jurnalistik.co.id – Presiden Donald Trump menyatakan Amerika Serikat akan “substantially reduce” latihan militer gabungan dengan Korea Selatan. Pernyataan itu disampaikan dengan alasan adanya hubungan yang ia nilai sangat baik dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un.
Keputusan tersebut muncul setelah Trump menyampaikan rasa frustrasinya kepada Seoul. Ia menyinggung sikap Korea Selatan yang menolak untuk ikut bergabung dengan Amerika Serikat dalam upaya “denuclearisation” Iran.
Dalam penjelasannya, Trump mengaitkan langkah pengurangan latihan dengan persepsi pribadinya mengenai dinamika hubungan antar-kepemimpinan. Ia menyebut adanya “very good relationship” dengan Kim Jong Un sebagai landasan pembenaran atas perubahan sikap tersebut.
Langkah pengurangan latihan militer gabungan itu, menurut framing yang disampaikan BBC, memperlihatkan bahwa kebijakan keamanan Washington di kawasan Semenanjung Korea tidak berjalan dalam satu garis lurus. Sebaliknya, ia bergerak mengikuti perkembangan relasi yang dianggap Trump sendiri lebih menguntungkan.
Pengurangan latihan gabungan AS–Korsel
Pernyataan Trump menempatkan latihan militer sebagai variabel yang bisa dipangkas ketika ia menilai situasi politik-keamanan lebih kondusif. Dengan mengatakan AS akan “substantially reduce” latihan gabungan, Trump menekankan bahwa skala kegiatan tersebut tidak lagi dianggap perlu sebesar sebelumnya.
Perubahan ini juga memberi sinyal bahwa Seoul akan menghadapi penyesuaian strategi pertahanan sebagai akibat dari sinyal Washington. Dalam logika yang ditautkan Trump, keputusan militer menjadi refleksi dari kedekatan hubungan tingkat tinggi, bukan sekadar rutinitas keamanan.
Alasan yang dirujuk: hubungan dengan Kim Jong Un
Poin yang paling ditekankan dalam keterangan Trump adalah penilaian mengenai relasinya dengan Kim Jong Un. Trump menyebut “very good relationship” sebagai dasar pembenaran, sehingga pengurangan latihan militer ditempatkan sebagai kelanjutan dari hubungan tersebut.
Berita Terkait
Dengan demikian, narasi kebijakan berubah dari pendekatan yang cenderung fokus pada aspek latihan dan deterrence menjadi pendekatan yang berangkat dari kedekatan hubungan. BBC kemudian membingkai bagaimana orientasi itu dapat memengaruhi cara Trump menyeimbangkan hubungan dengan Korea Utara dan Korea Selatan.
Konteks setelah protes Trump pada Seoul
Menurut informasi yang diuraikan, perubahan sikap ini datang setelah Trump menyatakan kecewa terhadap Korea Selatan. Trump menyebut Seoul menolak bergabung dengan AS dalam proses “denuclearisation” Iran.
Friksi tersebut digambarkan sebagai latar yang memicu perubahan nada kebijakan Trump di kawasan lain. Artinya, bagi Trump, sikap satu mitra dalam isu internasional dapat berimbas pada pilihan kebijakan terhadap mitra yang sama dalam agenda keamanan regional.
Penjelasan BBC: relasi Trump dengan dua Korea
BBC menghadirkan penjelasan melalui Tom Bateman yang membedah dinamika hubungan Trump dengan Korea Utara dan Korea Selatan. Dalam tayangan itu, Bateman menekankan bahwa hubungan kedua pihak diperlakukan dengan cara yang terus berkembang seiring perubahan kalkulasi Trump.
Uraian tersebut menyoroti bahwa perubahan kebijakan Trump tidak selalu konsisten jika dilihat dari sisi langkah-langkah simbolik dan operasional. Ada hubungan yang dibentuk lewat pernyataan-pernyataan Trump, lalu diterjemahkan menjadi tindakan kebijakan, termasuk pada aspek latihan militer.
Dengan mengaitkan “substantially reduce” pada latihan gabungan dengan kalimat “very good relationship” pada Kim Jong Un, Trump memperlihatkan bahwa ia memandang relasi personal dan politik sebagai instrumen kebijakan. Sementara itu, protesnya terkait penolakan Seoul untuk bergabung dalam “denuclearisation” Iran menjadi konteks penting yang memperjelas mengapa nada kebijakan dapat bergeser.
Secara keseluruhan, kombinasi ketiga elemen—pengurangan latihan militer, rujukan pada hubungan Trump dengan Kim Jong Un, dan konteks ketidakpuasan terhadap sikap Seoul soal Iran—membentuk gambaran perubahan arah. Dari sudut pandang BBC, inilah yang membuat hubungan Trump dengan kedua Korea tampak semakin dinamis dan berpotensi berubah mengikuti perkembangan kalkulasi politik.












