Internasional

Tiga Alasan Negara-Negara Arab Mulai Cemas: Dugaan Permainan Ganda Iran lewat Proksinya

×

Tiga Alasan Negara-Negara Arab Mulai Cemas: Dugaan Permainan Ganda Iran lewat Proksinya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 3 Alasan Negara-negara Arab Mulai Ketakutan dengan Permainan Ganda Iran dengan Proksinya

jurnalistik.co.id – RIYADH—Sultan Barakat, profesor kebijakan publik di Universitas Hamad Bin Khalifa, menilai negara-negara Teluk mulai dipenuhi kekhawatiran terhadap motif Iran di kawasan. Ia menyebut dugaan bahwa Teheran menggunakan kelompok proksi untuk mengatur situasi, sambil mendorong penyelesaian konflik melalui jalur dialog damai.

Menurut Barakat, kekhawatiran itu menguat setelah rangkaian kejadian yang dinilai memberi sinyal “permainan ganda”. Ia juga menekankan bahwa pertemuan yang direncanakan antara negara-negara Teluk dan Iran di Oman justru batal, menyusul serangan yang melibatkan kelompok Houthi.

“Arab Saudi dan pihak lain tahu bahwa meskipun mereka tidak terlibat secara langsung, mereka memiliki sarana dan wewenang atas beberapa aktor tersebut—baik di Irak maupun Yaman—dan mereka sebenarnya bisa saja memilih untuk meredam tindakan mereka,” ujar Barakat kepada Al Jazeera.

Dalam penilaiannya, yang terutama membuat pihak Saudi gelisah bukan hanya keberadaan aktor-aktor tersebut, tetapi juga kapan tindakan itu muncul. Ia menyoroti bahwa sebelum masa pembicaraan di Oman berlangsung, serangan kelompok Houthi disebut terjadi selama beberapa hari di berbagai wilayah Yaman dan Arab Saudi.

“Namun, menurut saya, hal yang membuat pihak Saudi khawatir adalah waktu terjadinya semua ini. Tiba-tiba, kelompok Houthi melihat peluang ini; mereka bergerak ke pantai barat Yaman dan mengancam lalu lintas pelayaran di Laut Merah… dan hal itu pastinya memberi kesan bahwa Iran terus memainkan permainan ganda,” katanya.

Barakat menjelaskan bahwa situasi tersebut membawa dua gambaran yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, ada undangan agar pihak-pihak duduk sebagai negara berdaulat untuk membicarakan keamanan kolektif. Di sisi lain, tekanan disebut terus dijalankan lewat jalur tidak langsung melalui sekutu-sekutu.

“Di satu sisi, mereka [pihak Iran] mengundang negara-negara tersebut—sebagai negara berdaulat yang independen—untuk duduk bersama dan berdialog secara langsung mengenai keamanan kolektif. Di sisi lain, mereka terus memberikan tekanan secara tidak langsung melalui sekutu-sekutu mereka.”

Barakat menempatkan pembatalan pertemuan itu dalam kerangka yang sama: peluang diplomasi tidak berjalan bersamaan dengan meredanya tekanan di lapangan. Ia menggambarkan bahwa serangan yang berlangsung beruntun membuat sinyal yang ditangkap Riyadh tampak seperti bagian dari skenario yang lebih luas.

Hal ini, menurut Barakat, yang kemudian menjadi salah satu alasan negara-negara Arab mulai menaruh perhatian lebih besar pada dugaan permainan ganda tersebut. Kekhawatiran itu bukan semata pada keterlibatan langsung, melainkan pada cara pengaruh dimainkan melalui proksi di wilayah konflik.

Di jalur alasan berikutnya, Barakat menilai pola serangan yang terus berlanjut juga menjadi faktor penting. Ia menyebut bahwa kelompok Houthi Ansar Allah menyatakan bahwa serangan terhadap Arab Saudi akan terus berlanjut sampai Saudi menghentikan kampanye pengeboman udara terhadap posisi-posisi yang dikuasai oleh kelompok Yaman tersebut.

Dalam keterangan Barakat, serangan-serangan itu dilakukan menggunakan pesawat nirawak (drone) dan rudal balistik. Target yang disebut meliputi pangkalan udara Arab Saudi di Khamis Mushait.

Ia juga menyampaikan bahwa banyak pengamat kemudian mempertanyakan seberapa efektif serangan udara Saudi dalam meredam kekuatan Houthi. Keraguan ini, menurutnya, tumbuh karena serangan dari pihak Houthi terus terjadi meski kampanye udara telah berjalan selama bertahun-tahun.

Barakat menelusuri akar kelompok Houthi Ansar Allah hingga ke periode awal gerakan. Kelompok ini, menurut teks yang ia rujuk, bermula di provinsi utara Sadaa pada tahun 2004, ketika Arab Saudi meluncurkan operasi militer untuk meredam pemberontakan tersebut.

Selanjutnya, ia menyebut perubahan besar setelah satu dekade. Sepuluh tahun kemudian, kelompok itu merebut ibu kota Yaman, dan Arab Saudi bersama pasukan koalisi meluncurkan kampanye udara selama tujuh tahun.

Dalam periode tersebut, disebut berlangsung lebih dari 250.000 serangan udara, dengan rata-rata 35.700 serangan udara per tahun. Angka itu menempatkan kampanye udara dalam skala besar, sekaligus menjadi bahan pertimbangan ketika pengamat mempertanyakan efektivitasnya terhadap kemampuan Houthi.

Dengan latar tersebut, Barakat mengaitkan kembali pola serangan yang berulang dengan dugaan adanya pengaruh yang bergerak dari luar. Ia tidak menyebut rincian baru selain menilai bahwa berlanjutnya serangan dan respons kawasan menciptakan kesan adanya strategi proksi yang tetap berjalan.

Secara keseluruhan, dua poin yang ia sampaikan—yakni pembatalan pertemuan dan berlanjutnya serangan Houthi—membentuk basis kekhawatiran negara-negara Teluk. Barakat menegaskan, pada saat yang sama, ia tetap menyerukan penyelesaian konflik secara damai melalui dialog.