jurnalistik.co.id – Bergeraknya pola cuaca tahunan kini makin diwarnai oleh penguatan El Niño yang luar biasa. Berdasarkan analisis bulanan data cuaca global oleh Berkeley Earth, peluang tahun 2026 untuk menjadi tahun terpanas dalam sejarah dunia semakin menguat, bahkan diperkirakan bisa menggeser catatan 2024.
“Kita kemungkinan akan menyaksikan sesuatu yang cukup dramatis dalam satu tahun ke depan,” kata Robert Rohde, chief scientist di Berkeley Earth. Ia menilai fenomena yang sedang berkembang ini tidak sekadar menaikkan suhu, melainkan menghadirkan tingkat perubahan iklim yang jauh lebih cepat dari pola normalnya.
Rohde menambahkan, “Fenomena ini akan menghadirkan kondisi cuaca yang biasanya baru akan kita alami satu dekade atau lebih dari sekarang. Ini akan menjadi peristiwa besar.” Kalimat tersebut menegaskan bahwa dampak El Niño yang kuat berpotensi membuat beberapa indikator panas terakumulasi dalam periode yang relatif singkat.
El Niño sendiri merupakan fase cuaca berulang yang berjalan selama berbulan-bulan. Dalam periode seperti ini, energi dan panas yang tersimpan di lautan lebih terasa efeknya terhadap atmosfer, sehingga situasi cuaca di berbagai wilayah dapat berubah arah secara signifikan dari kebiasaan yang biasa terjadi.
Pada analisis yang sama, Berkeley Earth menyoroti bahwa suhu air laut yang semakin panas menjadi salah satu pemicu utama perubahan tersebut. Ketika laut memanas lebih kuat dari biasanya, sistem cuaca global cenderung merespons dengan pola distribusi panas dan kelembapan yang berbeda, yang kemudian berdampak pada curah hujan serta tingkat kekeringan di sejumlah kawasan.
Dampak yang berpotensi berbeda di tiap kawasan
Menurut laporan itu, El Niño dapat mengeringkan wilayah tertentu, seperti Afrika Barat dan Afrika Selatan, Australia, serta India. Dengan kata lain, beberapa daerah berpeluang mengalami penurunan kelembapan dan gangguan pada pola hujan yang umumnya diharapkan terjadi dalam periode tersebut.
Di sisi lain, fenomena yang sama juga dapat mendorong peningkatan curah hujan di wilayah lain. Salah satu contoh yang disebut adalah Amerika Serikat bagian selatan, yang berpotensi menerima hujan lebih banyak dibanding kondisi rata-rata.
Perbedaan dampak semacam ini adalah inti dari bagaimana El Niño bekerja pada skala global: pengaruhnya tidak bersifat seragam. Satu kawasan bisa menghadapi kecenderungan yang mengarah pada kekeringan, sementara kawasan lain justru mengalami peluang hujan yang lebih tinggi.
Berita Terkait
Dalam konteks tahun 2026, proyeksi yang disampaikan Berkeley Earth menekankan bahwa kekuatan El Niño saat ini cukup besar untuk mengubah peringkat catatan suhu global. Fenomena tersebut membuat tahun 2026 berada dalam posisi yang mungkin menyalip 2024 sebagai tahun terpanas.
Berkeley Earth juga menggarisbawahi bahwa masa setelah 2026 tidak berarti mereda. Tahun 2027, dalam pembacaan data bulanan yang sama, diperkirakan akan mencetak rekor baru, sehingga rangkaian tahun panas bisa berlanjut lebih dari satu periode.
Dengan begitu, perhatian bukan hanya pada satu angka puncak suhu, melainkan pada kesinambungan kondisi yang mendorong rekor-rekor iklim. Ketika satu fenomena berulang datang dengan intensitas yang kuat, ia bisa memperbesar peluang terciptanya pola ekstrem yang bertahan selama beberapa musim sekaligus.
Kenapa sinyalnya terasa lebih cepat
Rohde menggambarkan bahwa El Niño ini berpotensi membawa kondisi yang biasanya baru tampak pada rentang waktu satu dekade atau lebih. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa sinyal cuaca yang muncul bukanlah sesuatu yang sepenuhnya “kecil dan bertahap”, melainkan perubahan yang dapat dirasakan lebih nyata dalam satu tahun berjalan.
Secara konsep, ketika suhu laut meningkat, proses-proses di atmosfer ikut bergeser. Perubahan itu lalu menata ulang pola angin dan kelembapan, yang pada akhirnya menentukan apakah suatu wilayah cenderung mengering atau justru memperoleh curah hujan lebih banyak.
Karena dampaknya dipetakan ke beberapa wilayah yang berbeda, pembacaan publik sebaiknya tidak berhenti pada satu lokasi atau satu indikator. Proyeksi tahun terpanas merupakan hasil akumulasi dari pola global, sedangkan dampak regional memberi gambaran tentang bagaimana energi cuaca mengalir melintasi belahan dunia.
Dengan proyeksi El Niño yang luar biasa kuat, tahun 2026 diposisikan sebagai kandidat kuat untuk menggeser 2024 sebagai tahun terpanas dalam sejarah. Sementara itu, perkiraan bahwa 2027 berpotensi membentuk rekor baru menandakan bahwa arus perubahan iklim masih mungkin berlanjut.
Pada akhirnya, pesan utama yang dapat diambil dari analisis Berkeley Earth adalah adanya pergeseran probabilitas menuju tahun-tahun ekstrem: penguatan El Niño membuat peluang lonjakan suhu global meningkat, disertai kemungkinan dampak yang kontras antarwilayah. El Niño yang berlangsung berbulan-bulan, dengan dukungan suhu laut yang makin hangat, memberi sinyal bahwa dinamika cuaca global dapat bergerak lebih cepat menuju kondisi yang tidak lazim.












