Internasional

Pemakaman Sliman Mansour di Birzeit: pelukis Palestina yang wafat usia 79 tahun dikenal lewat lanskap dan simbol identitas

×

Pemakaman Sliman Mansour di Birzeit: pelukis Palestina yang wafat usia 79 tahun dikenal lewat lanskap dan simbol identitas

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Funeral held for renowned Palestinian artist Sliman Mansour

jurnalistik.co.id – Pemakaman pelukis Palestina Sliman Mansour digelar di sebuah gereja yang penuh sesak di Birzeit, dekat Ramallah, wilayah Tepi Barat yang diduduki. Mansour meninggal dunia pekan ini pada usia 79 tahun.

Dalam suasana yang padat, jejak karya Mansour kembali dibicarakan sebagai bagian dari ingatan kolektif masyarakat Palestina. Ia dikenal luas lewat lukisan-lukisan yang menampilkan lanskap Palestina dengan warna-warna kuat, terutama hamparan kebun zaitun dan pepohonan jeruk, sekaligus adegan-adegan budaya yang menghadirkan simbol identitas di tengah pergulatan nasional.

Karya-karya Mansour juga selalu terkait dengan gagasan tentang penentuan nasib sendiri, kemandirian, dan cita-cita memiliki negara. Melalui cara pandang visualnya, lanskap dan kehidupan sosial tidak hanya hadir sebagai latar, tetapi juga sebagai bahasa untuk menyatakan keterikatan dan martabat.

Salah satu karya yang paling dikenang adalah “Camel of Hardship”, dilukis pada 1973. Di dalamnya, seekor unta tidak tampil sekadar sebagai figur simbolik; lukisan itu memperlihatkan seorang pengangkut tua yang memikul beban Yerusalem di punggungnya, termasuk Kubah Emas di lingkungan Dome of the Rock.

Vera Tamari, sahabat sekaligus kolega seniman, mengingat Mansour sebagai sosok yang menonjol di ranah seni. “Ia adalah seniman Palestina utama; yang paling dikenal secara lokal maupun internasional,” ujarnya. Tamari menambahkan bahwa karya Mansour menghadirkan “Palestina dalam seluruh keindahan dan harapan.”

Tamari juga menekankan bagaimana Mansour menggambarkan perempuan Palestina dengan pakaian khasnya, yakni thobe, busana tradisional yang disulam. “Ia melukiskan perempuan Palestina dalam thobe-nya—kostum tradisional yang dijahit dengan sulaman—dan ia melukiskan orang-orang yang sangat terikat pada tanah,” kata Tamari. Ia menambahkan, “Ia ingin orang-orang tahu bahwa kita berakar di sini.”

Mansour lahir di desa Birzeit pada 1947, ketika Palestina masih berada dalam periode Mandat Inggris—setahun sebelum berdirinya Negara Israel dan sebelum pecahnya perang Arab–Israel pertama. Dalam konflik tersebut, lebih dari 700.000 warga Palestina disebut terusir atau memilih melarikan diri dari rumah mereka, peristiwa yang dikenal sebagai Nakba, atau “Bencana”.

Sejak muda, Mansour belajar seni rupa di Yerusalem, lalu mengembangkan gaya yang menjadi ciri khasnya sendiri. Ia pernah berbicara tentang kenyataan bahwa seniman Palestina hidup dalam apa yang disebutnya “cultural ghetto” dan menyebut sebuah buku tentang karya Diego Rivera, pelukis Meksiko, sebagai sumber pengaruh penting.

Seiring waktu, Mansour turut membangun gerakan seni setempat. Ia tercatat sebagai salah satu pendiri League of Palestinian Artists dan International Academy of Art, serta terlibat dalam upaya membentuk galeri-galeri seni di tingkat lokal. Selain melukis di kanvas, Mansour juga membuat kartun, ilustrasi untuk anak-anak, serta menulis buku; banyak orang mengenangnya sebagai guru seni yang menginspirasi.

Karya Mansour tersimpan di koleksi pribadi dan juga di sejumlah institusi internasional besar, termasuk Guggenheim Museum Abu Dhabi, Mathaf: Arab Museum of Modern Art di Doha, Institut du Monde Arabe di Paris, serta British Museum di London. Namun, berbeda dari banyak seniman lain, Mansour juga kuat mendorong agar lukisannya direproduksi dalam bentuk cetakan agar lebih mudah diakses dan memperluas apresiasi terhadap karyanya.

Amer Shomali—seniman visual sekaligus direktur jenderal Palestinian Museum—menggambarkan Mansour sebagai penggagas karya yang menyatukan. “Ia adalah perancang utama dalam menciptakan Palestina yang menyatukan kita semua sebagai orang Palestina—sebuah hal yang selama ini kita rindukan dan perjuangkan untuk dijalani,” kata Shomali.

Shomali menuturkan pengalamannya sendiri tumbuh dengan pengaruh poster-poster karya Mansour. “Saya dibesarkan di kamp pengungsi di Suriah,” ujarnya. “Ketika saya masih kecil, saya punya dua poster di dinding kamar saya. Ia ada di mana-mana. Ia fokus dan memanfaatkan kesempatan untuk menjangkau massa.”

Menurut Shomali, Mansour juga menyukai gagasan agar karyanya dipamerkan kepada publik di berbagai belahan dunia, termasuk mereka yang mampu membeli. “Ia menyukai gagasan bahwa [karyanya] ditampilkan oleh orang-orang yang bisa membelinya, di seluruh dunia,” tuturnya.

Namun, sifat politik dalam seni Palestina kerap menarik perhatian aparat keamanan Israel di wilayah Tepi Barat yang diduduki. Dalam sebuah podcast, Mansour mengatakan bahwa pada dekade 1970-an dan 1980-an para tentara menyita poster dan kartu pos, lalu menangkap para penjualnya.

Kisah serupa muncul ketika ruang pameran khusus untuk pertunjukan tunggal, Gallery 79, didirikan di Ramallah. Mansour mengatakan bahwa “para tentara mulai datang ke pembukaan setiap pameran baru,” dan kadang-kadang mengambil apa pun yang tidak mereka sukai. Ia juga menyebut bahwa mereka mengembangkan bentuk seni yang bersifat simbolik—agar masyarakat memahami pesan yang hendak disampaikan, sementara aparat tidak menangkap maksudnya.

Dalam deretan karya yang sering dibahas, terdapat “Orange Fields” yang dilukis pada 2014. Karya berbentuk triptych ini menampilkan dua perempuan Palestina yang membawa keranjang jeruk, dengan hamparan laut Jaffa di belakang mereka, serta perempuan-perempuan lain yang memanen jeruk dari pepohonan.

Pada masa intifada pertama yang dimulai pada 1987, Mansour membantu mendirikan kolektif New Vision bersama seniman lain, termasuk Tamari. Kelompok ini melakukan boikot terhadap perlengkapan buatan Israel, seperti minyak dan cat akrilik, lalu semakin beralih pada bahan alami, mulai dari tanah liat hingga henna.

Tamari menuturkan bahwa Mansour menguasai teknik bekerja pada lumpur dan jerami, menghasilkan permukaan yang retak dan bertekstur. “Sliman spesialis dalam bekerja pada lumpur dan jerami, dengan permukaan retak yang sangat efektif. Itu mengingatkan orang pada sejarah dan waktu, serta akar Palestina yang melekat pada tanah itu sendiri,” katanya.

Di mata rekan-rekannya, Mansour adalah sosok yang lembut, rendah hati, dan punya kemampuan menjelaskan gagasan kompleks dengan cara yang sederhana. Ia juga dikenal gemar membagikan karyanya kepada orang lain.

Di sisi lain, meski lukisan kanvasnya kerap laku dengan harga hingga ratusan ribu dolar, Mansour menunjukkan sikap yang berbeda ketika menyelesaikan mural besar untuk Palestinian Museum. Permintaan bayaran yang ia ajukan hanya berupa sebuah pohon ara untuk ditanam di taman.