Internasional

Perang Iran Mengerek Langkah Diplomatik China di Timur Tengah

×

Perang Iran Mengerek Langkah Diplomatik China di Timur Tengah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Di Balik Perang Iran, Ada Manuver Besar China di Timur Tengah

jurnalistik.co.id – Perang Iran yang mengganggu stabilitas pasokan energi global mendorong China mempercepat langkah diplomatiknya di Timur Tengah. Fokus Beijing kini mengarah terutama kepada Iran dan Oman, termasuk upaya menghidupkan kembali perundingan guna meredakan ketegangan dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Dalam dinamika terbaru, Menteri Luar Negeri China Wang Yi bertemu dengan Ali Bagheri Kani, wakil sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, di Beijing pada Senin. Pertemuan itu menjadi bagian dari rangkaian pembahasan Beijing terhadap situasi kawasan yang dinilai kian berlarut.

Wang Yi menegaskan bahwa dialog dan negosiasi tetap merupakan “satu-satunya jalan ke depan”. Ia menyampaikan posisi tersebut dengan alasan konflik kawasan berisiko meluas dan terus memanjang.

Selain menekankan pentingnya jalur komunikasi, Wang juga menyatakan dukungan China terhadap kedaulatan dan keamanan Iran. Beijing selama ini berulang kali menyalahkan AS dan Israel sebagai pihak yang memicu pecahnya konflik.

Sebagai mitra dagang dekat, China memiliki hubungan erat dengan Teheran serta menjadi pembeli utama minyak Iran. Meski demikian, aktivitas diplomatik Beijing belakangan ini dinilai belum memperlihatkan kemajuan berarti.

Menurut laporan Al Jazeera, pertemuan Wang Yi dan Ali Bagheri Kani menunjukkan meningkatnya ketidaksabaran China terhadap perkembangan konflik. Penilaian tersebut sejalan dengan sinyal bahwa Beijing kini lebih proaktif mengupayakan jalur peredaan ketegangan.

China juga memperkuat pendekatan regionalnya melalui rencana penguatan utusan khusus. Beijing mengumumkan bahwa Zhai Jun akan ditugaskan sebagai utusan khusus untuk Timur Tengah dan akan mengunjungi Iran, Oman, serta Arab Saudi pada bulan ini.

Di saat bersamaan, Presiden Xi Jinping menerima kunjungan kenegaraan Sultan Oman Haitham bin Tariq. Ini menjadi kunjungan kepala negara Oman pertama ke China sejak kedua negara menjalin hubungan diplomatik pada 1978.

Xi menegaskan bahwa Timur Tengah dan kawasan Teluk tidak boleh menjadi arena persaingan kekuatan besar dan konflik geopolitik. Pernyataan tersebut menjadi landasan bagi pembahasan kerja sama yang kemudian melahirkan kesepakatan lintas sektor.

Kunjungan itu menghasilkan penandatanganan 14 dokumen kerja sama China-Oman. Ruang lingkupnya mencakup kecerdasan buatan, energi ramah lingkungan, rantai pasokan, hingga pertukaran mata uang.

Dalam pernyataan bersama, kedua negara mendesak agar pelayaran aman melalui Selat Hormuz kembali berjalan. Mereka juga meminta AS dan Iran memulai kembali dialog sebagai langkah untuk menurunkan tensi.

Oman disebut memiliki posisi strategis karena letaknya berseberangan dengan Iran di Selat Hormuz. Selain itu, Oman menguasai sejumlah pelabuhan di luar jalur perairan tersebut, sehingga perannya tidak hanya terkait satu titik geografis.

Sebelum perang mengganggu aktivitas pelayaran, sekitar seperlima ekspor energi global melewati selat ini. Bagi China—yang merupakan salah satu importir energi terbesar dunia—stabilitas jalur tersebut menjadi kepentingan ekonomi yang sangat penting.

Konflik yang berimbas pada rute dan kelancaran impor justru membuat hubungan Beijing dan Muscat makin strategis. Bagi Oman, banyak pelabuhan yang berada di luar selat memberikan nilai tambahan ketika gangguan pada jalur utama semakin terasa.

Dengan demikian, serangkaian pertemuan, pengumuman utusan khusus, serta kunjungan kenegaraan di level kepala negara menggambarkan bahwa China berupaya mengunci ruang diplomasi di Timur Tengah. Beijing tampak mendorong agar komunikasi dengan pihak-pihak terkait dapat kembali berjalan, sekaligus menjaga kepentingan energi di tengah konflik AS–Israel yang ikut memantik ketegangan kawasan.

Langkah China tersebut tampak dipadukan dengan upaya mengamankan kepentingan ekonomi jangka pendek hingga jangka menengah. Ketika pertempuran dan eskalasi mengganggu kelancaran rute, Beijing berupaya menjaga agar jalur yang selama ini menopang pasokan energi tidak berubah menjadi titik risiko baru, sambil mendorong kanal komunikasi tetap aktif dengan Teheran dan Muscat.

Dalam kerangka itu, seruan agar pelayaran aman di Selat Hormuz terus menjadi pesan politik yang disandingkan dengan pendekatan diplomatik. Selain menegaskan perlunya dialog untuk menurunkan tensi, pernyataan bersama juga mendorong AS dan Iran melanjutkan percakapan, sehingga komunikasi diposisikan sebagai instrumen praktis untuk mencegah konflik kawasan melebar.

Di sisi lain, kerja sama China–Oman yang dituangkan melalui belasan dokumen memperlihatkan bahwa orientasi Beijing tidak berhenti pada pembahasan keamanan. Kesepakatan yang mencakup kecerdasan buatan, energi ramah lingkungan, rantai pasokan, hingga pertukaran mata uang memberi kerangka kolaborasi yang lebih konkret, sekaligus memperkuat hubungan kedua pihak ketika ketidakpastian di kawasan masih membayangi.