Pendidikan

Adegan bersejarah apa yang ada di Bayeux Tapestry saat dipamerkan di British Museum?

×

Adegan bersejarah apa yang ada di Bayeux Tapestry saat dipamerkan di British Museum?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Which famous scenes are in the Bayeux Tapestry?

jurnalistik.co.id – Bayeux Tapestry siap dibuka untuk pengunjung di British Museum, London, mulai 10 September. Karya tekstil sepanjang 70 meter (230ft) ini menjadi salah satu pameran sejarah yang menonjol karena memuat narasi besar tentang Penaklukan Norman dan Pertempuran Hastings pada tahun 1066.

Tapiseri tersebut berawal dari proses sulam yang dikerjakan di Inggris. Setelah itu, Bayeux Tapestry bertahan dan “hidup” selama berabad-abad di Prancis, sebelum akhirnya dibawa kembali untuk ditampilkan di Inggris dalam bentuk pameran publik.

Pengiriman Bayeux Tapestry ke British Museum diumumkan oleh Presiden Prancis, Emmanuel Macron, saat kunjungan kenegaraan Prancis ke Inggris pada bulan Juli 2025. Dalam pengumuman tersebut, tapiseri ditempatkan sebagai simbol dari kuatnya kemitraan kedua negara.

British Museum kemudian menyiapkan karya berskala besar ini untuk dapat disaksikan langsung oleh publik di London. Sesuai rencana, tapiseri dipamerkan sebagai pinjaman dengan masa tampilan hingga Juli 2027, sehingga pengunjung memiliki rentang waktu panjang untuk melihatnya secara langsung.

Dengan panjang sekitar 70 meter (230ft), Bayeux Tapestry menawarkan bentang narasi yang menyeluruh. Seluruh rangkaian kisah di dalamnya tersusun menjadi satu alur yang menghadirkan momen-momen penting, dari periode Penaklukan Norman hingga tragedi dan ketegangan Pertempuran Hastings pada 1066.

Bagian yang berhubungan dengan Penaklukan Norman menjadi kerangka utama dalam penceritaan tapiseri. Kisah ini memperlihatkan bagaimana peristiwa historis tersebut menjadi fondasi bagi rangkaian peristiwa berikutnya, sebelum akhirnya bermuara pada peristiwa paling dikenal dari cerita besar itu, yaitu Pertempuran Hastings.

Selanjutnya, narasi tapiseri juga menandai Pertempuran Hastings pada tahun 1066 sebagai titik sentral. Porsi ini menjadi bagian paling menentukan dalam rangkaian “cerita besar” yang ingin dihadirkan Bayeux Tapestry kepada para penonton saat dipamerkan di British Museum.

Dalam konteks pameran, jadwal 10 September menandai dimulainya akses publik terhadap karya tersebut. Bagi banyak orang, momen pembukaan merupakan kesempatan untuk menyaksikan langsung bagaimana tapiseri berfungsi sebagai media penceritaan sejarah, sekaligus sebagai artefak yang diwariskan dari masa ke masa.

Apa yang bisa diharapkan pengunjung

Melalui pameran ini, pengunjung dapat menelusuri kisah yang sama yang selama ini dikenal luas: penuturan tentang Penaklukan Norman dan Pertempuran Hastings pada 1066. British Museum memposisikan tapiseri sebagai karya yang dapat dilihat secara langsung di ruang pamer, dengan masa pinjaman hingga Juli 2027.

BBC News, khususnya melalui editor budaya dan media Katie Razzall, juga menyoroti apa yang akan dapat disaksikan publik ketika tapiseri dibuka untuk umum. Sorotan tersebut menempatkan Bayeux Tapestry sebagai jendela yang memungkinkan penonton memahami narasi sejarah yang terkandung di dalamnya, dari asal-usul sulamannya hingga perjalanan sejarah tapiseri itu sendiri.

Sebagai artefak yang awalnya dikerjakan di Inggris dan kemudian disimpan di Prancis selama berabad-abad, tapiseri ini membawa lapisan makna ganda. Di satu sisi, ia menyampaikan cerita tentang peristiwa historis pada abad ke-11; di sisi lain, ia juga memperlihatkan bagaimana sebuah karya dapat berpindah tempat dan tetap terjaga hingga akhirnya ditampilkan kembali untuk publik di London.

Dengan periode tampilan mulai 10 September dan berakhir pada Juli 2027, pameran ini menyediakan waktu yang memadai bagi pengunjung untuk benar-benar mengalami bentang cerita sepanjang 70 meter. British Museum, sebagai lokasi pameran, menjadi panggung utama bagi kisah yang tertulis dalam Bayeux Tapestry—khususnya Penaklukan Norman dan Pertempuran Hastings 1066.

Secara keseluruhan, Bayeux Tapestry dipamerkan bukan sekadar sebagai benda bersejarah, melainkan sebagai rangkaian kisah yang dapat ditelusuri dari awal hingga akhir dalam satu alur besar. Tapiseri sepanjang 70 meter (230ft) ini menegaskan daya tariknya sebagai narasi visual tentang peristiwa yang membentuk sejarah, sekaligus sebagai simbol hubungan dan kemitraan yang diperlihatkan melalui pengiriman tapiseri pada masa kunjungan kenegaraan Juli 2025.