Peristiwa

Konservasi Mangrove Simanja demi Memulihkan Ekosistem Pesisir

×

Konservasi Mangrove Simanja demi Memulihkan Ekosistem Pesisir

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Konservasi Mangrove Simanja Pulihkan Ekosistem Pesisir

jurnalistik.co.id – Di Cilacap, laut tidak hanya menjadi bentang alam, tetapi juga ruang hidup yang menghidupi kegiatan harian masyarakat pesisir sekaligus tempat bertemunya budaya dan aktivitas ekonomi. Di sana, harapan warga juga bertumpu pada keanekaragaman hayati yang hidup di kawasan pesisir.

Namun ketergantungan itu datang bersama tantangan yang nyata. Cuaca, kompleksitas menjaga ekosistem penyangga, hingga persoalan akses energi ikut memengaruhi keseharian masyarakat pesisir.

Dalam beberapa waktu terakhir, perubahan kondisi lingkungan, persoalan sampah, dan abrasi juga menghantui wilayah pesisir. Kondisi tersebut membuat peran ekosistem alami menjadi semakin penting untuk menjaga kestabilan garis pantai.

Di tengah kebutuhan itu, hutan mangrove hadir sebagai benteng alami yang bekerja menahan gelombang, membantu menjaga garis pantai, serta menopang biota laut di pesisir. Upaya konservasi mangrove kemudian menjadi salah satu cara untuk merawat kembali ekosistem yang memberi manfaat langsung kepada warga.

Kawasan Konservasi Mangrove Jagapati (Simanja) di Cilacap menguatkan gagasan tersebut melalui pemanfaatan ekowisata dan pelestarian yang melibatkan partisipasi masyarakat lokal. Kawasan ini menjadi bagian dari Desa Energi Berdikari Jagapati, program pembinaan masyarakat pesisir dari PT Pertamina Patra Niaga IT Cilacap.

Program itu diarahkan pada energi terbarukan, penguatan usaha berbasis bakau, pengembangan perikanan, serta konservasi lingkungan pesisir. Simanja juga pernah menghadapi abrasi dan berbagai persoalan lingkungan lainnya, sehingga perawatan ekosistemnya harus dilakukan secara berkelanjutan.

Ketua Kelompok Nelayan Sida Asih, Naswan, menyampaikan bahwa upaya menjaga ekosistem pesisir tidak bisa hanya bergantung pada satu pihak. Ia mendorong langkah nyata agar kawasan mangrove dapat dipulihkan sekaligus dimanfaatkan sebagai sumber kehidupan warga.

“Kami mulai tahun 2000, awalnya kawasan ini gundul, lalu kita lakukan penghijauan, awalnya saya tanam 2 hektare, awalnya tanah perhutani, kini sudah ada 32 orang di kelompok tani dengan beragam kegiatan, seperti pembibitan bakau, budidaya kakap merah, kerapu, dan kepiting,” jelas dia kepada CNBC Indonesia, Sabtu (5/9/2026).

Menurut Naswan, hasil pengelolaan sumber daya juga diarahkan untuk meningkatkan nilai ekonomi. Ikan dan kepiting dijadikan kuliner untuk wisatawan oleh ibu-ibu yang terlibat dalam kegiatan kelompok.

Upaya penguatan kawasan tidak berhenti pada penanaman saja. Naswan juga melakukan pembibitan mangrove dengan beragam cara, sekaligus menjadikan proses tersebut sebagai bentuk pengelolaan stok dan perluasan manfaat bagi wilayah lain.

“Alhamdulillah jadi stock, dan kami tahun lalu 2.000 stok untuk daerah lain. Kami juga menangani banyak perusahaan, dinas, instansi, hingga sekolah,” rinci Naswan.

Simanja sebagai ekowisata edukatif

Simanja disebut sebagai lokasi wisata yang menawarkan edukasi mangrove dengan beragam kegiatan. Di dalamnya terdapat edukasi mangrove, pembibitan mangrove, serta aktivitas seperti tracking mangrove dan susur sungai.

Kegiatan lain yang disebutkan dalam program wisata tersebut mencakup budidaya lebah, tambak silofishery, dan spot foto. Dengan pilihan aktivitas yang beragam, pengunjung tidak hanya datang untuk berwisata, tetapi juga belajar mengenai ekosistem mangrove.

Selain aktivitas edukatif, lokasi ini juga mempromosikan sekaligus mengedukasi pengunjung tentang pentingnya keberlanjutan hutan mangrove. Melalui pemahaman yang lebih baik mengenai keunikan dan manfaatnya, ekowisata ini diharapkan turut berperan dalam konservasi alam dan perlindungan ekosistem pesisir.

Tujuan akhirnya adalah agar pengunjung dapat ikut mengambil peran sebagai agen perubahan dalam pelestarian lingkungan. Dengan demikian, kawasan mangrove tidak berhenti menjadi ruang alami yang pasif, melainkan menjadi penggerak perubahan yang lebih terhubung dengan masyarakat.

Langkah di Simanja menunjukkan bahwa restorasi ekosistem pesisir dapat berjalan seiring upaya pemberdayaan. Konservasi mangrove yang terkelola, ditopang oleh partisipasi warga, serta disertai kegiatan ekowisata, memberi arah yang lebih jelas bagi pemulihan lingkungan sekaligus keberlanjutan usaha di wilayah pesisir Cilacap.