jurnalistik.co.id – Arab Saudi kini berada dalam situasi yang makin menyempit ketika menghadapi langkah ofensif kelompok Houthi di Yaman.
Setiap arah respons yang dipilih disebut akan membawa konsekuensi besar, baik dari sisi militer maupun politik.
Berkurangnya ruang gerak di medan perang
Menurut para pakar, Riyadh tidak sedang mencari jalan tengah tanpa risiko, melainkan berada pada persimpangan yang sama-sama berpotensi mahal.
Mohammed Al-Basha, penasihat risiko yang berbasis di Washington DC, menilai eskalasi terbaru menunjukkan arah balasan berskala besar tidak lagi bisa dihindari.
“Pada titik ini mereka tidak punya pilihan,” ucapnya.
Konflik memanas setelah Houthi meraih capaian yang dianggap strategis, yakni merebut Pulau Perim di mulut Laut Merah serta kota pelabuhan Mocha dalam sepekan terakhir.
Langkah itu diarahkan untuk menguasai selat Bab al-Mandeb, yang dikenal sebagai rute energi utama global.
Di sisi lain, tekanan terhadap infrastruktur minyak turut menambah kompleksitas keputusan Arab Saudi.
Pipa minyak utama Arab Saudi terpaksa ditutup usai dibombardir oleh pesawat tak berawak (drone) dari wilayah Irak.
Meski belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab, Presiden AS Donald Trump langsung menuding Teheran sebagai dalang, dengan alasan proksi Iran dikenal beroperasi di Irak.
Rentetan serangan ini memperkuat kekhawatiran awal Riyadh bahwa ancaman terkoordinasi dapat datang dari berbagai front milisi proksi Iran.
Dalam konteks ketahanan pasokan, Arab Saudi sebelumnya makin intensif memanfaatkan jalur pipa Timur-Barat setelah perang memaksa penutupan Selat Hormuz.
Perubahan rute tersebut disebut mengalihkan sekitar 5 juta barel minyak per hari dari Teluk Persia.
Bagi Riyadh, setiap gangguan pada jalur itu berarti bukan hanya kerugian operasional, tetapi juga sinyal bahwa tekanan dapat ditingkatkan kapan saja.
Opsi eskalasi militer berisiko tak berujung
Secara teori, Arab Saudi memiliki militer modern yang mampu memberi keunggulan terhadap Houthi.
Namun, kelompok yang dulu dipandang sebagai milisi compang-camping telah menghabiskan bertahun-tahun untuk mengasah taktik tempurnya.
Popularitas Houthi juga disebut meroket di Timur Tengah setelah menyerang Israel sebagai balasan atas agresi di Gaza sejak 7 Oktober lalu.
Berita Terkait
Peneliti tamu di Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri, Cinzia Bianco, menyoroti bahwa peningkatan eskalasi militer membawa kerugian besar bagi kerajaan.
“Arab Saudi benar-benar memiliki pilihan terbatas dalam konflik dengan Houthi,” tuturnya.
Bianco menilai jika Riyadh memilih gerak frontal, situasinya dapat berkembang menjadi konflik terbuka yang tak berujung, seperti perang saudara Yaman.
Ia mengingat perang saudara di Yaman telah memicu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.
Risiko lain yang ditekankan adalah potensi terseretnya Iran secara langsung.
Dalam skenario tersebut, pada akhirnya Arab Saudi berpeluang dipaksa memasuki medan perang sebagai kombatan di pihak AS.
Di saat bersamaan, keterlibatan militer AS justru tampak tidak menjadi opsi utama.
Sumber menyebut Putra Mahkota Saudi telah dua kali menelepon Trump untuk meminta bantuan serangan terhadap Houthi, tetapi permintaan itu ditolak.
“Mereka (Houthi) jauh lebih suka jika kami tidak terlibat, dan mereka membiarkan sebagian besar kapal lewat. Hanya ada satu negara yang membuat mereka tidak terlalu senang, dan kami akan meluruskannya,” tegas Trump.
Meskipun menolak serangan militer langsung, sumber lain menyebut AS telah mengirim sekitar 100 penasihat militer ke Arab Saudi khusus untuk memberi dukungan intelijen.
Mantan penasihat pemerintah Saudi, Nawaf Obaid, menegaskan bahwa permintaan Saudi pada intinya adalah untuk intelijen, bukan serangan udara Amerika.
Buntu di jalur politik
Selain jalan militer, opsi politik juga dinilai menghadapi kebuntuan.
Kepala Kantor Berita Saba yang dikelola Houthi, Nasr al-Din Amer, menyatakan kelompoknya akan terus menekan Saudi secara militer sampai blokade ekonomi dan perjalanan di Yaman utara dihentikan.
“Menekan sampai mereka (Saudi) mematahkan pengepungan yang diterapkan secara tidak adil oleh musuh Saudi selama 12 tahun,” paparnya.
Bagi Bianco, kesabaran strategis Saudi selama ini tidak lagi menghasilkan jalan keluar yang berarti.
Ia menyebut kerajaan tampak telah “menghabiskan solusi politiknya”.
Sementara itu, Al-Basha melihat kesepakatan damai dengan Houthi akan dipandang sebagai bentuk penyerahan diri yang merugikan reputasi Riyadh.
Di tengah ketegangan, analis geopolitik Saudi Salman Al-Ansari meyakini serangan balasan dari pemerintah Yaman yang didukung Saudi sudah di depan mata.
“Riyadh kini mengharapkan masyarakat internasional untuk memperbaiki arah dan mendukung sepenuhnya pembebasan Yaman dari milisi jahat ini,” pungkasnya.












