan, populasi anjing liar di Afrika bagian timur dan selatan mungkin tetap lebih saling terhubung dibanding yang sebelumnya diperkirakan para konservasionis.

Scott Creel dari Montana State University, penulis utama studi yang telah meneliti anjing liar Afrika sejak 1991, menyampaikan bahwa hasil ini perlu dibaca dengan dua sisi sekaligus. Ia mengatakan, “Masuk akal untuk percaya bahwa setiap populasi anjing liar besar di Afrika timur dan selatan, selain yang berada dalam pagar pembatas (fenced ones), berpotensi terhubung.”

Namun, Creel juga menekankan konteks ancaman yang masih mengkhawatirkan. Ia mengingatkan, “dalam konservasi, ‘gelasnya setengah kosong dan gelasnya setengah penuh’,” seraya menyoroti bahaya jerat untuk perburuan.

Dalam catatan yang sama, meski tiga jantan berhasil menyelesaikan perjalanan luar biasa itu, dua dari tiga betina tidak selamat. Peneliti menemukan pola ketika anggota kelompok yang bertahan berkali-kali kembali ke lokasi yang sama, sebuah perilaku yang sering menjadi tanda bahwa rekan mereka telah mati.

Pola ini penting karena membantu menjelaskan apa yang terjadi setelah perjalanan terhenti. Dengan kata lain, kegagalan tidak selalu terlihat sebagai “hilang begitu saja”, melainkan bisa dikenali melalui perilaku kelompok yang berulang di titik tertentu.

Studi yang dipublikasikan di jurnal Ecology ini turut memperkuat seruan untuk menyiapkan koridor atau hamparan lahan alami di luar kawasan lindung. Gagasan utamanya adalah menghubungkan area habitat yang terpisah oleh jalan raya, kota, maupun lahan pertanian—sehingga pergerakan satwa tidak berhenti di batas-batas buatan.

Bruce Ellender, salah satu penulis studi dan direktur Kafue Conservation untuk lembaga amal lingkungan The Nature Conservancy, menegaskan bahwa spesies yang menjelajah wilayah luas membutuhkan lanskap yang saling terhubung agar dapat bertahan di masa depan. Ia mengatakan, “Kita tidak boleh membayangkan kawasan lindung sebagai pulau-pulau dan berharap kawasan itu tetap fungsional dalam jangka panjang. Kita perlu berpikir jauh lebih luas.”

Dengan demikian, perjalanan rekor sejauh 2.485 mil bukan hanya kisah tentang daya tahan seekor hewan. Ia menjadi cerminan bahwa harapan untuk kelangsungan satwa tetap ada, tetapi harapan itu hanya dapat diwujudkan jika hambatan buatan manusia dan jerat ilegal dapat dikurangi secara serius.

Di tengah meningkatnya fragmentasi habitat, studi ini mengajukan pertanyaan yang lebih besar: apakah ruang yang tersisa cukup untuk pergerakan generasi berikutnya. Jawabannya, menurut temuan dan pernyataan para peneliti, bergantung pada seberapa luas kita membangun konektivitas ekologis yang benar-benar dapat dilalui.