jurnalistik.co.id – Majalah edisi lama yang terlambat kembali ke perpustakaan di New Hampshire akhirnya diserahkan kembali pekan lalu, setelah perpustakaan mengumumkan jeda pemberlakuan denda. Concord Public Library menyebut keterlambatan itu mencapai lebih dari seratus tahun.
Dalam keterangannya, perpustakaan menyampaikan bahwa yang dikembalikan adalah edisi September 1894 dari The Century Illustrated Monthly Magazine. Majalah tersebut dipinjam pada masa lampau, lalu baru kembali dalam kondisi yang membuat keterlambatannya tercatat ekstrem.
Concord Public Library menyebut jumlah hari keterlambatan mencapai 48.220 hari. Jika aturan denda berjalan normal tanpa pembekuan, majalah itu akan dikenai denda sebesar $12.055 (setara dengan £8.950).
Penyerahan dilakukan oleh John, yang menurut pengakuannya tidak sepenuhnya tahu bagaimana majalah itu bisa berada di rumahnya selama puluhan tahun. Ia mengatakan koleksi itu āhad been āhanging aroundā his house for decadesā, namun ia mengaku āhad no idea how it ended up in his homeā.
John baru memutuskan mengembalikan majalah tersebut setelah membaca kabar mengenai pembekuan denda perpustakaan di koran lokal. Keputusan itu kemudian berujung pada pengembalian resmi yang akhirnya mengakhiri masa keterlambatan yang sangat panjang.
Perpustakaan kemudian menyoroti respons dari kebijakan tersebut di kanal media sosial mereka. Concord Public Library menulis, āWeāve witnessed many happy faces since announcing our fine freeze,ā yang menekankan bahwa kebijakan pembekuan denda telah mendorong lebih banyak warga untuk mengembalikan koleksi yang sempat tertahan.
Selain pembekuan, Concord Public Library juga menyatakan akan menjalankan amnesti denda selama satu tahun untuk keterlambatan yang belum dibayar. Program itu berlaku mulai 1 September 2026, dengan rencana mengevaluasi dampaknya terhadap rencana perpustakaan yang āfine-freeā.
Berita Terkait
Dalam postingan yang sama, perpustakaan menyampaikan bahwa secara logika majalah tersebut tidak akan langsung dimasukkan kembali ke perputaran koleksi biasa. Namun, mereka membuka kemungkinan agar majalah langka itu mendapatkan tempat khusus di ruang koleksi sejarah lokal.
Concord Public Library menyebut āConcord Roomā sebagai bagian yang didedikasikan untuk sejarah daerah setempat. Dengan begitu, majalah yang tertahan selama 48.220 hari itu tidak hanya kembali, tetapi juga berpotensi memperoleh fungsi baru sebagai artefak sejarah.
Unggahan perpustakaan juga menegaskan bahwa John tidak perlu membayar denda yang sebelumnya disebutkan. Dengan adanya pembekuan denda dan amnesti yang diberlakukan, denda $12.055 itu tidak menjadi beban bagi pelapor yang akhirnya mengembalikan majalah tersebut.
Kisah pengembalian majalah ini sekaligus memperlihatkan bagaimana kebijakan perpustakaan dapat memengaruhi perilaku peminjam lama. Dalam kasus ini, jeda denda membuat pengembalian yang tertunda sekian lama tetap bisa terjadi, meski dengan selang waktu yang jauh melampaui kebiasaan peminjaman perpustakaan.
Bagi pihak perpustakaan, pengembalian itu menjadi bukti nyata dari narasi kebijakan āfine freezeā yang mereka umumkan. Untuk John, keputusan mengembalikan majalah datang dari informasi yang dibacanya di koran lokal, lalu ditindaklanjuti dengan mengirimkan koleksi yang, menurut pengakuannya, sudah lama āhanging aroundā di rumahnya.
Melihat detail yang disebutkan perpustakaanātanggal edisi, jumlah hari keterlambatan, hingga besaran dendaāperistiwa ini menonjol bukan hanya karena usianya, tetapi juga karena bagaimana kebijakan khusus mampu mencegah denda yang semula akan dikenakan.
Concord Public Library pada akhirnya menutup cerita ini dengan pesan yang menekankan bahwa majalah tersebut kembali tanpa harus melalui pembayaran denda yang besar. Meski disebut tidak akan kembali ke sirkulasi umum, perpustakaan menilai majalah itu mungkin layak mendapat tempat di ruang sejarah lokal melalui āConcord Roomā.
Dengan demikian, pengembalian edisi September 1894 The Century Illustrated Monthly Magazine menjadi penutup yang tidak biasa untuk keterlambatan lebih dari satu abad, sekaligus membuka harapan bahwa pendekatan āfine-free libraryā bisa memberi ruang lebih luas bagi koleksi sejarah untuk dinikmati dalam konteks yang tepat.












