jurnalistik.co.id – Bayeux Tapestry resmi dibuka untuk publik Inggris untuk pertama kalinya sejak karya itu dibuat hampir 1.000 tahun lalu, dan kini dipajang di British Museum.
Kain tua berbentuk permadani panjang dari abad ke-11 ini merupakan kisah visual tentang penaklukan Norman terhadap Inggris, termasuk peristiwa menjelang dan berlangsungnya Pertempuran Hastings pada 1066.
Permadani sepanjang 70 meter (230ft) tersebut telah menjalani perjalanan sejarah yang panjang: awalnya dijahit di Inggris, lalu disimpan selama berabad-abad di Prancis.
British Museum mengusahakan pemajangan ini melalui skema pinjaman, sementara tempat asalnya di Normandia sedang menjalani renovasi.
Pembukaan pagi dan respons pengunjung
Pintu museum dibuka pada pukul 10:00 BST. Di luar lokasi, para pemeran ulang bersenjata tameng menunggu dengan kostum bergaya era pertempuran tersebut.
Meski peminjaman sempat menuai penolakan di Prancis, Menteri Kebudayaan Prancis menyatakan karya itu tiba dalam kondisi yang “wonderful state”.
Salah satu pengunjung yang datang lebih awal, Adrian Harris, menyebut momen melihat permadani untuk pertama kali di Inggris sebagai pengalaman yang sangat berkesan. Ia mengatakan kepada BBC bahwa menjadi bagian dari kelompok pertama publik yang melihatnya di Inggris adalah “real privilege”.
Harris juga menjelaskan, “I’m not a very emotive or expressive person but I was absolutely blown away by it.” Ia menambahkan dirinya sempat benar-benar terkejut ketika memandang permadani secara utuh dari bagian atas tangga pada awal pameran.
Serena Smith mengikuti tur di dalam museum sebelum jadwalnya pada pukul 11:30 BST. Saat membeli tiket, ia tercatat sebagai peserta ke-4.000 dalam antrean—meski ia sempat mengklik tautan tak lama setelah menerima email dari British Museum.
Ia menegaskan, ia ingin dicatat bahwa dirinya “first in the queue [today]”. Dengan catatan beranotasi sebanyak 24 halaman, Smith mengaku menantikan kesempatan mengenali orang-orang Norman dari potongan rambut bulat mereka, serta melihat kapal-kapal yang tertera dalam susunan adegan.
Dua pengunjung lainnya, Cecilia dan Fabio Zanini, mengatakan mereka benar-benar takjub melihat skala karya tersebut. Cecilia menyatakan ia terkesan pada “the vibrancy of the colours” dan “The detail of the characters,” yang menurutnya membuat “both of us goosebumps.”
Fabio menuturkan ia terus menoleh kiri dan kanan untuk mengikuti setiap aksi, sekaligus merasa terkejut oleh skala permadani—khususnya jumlah kapal Norman dan pasukan berkuda. Ia merangkum kesannya, “It feels like you’re in the battlefield,” lalu memuji adanya “real sense of movement” dalam sulaman.
Menurut Fabio, karya itu juga membuatnya “go back to 1066,” karena semua adegan seperti membawa penonton kembali ke masa pertempuran tersebut.
Berita Terkait
Keluhan soal biaya dan antrean
Di sisi lain, beberapa pengunjung menyampaikan bahwa acara ini terasa sulit dijangkau karena biaya dan lokasi di London. Angie dari Leeds menyebut “historic event” tersebut “out of reach for many, many families in the north” jika mempertimbangkan ongkos kereta, biaya makanan, serta harga tiket museum.
Ia menambahkan, “London-only cultural events alienate many families north of Watford.”
Seorang pengunjung lain juga menyoroti pengalaman antre yang panjang. Hadyn Blakeston mengatakan ia merasakan suasana seperti berada di “conveyor belt” saat bergerak menyusuri jalur untuk melihat pameran.
Ia menilai, “It’s one long queue,” dan menambahkan, “I know we’re supposed to love queuing, but it was extreme queuing.”
Perjalanan karya dan narasi 58 adegan
Sejak Abad Pertengahan, Bayeux Tapestry terus menginspirasi seniman. Pada bulan Juli, permadani itu dibawa dari Bayeaux di Normandia ke pusat London dengan rute yang ditempuh seperti perjalanan menyeberang Selat pada masa William of Normandy bersama pasukannya.
Proses pemindahan tersebut dilakukan pada malam hari dalam sebuah peti pelindung khusus, untuk menghindari potensi kerusakan akibat lubang jalan, sebagaimana dilaporkan oleh Culture Editor Katie Razzall.
Secara visual, karya ini memuat 58 adegan yang merangkum peristiwa-peristiwa menuju Pertempuran Hastings sekaligus penaklukan Norman terhadap Inggris pada 1066.
Katie Razzall sendiri menuturkan bahwa ia telah menyiapkan diri untuk pameran selama berbulan-bulan. Ia mengaku telah membaca buku dan mempelajari foto-foto permadani, termasuk pengalaman menyaksikan pembukaan permadani dari peti secara teratur beberapa hari setelah kedatangannya dari Prancis.
Namun, ia menekankan bahwa tidak ada yang bisa mempersiapkannya untuk perasaan saat pertama kali melihatnya dari atas—memandang sepanjang galeri yang terbentang penuh.
Michael Lewis, salah satu dari empat kurator pameran, menyampaikan pandangannya kepada Press Association. Ia menyebut bahwa “1066 is, of course, one of the most important events in English history, and the tapestry is the ultimate reflection of that in terms of a visual narrative.”
Lewis juga menggambarkan cara sebagian orang memaknai karya tersebut: “Some people see it as akin to a graphic novel or a cartoon or something like that, it’s immediately recognisable.” Ia menilai persetujuan Prancis agar permadani dapat datang dan dipamerkan di British Museum sebagai “an enormous act of diplomacy”.
Pameran ini tercatat habis terjual hingga rilis berikutnya pada 21 Oktober. Bayeux Tapestry dipajang di British Museum sampai 11 Juli 2027.












