Internasional

Meski Menang, Farage Tetap Disorot Soal Keuangan di Pemilihan Sela Clacton

×

Meski Menang, Farage Tetap Disorot Soal Keuangan di Pemilihan Sela Clacton

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Farage's by-election victory won't stop questions about finances

jurnalistik.co.id – Kemenangan Nigel Farage di pemilihan sela Clacton memang berujung pada kemenangan yang meyakinkan, tetapi pertanyaan soal keuangan justru belum selesai. Pengumuman hasil tidak mengakhiri proses pemeriksaan yang sudah berjalan, baik di tingkat aparat maupun di forum parlemen.

Farage tidak hadir untuk merayakan kemenangan tersebut saat massa pendukung Reform UK berkumpul. Dalam pernyataannya semalam, ia mengatakan telah diberi tahu adanya rencana “organised campaign to disrupt and degrade the result” dan Farage menyebut ia ingin menghindari perlakuan yang membuatnya “demeaned and humiliated by nobodies”.

Ketika hasil resmi keluar beberapa jam kemudian, hasilnya mengonfirmasi bahwa pemimpin Reform UK itu menang secara meyakinkan. Ia memperoleh 22,239 suara, dan kemenangan itu datang tanpa penantang serius dari partai-partai utama karena pihak-pihak tersebut tidak menampilkan kandidat.

Para pendukung di internal Reform UK menilai Farage justru makin “emboldened and re-energised” setelah kontestasi ini. Di tingkat lokal, Farage dianggap populer di konstituennya, sementara di tingkat nasional, partainya sudah lama memimpin dalam survei opini selama sekitar 18 bulan terakhir.

Selain faktor elektoral, hasil ini juga dipandang sebagai kelanjutan dari transformasi Reform dari organisasi pendatang baru menjadi gerakan keanggotaan massa. Farage sendiri juga memiliki peluang serius untuk masuk ke pemerintahan, sesuatu yang menurut para pendukungnya terus menguat.

Biaya politik, dan apa gunanya pemilihan sela

Meskipun pemilihan sela berakhir, penyelidikan terkait sumbangan Reform UK tetap berjalan. Metropolitan Police masih menelusuri donasi, sementara penyelidikan parlemen juga terus menyoroti mengapa Farage tidak mendaftarkan hadiah senilai £5m dari donor miliarder.

Farage juga menghadapi sorotan seputar persahabatannya dengan seorang terpidana penipuan. Dengan kata lain, kemenangan pemilihan sela tidak menghapus pertanyaan yang menyangkut integritas dan kepatuhan finansial.

Kontestasi ini juga memunculkan perdebatan tentang nilai dari pemilihan sela yang ia picu sendiri. Farage sebelumnya mengatakan, “the people of Clacton should be the judges of my actions”, saat membuat pengumuman mengejutkan bahwa ia akan mengundurkan diri untuk bertarung di kursi yang sebenarnya sudah ia wakili.

Ia juga menyatakan ingin “fight to continue the political revolution that Reform has started”. Namun, hasil yang diprediksi mudah justru berujung pada pertarungan yang dianggap tidak biasa, termasuk melibatkan rekor 34 kandidat, kertas suara sepanjang 90 cm, serta penantang yang tampil dengan kostum menyerupai tempat sampah.

Dari kubu Labour, Farage dituduh berupaya “dodge scrutiny”. Sementara dari kubu Konservatif, Farage dianggap memicu pemilihan sela karena “hissy fit”. Bagi pengamat, ada satu aspek yang sulit diabaikan: biaya yang harus ditanggung publik.

Di konstituensi yang disebut memiliki lingkungan paling tidak beruntung di Inggris, estimasi dewan setempat menyebut pembayar pajak perlu menanggung biaya sekitar £250,000 untuk penyelenggaraan pemilihan sela ini. Reform UK menyatakan kesediaan untuk menutup biaya tersebut, tetapi hal itu tidak diperbolehkan berdasarkan hukum pemilu.

Begitu pemilihan selesai, Farage kemungkinan menghadapi sorotan yang lebih diperbarui terhadap pertanyaan-pertanyaan yang masih menggantung. Persoalan utamanya masih berkisar pada bagaimana dana masuk dan bagaimana kewajiban pelaporan dipenuhi.

Kontroversi hadiah £5m

Salah satu isu paling menonjol menyangkut Farage adalah pengungkapan bahwa ia menerima secara rahasia £5m dari Christopher Harborne, seorang miliarder kripto berbasis di Thailand sekaligus penyumbang Reform. Hadiah itu disebut datang tak lama sebelum pemilihan umum 2024.

Farage menggambarkan uang tersebut sebagai “unconditional gift”. Pengungkapan awalnya datang dari Guardian, yang pertama kali melaporkan informasi tersebut pada tahun ini.

Hadiah £5m itu menjadi fokus pemeriksaan karena tidak tercatat. Dana tersebut tengah diselidiki oleh komisaris standar parlemen karena tidak didaftarkan oleh Farage. Farage menyampaikan bahwa ia tidak perlu melakukannya, menegaskan bahwa ia telah “nothing wrong”, dan menyebut penyelidikan parlemen “being used as a political tool”.

Penyelidikan sempat dihentikan setelah Farage mengundurkan diri dari kursinya pada bulan Juli, tetapi kemudian dibuka kembali setelah ia terpilih kembali sebagai anggota parlemen untuk Clacton.

Sementara itu, Metropolitan Police telah meneliti donasi besar untuk Reform UK selama lebih dari setahun. Pihak kepolisian menyatakan bahwa dua orang sudah diwawancarai, namun tidak ada penangkapan yang dilakukan.

Menurut informasi yang beredar, fokusnya berkaitan dengan dugaan penyembunyian atau penyamaran donasi yang berasal dari donor “impermissible”, atau penggunaan “false” information mengenai donasi tersebut. Sumber-sumber dari Reform UK mengatakan tidak ada pejabat partai yang diwawancarai oleh polisi.

Baik penyelidikan kepolisian maupun penyelidikan parlemen diperkirakan masih akan memakan waktu lama sebelum kesimpulannya muncul.

Dukungan finansial dari “Posh George”

Farage juga pernah menerima dukungan finansial untuk kebutuhan keamanan serta staf media sosial dari George Cottrell, yang dikenal di kalangan rekan sebagai “Posh George”. Cottrell merupakan terpidana penipuan, dan ia ditangkap di bandara di Amerika Serikat saat bepergian bersama Farage.

Dalam catatan perkara, Cottrell mengaku bersalah atas satu dakwaan wire fraud pada tahun 2017. Sunday Times pertama kali mengungkap adanya dukungan dari Cottrell untuk Farage, termasuk penggunaan sebuah apartemen mewah dekat Buckingham Palace.

Pihak pengawas standar di parlemen belum mengonfirmasi apakah mereka sedang menilai isu tersebut. Namun Farage menyatakan tidak ada pelanggaran dengan mengatakan ada “no wrongdoing”, ia mengaku mengikuti aturan, dan ia mempertimbangkan langkah hukum terhadap media tersebut.

Mengintip tantangan setelah kemenangan

Jika Farage dinyatakan melanggar aturan parlemen, sanksi yang mungkin dijatuhkan dapat memicu pemilihan sela kedua. Bila skenario itu terjadi, pihak Reform UK menyatakan mereka yakin bisa menang kembali.

Di luar keuntungan langsung bagi Farage, kampanye ini dinilai memberi manfaat bagi Reform UK untuk mengumpulkan data pemilih lokal. Data tersebut bisa menjadi modal penting jika pemeriksaan di parlemen akhirnya mendorong pemilihan sela kedua yang benar-benar diikuti partai-partai utama.

Tetapi problem yang lebih besar tidak hanya berada di Essex. Secara nasional, ada tanda-tanda popularitas Farage sedang menurun, dan ini menjadi perhatian utama bagi strategi partainya.

Pollster Luke Tryl dari organisasi More in Common menyebut bahwa “This time last year Farage had the highest approval of the main party leaders”, namun awal bulan ini ia mengalami penurunan ke skor terburuk sejak pemilihan umum. Tryl juga menilai kenaikan penolakan negatif bisa menandakan semakin banyak pemilih yang bersedia memilih secara taktis melawan Farage.

Menurut Tryl, lebih sedikit orang yang memberikan pandangan positif juga menandakan adanya erosi pada basis pendukungnya. Penelitian More in Common memperkirakan sekitar 80% pemilih menyadari pertanyaan-pertanyaan seputar keuangan Nigel Farage, tetapi respons publik bersifat beragam.

Pendukung terkuat Farage kerap memandang ini sebagai “establishment stitch up”. Di sisi lain, para penentangnya melihat isu tersebut sebagai alasan tambahan untuk tidak menyukai Farage.

Dalam perjalanan politiknya, Farage disebut telah memprofesionalkan Reform UK, mengamankan pendanaan yang signifikan, dan merekrut figur-figur berprofil tinggi seperti Robert Jenrick dan Zia Yusuf. Langkah itu dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa partai ketiga yang ia pimpin bukan sekadar gerakan satu orang.

Meski Farage tampak lebih yakin setelah kontestasi berisiko yang ia picu sendiri, para pesaing justru membingkai kampanye ini sebagai pemborosan uang sekaligus memalukan secara pribadi. Pada akhirnya, arah penilaian publik ditentukan oleh pemilih secara nasional, bukan hanya di sudut Essex.

Jadi, pertanyaan yang paling menentukan bukan sebatas apakah Farage menang. Melainkan apakah pemilihan sela ini menjadi tanda pergeseran ke bawah bagi citra Farage, atau sebaliknya menjadi batu loncatan untuk ambisi besarnya menuju Downing Street.