jurnalistik.co.id – Selama lebih dari dua dekade, pejabat medis di New York terus menghadapi satu pertanyaan yang sama: bagaimana memberi jawaban kepada keluarga korban serangan 11 September yang hingga kini belum teridentifikasi. Upaya itu kini mendapat dorongan dari teknologi investigasi genetik yang lebih maju.
Dennis Scauso—anggota unit hazmat New York City Fire Department (FDNY) selama 12 tahun—termasuk salah satu dari lebih dari 1.000 korban di New York yang masih belum dapat diidentifikasi. Keterangan keluarga menyebutkan, ia kemungkinan berada di South Tower World Trade Center ketika bangunan itu runtuh.
Untuk Juliette Scauso, jejak fisik terakhir ayahnya di hari-hari akhir hanya berupa helm petugas pemadam yang sudah rusak. Pada helm tersebut, ada nomor lencana, dan temuan itu baru ditemukan berbulan-bulan setelah tragedi.
“I’ve spent essentially my entire life knowing my father died, and learning to live with the fact that we never recovered him,” ujar Juliette Scauso, yang saat ayahnya meninggal usianya baru empat tahun. Ia menggambarkan kehidupan yang ia jalani sambil memelihara kenangan, meski proses pencarian untuk memastikan identitas tetap berjalan.
Menurut Office of Chief Medical Examiner Kota New York, hampir 3.000 orang meninggal pada serangan World Trade Center pada 11 September. Dari total korban yang berupaya ditelusuri identitasnya sejak itu, pejabat setempat menyatakan sekitar 60 persen telah teridentifikasi.
Awal bulan lalu, kota mengumumkan identitas seorang korban yang sebelumnya tidak dikenal—yang ke-1.654—berkat teknologi baru bernama forensic investigative genetic genealogy, atau FIGG. Angela Soler, direktur forensik antropologi di kantor pemeriksa medis setempat, menyebut pendekatan itu membuka peluang lebih luas bagi keluarga korban.
Angela Soler mengatakan, “There is real promise in using this approach.” Ia menambahkan, “There’s hope for more families to receive answers, and hopefully we’ll be able to test more remains in the future using this technology as well.”
Sejak 9/11, kantor Soler telah berupaya mengidentifikasi sisa-sisa tubuh dari 2.753 korban yang meninggal di World Trade Center. Soler juga menuturkan proses itu adalah salah satu upaya identifikasi paling kompleks yang pernah ia alami. “It’s been one of the most complex identification efforts that I think anybody has ever really experienced,” katanya.
Berbagai kendala membuat identifikasi tidak bisa diselesaikan sekaligus dalam satu tahap. Soler menjelaskan bahwa bagian tubuh korban rusak akibat kecelakaan pesawat dan kebakaran yang dipicu bahan bakar jet, sehingga kantor biasanya hanya memiliki potongan sampel DNA milik korban.
Juliette Scauso menambahkan bahwa peristiwa berlangsung pada waktu yang membuat banyak pemadam kebakaran berganti shift. Namun, sebagian tetap membantu, mengambil perlengkapan tambahan yang bisa mereka temukan, sehingga ada situasi ketika para petugas pemulih justru mengenakan seragam dengan nama orang lain. Kondisi seperti itu, menurutnya, ikut menyulitkan proses penentuan identitas.
Selain itu, lokasi World Trade Center memiliki jumlah korban jauh lebih besar dibanding lokasi serangan teroris lainnya pada 11 September. Pada insiden di Pentagon yang melibatkan American Airlines Flight 77—dengan 184 orang tewas—sisa-sisa dari lima korban tidak pernah teridentifikasi karena kondisi yang serupa. Sementara itu, National Park Service menyebut bahwa pada kecelakaan United Airlines flight 93 di Shanksville, Pennsylvania, sisa-sisa yang berhasil ditemukan cukup untuk mengidentifikasi seluruh 40 korban menggunakan DNA, catatan gigi, dan sidik jari.
Dalam upaya menjaga kelanjutan pengujian, sisa-sisa dari World Trade Center dipaketkan dan disegel agar DNA tetap terlindungi untuk tes di tahun-tahun berikutnya. Soler juga menggambarkan bahwa identifikasi awal sempat mengandalkan sidik jari dan catatan gigi, lalu ketika keduanya tidak tersedia, kantor beralih pada DNA.
“That’s why all these years down the road, we’re still getting new identifications, because we’re just continuing to retest and retry with every new technology that becomes available,” ujar Soler. Ia menegaskan identifikasi belakangan terus muncul karena sampel yang sama diuji ulang dengan teknologi terbaru.
Teknologi DNA sendiri telah membantu kantor mengidentifikasi 1.495 korban sejak 9/11. Rinciannya, sebagian identifikasi dilakukan hanya dengan DNA, sementara yang lain memakai beberapa metode sekaligus.
Berita Terkait
Melalui bantuan DNA, kota juga mengumumkan pada tahun lalu bahwa, 24 tahun setelah serangan, tiga korban baru dapat diidentifikasi, yakni Ryan Fitzgerald (26), Babara Keating (72), yang berada di American Airlines Flight 11 dari Boston menuju Los Angeles, serta satu perempuan yang keluarganya memilih merahasiakan identitasnya.
Soler menjelaskan FIGG bekerja dengan whole genome sequencing—sebuah cara untuk membaca seluruh kode genetik seseorang. Dengan metode ini, penyelidik bisa membuat lebih banyak kemungkinan kecocokan dengan anggota keluarga yang memiliki hubungan jauh sebagai kerabat.
Setelah kecocokan awal dibangun, New York Police Department membantu menemukan kerabat yang lebih dekat untuk mempersempit dan memperkuat rangkaian penelusuran. Alur kerja inilah yang, menurut kantor medis, memperbesar peluang jawaban bagi keluarga yang selama ini menunggu.
Di luar laboratorium, komunikasi dengan keluarga korban tetap menjadi bagian penting dari pekerjaan harian. Soler menyatakan kantor medis masih menerima panggilan mingguan dari orang-orang yang bertanya tentang seseorang yang sisa tubuhnya tak pernah ditemukan.
Sebagian keluarga tidak pernah bisa menguburkan anggota keluarganya. Namun, ada pula yang memilih meninggalkan sisa-sisa yang ditemukan—ketika proses itu akhirnya terjadi—di sebuah repositori pada area memorial 9/11, yang dibangun ke dalam bedrock lokasi World Trade Center dan hanya dapat diakses oleh staf kantor pemeriksa medis.
Di dekatnya, terdapat ruang privat yang dikenal sebagai reflection room, tempat keluarga dapat berduka. Soler mengatakan, “That’s where their loved one was in their last moments, and that’s where they want them to stay”.
Soler juga menyebut ada keluarga yang tidak ingin diberi tahu, karena konfirmasi bisa terlalu menyakitkan. Ia mengungkap bahwa ia ikut membantu memberikan informasi kepada keluarga-keluarga tersebut, namun setiap respons sangat bergantung pada keputusan masing-masing.
Juliette Scauso termasuk yang memilih menjaga jarak dari kabar yang mungkin saja muncul di kemudian hari. Ia menyadari bahwa dalam beberapa tahun terakhir, ada orang yang akhirnya menerima panggilan bahwa kerabat mereka telah teridentifikasi.
Namun, bagi keluarganya, gagasan bahwa mereka bisa menjadi “berikutnya” terasa menakutkan. Juliette juga berusaha mempertahankan memori ayahnya—sosok yang dikenal sebagai jack of all trades dan pencinta jazz—agar tetap hidup, sembari menanggung kenyataan bahwa ayahnya tak pernah dipulangkan utuh.
“At this point, an identification wouldn’t change the reality of his death. It wouldn’t give me back my father, and I don’t necessarily want to reopen something that has become part of the way I’ve learned to live and grieve,” katanya. Ia menambahkan, “Especially 25 years later, it’s going to open up the wounds again.”
Meski demikian, Juliette tetap memandang teknologi baru itu penting. Soler, yang juga bekerja di garis depan pada 9/11 dan merasakan prosesnya secara langsung, menuturkan bahwa berita identifikasi dapat membawa campuran emosi—lega sekaligus duka.
“It’s confirmation of something that they always knew to be true – they knew their loved one died on 9/11, but I think for many families, there’s still that question in the back of their mind until the remains are formally identified,” jelas Soler. Menurutnya, bagi sebagian keluarga, kabar identifikasi bisa terasa seperti mengulang kembali masa-masa sulit, tetapi pada saat yang sama juga menutup satu bab perjalanan panjang pasca 9/11.
Untuk Soler dan beberapa rekan yang berada di lokasi saat kejadian, pekerjaan ini memiliki dimensi personal. Mereka tiba di Ground Zero setelah pesawat menghantam menara, dan berada di sana ketika gedung-gedung tersebut runtuh.
Walau demikian, kantor medis memahami bahwa kemungkinan mengidentifikasi semua korban serangan di New York sangat kecil. Dalam beberapa kasus, bahkan bisa jadi tidak ada sisa tubuh yang memungkinkan proses identifikasi.
“As long as there’s families looking for answers, we’ll continue searching for them,” kata Soler. Dengan teknologi yang terus berkembang, harapan untuk memberi kepastian—meski datang sangat terlambat—tetap menjadi bagian dari misi mereka.












