Internasional

Pilot AU AS yang ditembak jatuh di Iran mengenang “free-falling” pada wawancara perdana

×

Pilot AU AS yang ditembak jatuh di Iran mengenang “free-falling” pada wawancara perdana

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: US aviator shot down over Iran recalls 'free-falling' in first interview

jurnalistik.co.id – Pilot Angkatan Udara AS yang pesawatnya ditembak jatuh di Iran pada April menceritakan kembali momen “free-falling” dalam wawancara pertamanya, sekaligus menggambarkan proses penyelamatan yang berbahaya dan penuh perlawanan.

Dalam segmen wawancara yang ditayangkan di CBS News melalui program 60 Minutes pada Minggu, seorang pilot F-15E menyampaikan pengalaman jatuh tanpa perlindungan parasut yang berfungsi. Ia menyebut kondisi itu sebagai sesuatu yang paling menakutkan yang pernah ia lihat.

Pilot tersebut tidak disebutkan namanya secara langsung dalam wawancara, namun di segmen CBS ia diidentifikasi dengan sebutan “Bravo”. Ini menjadi pertama kalinya salah satu pilot yang terlibat dalam insiden April tersebut berbicara mengenai ordeal yang mereka alami.

Bravo mengatakan ia sempat melihat kondisi yang tidak sesuai harapannya tepat sebelum menyentuh tanah. “At one point, when I looked up and saw no parachute, that was the most terrifying thing I’ve ever seen,” ujarnya.

Menurutnya, saat parasut mengalami kerusakan, ia tidak berfokus pada kecepatan jatuh. “Free-falling is a good way to put it,” katanya, seraya menambahkan, “I wasn’t focused on the speed at which I was falling. I was instead focused on trying to correct the problems that were in front of me and doing anything I could to unfurl or pull pieces of the parachute loose.”

Ia menggambarkan upayanya sebagai tindakan untuk memperbaiki masalah yang menghalangi parasut bekerja, sambil tetap berusaha menjaga kontrol terhadap situasi yang berubah cepat. Bravo menyebut kelangsungan hidupnya “a miracle”, meski ia mengalami patah tulang punggung serta cedera di bahu dan lengan.

Kecepatan saat ia menghantam permukaan tanah disebut berada “somewhere between 70 and 100mph (113 to 161km/h)”. Sementara itu, pilot lain yang juga ditembak, yang diidentifikasi sebagai “Alpha”, memilih untuk tidak diwawancarai oleh CBS.

Dalam rekonstruksi insiden, disebutkan pesawat F-15E dua kursi itu dijatuhkan oleh sebuah rudal berpemandu bahu. CBS melaporkan bahwa jet tersebut bernilai sekitar $30 juta (£22 juta), sedangkan rudal yang dipakai diperkirakan menelan biaya sekitar $100.000.

Setelah dua awak berhasil melontat dan berpisah, keduanya harus menghindari pasukan Iran sambil menunggu proses penjemputan oleh pasukan khusus AS. Bravo menuturkan, meski terluka, ia tetap berjalan dan mendaki hingga titik tinggi sebuah punggung bukit yang menjulang, karena ia cemas akan keberadaan pasukan Iran di sekitar.

Ia juga menyampaikan kalimat yang menekankan pentingnya menjaga sikap bahkan dalam situasi yang sulit. “Never let a lack of motivation put you on Iranian TV,” kata Bravo.

Penyelamatan Alpha dilaporkan terjadi dalam waktu enam jam, dengan operasi yang melibatkan pertempuran intens. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan, “It was a gun fight all the way in and all the way out,” lalu menegaskan, “But they got Alpha back.”

Adapun Bravo baru dievakuasi setelah 48 jam berada di belakang garis musuh. Dalam keterangan berbeda, Komandan Pusat AS (Central Command) Laksamana Brad Cooper menyebut ada lebih dari 90 personel militer AS di darat di dalam Iran pada fase operasi tersebut.

Cooper juga menekankan bahwa kejadian ini menandai “first time in 46 years that American forces were operating inside Iran”. Menurut laporan, berbagai pesawat dan helikopter yang dibutuhkan untuk evakuasi terjebak di pasir gurun, sehingga harus dihancurkan, sementara pasukan khusus menunggu tim penyelamatan cadangan.

CBS melaporkan bahwa dua pesawat AS yang kemudian dihancurkan memiliki nilai sekitar $100 juta masing-masing. Laporan yang sama menyebut beberapa helikopter “Little Bird” juga perlu dimusnahkan agar teknologi di dalamnya tidak dapat diperoleh Iran.

Insiden ini terjadi sekitar lima minggu setelah perang melawan Iran dimulai oleh AS dan Israel. Kini, memasuki bulan ketujuh, perang tersebut disebut makin tidak populer di kalangan publik AS seiring mendekatnya masa kampanye menjelang pemilihan sela parlemen (midterm elections) pada November.

Ketidakpuasan itu, menurut laporan, banyak dipicu lonjakan harga energi global yang berdampak lanjutan pada berbagai kebutuhan lain. Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump memperkirakan perang akan terus berlanjut hingga setidaknya hari pemilihan pada 3 November.

Wawancara Bravo memperjelas bagaimana sebuah insiden tak hanya soal benturan di udara, tetapi juga soal pilihan bertahan hidup di medan yang jauh, sambil menunggu operasi penyelamatan yang harus menembus hambatan dan risiko besar dari pihak lawan.