jurnalistik.co.id – Perang Iran dilaporkan telah merombak peta perdagangan gas alam cair (LNG) global, termasuk posisi Qatar yang selama ini dikenal sebagai salah satu pemain besar. Dalam kondisi baru, QatarEnergy kini harus mencari pasokan dari pihak yang sebelumnya menjadi pesaingnya.
Menurut laporan CNBC International, QatarEnergy sepakat mengimpor LNG sebanyak 4 juta ton per tahun dari perusahaan asal Amerika Serikat (AS), Cheniere Energy, dengan tenor hingga 2054. Kesepakatan tersebut diumumkan pada Kamis.
Langkah ini sekaligus menandai perubahan besar bagi Qatar. Sebelum pecahnya perang, Qatar berada di urutan kedua setelah AS dalam ekspor LNG secara global.
Kontrak LNG dari AS hingga 2054
CEO Cheniere Energy, Jack Fusco, menyatakan perusahaannya siap memasok QatarEnergy dari fasilitas Sabine Pass dan Corpus Christi. Fusco mengatakan, “Kami berharap dapat memasok QatarEnergy secara andal dari Sabine Pass maupun Corpus Christi hingga paruh kedua abad ini,” sebagaimana dikutip Sabtu (24/10/2026).
Dalam konteks industri, perjanjian jangka panjang semacam ini tidak hanya soal volume, melainkan juga kesiapan rantai pasok dari sisi produksi hingga pengiriman. Untuk Qatar, kontrak dari AS menjadi jalan untuk menjaga kontinuitas pasokan di tengah gangguan yang memburuk.
Kompleks Ras Laffan terdampak serangan
Kemunduran industri gas Qatar disebut terjadi setelah serangan Iran pada Maret yang merusak dua lini produksi utama di kompleks Ras Laffan. Dampaknya, kerusakan tersebut melumpuhkan sekitar 17% kapasitas ekspor LNG Qatar.
Menteri Energi Qatar, Saad Sherida Al-Kaabi, memperkirakan perbaikan fasilitas memerlukan waktu sekitar tiga tahun. Ia juga menyebut serangan itu sebagai “pukulan telak” bagi kapasitas produksi Qatar untuk beberapa tahun ke depan.
Hambatan lewat Selat Hormuz
Selain masalah kapasitas produksi, jalur ekspor Qatar juga disebut makin sulit karena ketergantungan pada Selat Hormuz. Kondisi tersebut terganggu akibat perang, termasuk serangan terhadap kapal tanker.
Al-Kaabi menyampaikan bahwa Qatar hanya mampu mengekspor LNG dalam jumlah “sangat kecil” karena tidak dapat mengirimkan pasokan melalui selat tersebut. Ia menambahkan, “Hanya segelintir kapal yang melintasi selat itu, itu pun dalam jumlah yang sangat kecil,” kata Al-Kaabi.
Berita Terkait
Alex Munton, direktur gas global dan LNG di Rapidan Energy, menilai kontrak Qatar dengan Cheniere mencerminkan upaya untuk mengantisipasi risiko gangguan pelayaran yang berlarut. Menurutnya, LNG sangat bergantung pada transportasi laut karena gas harus dicairkan sebelum dimuat ke kapal.
Munton menegaskan ketergantungan itu membuat pilihan pengiriman menjadi sangat terbatas. Ia berkata, “Mereka harus melewati Selat Hormuz. Tidak ada cara lain untuk mengirimkan LNG ke pasar. Mereka benar-benar terjebak,” ujarnya.
Dampak ke pasar: posisi AS makin menguat
Kesepakatan QatarEnergy tersebut juga disebut memperkuat posisi perusahaan gas AS di pasar global. Sejak perang dimulai, saham Cheniere dilaporkan naik 26%, sementara saham Venture Global meningkat 40%.
Munton menambahkan bahwa pembeli kini semakin mengandalkan AS untuk mendiversifikasi pasokan energi. Ia juga menyebut sejumlah proyek ekspor LNG baru masih terus dibangun di negara tersebut, sehingga daya tawar pemasok AS berpotensi makin meningkat.
Potensi pasokan tambahan dari AS
QatarEnergy juga disebut tengah menjajaki tambahan pasokan dari AS. Reuters melaporkan bahwa Venture Global berada dalam pembicaraan lanjutan untuk memasok 3 juta ton LNG per tahun kepada QatarEnergy, berdasarkan sumber yang mengetahui pembicaraan itu.
Sejalan dengan itu, analis UBS Manav Gupta menilai kesepakatan dengan Cheniere dapat membantu Qatar memenuhi komitmen pengiriman internasional di tengah terbatasnya produksi domestik.
Latar produksi Qatar dan proyek North Field
Sebelum perang, Qatar merupakan salah satu produsen sekaligus eksportir LNG terbesar dunia, bersaing dengan AS dan Australia di pasar global. Negara Teluk itu mengandalkan kompleks Ras Laffan sebagai pusat utama produksi dan ekspor gas, dengan pasokan yang penting bagi pasar Asia dan Eropa.
Qatar juga tengah memperluas kapasitas produksinya melalui proyek North Field. Namun, kerusakan fasilitas dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz kini menghambat ambisi tersebut.
Meski volume pembelian Qatar dari Cheniere berada di bawah 1% dari perdagangan LNG global yang melampaui 400 juta ton per tahun, Munton menyebut perjanjian ini sebagai salah satu kesepakatan individual terbesar di pasar LNG AS. Pada akhirnya, kontrak tersebut menunjukkan bahwa perang tidak hanya mengganggu pasokan energi dari Timur Tengah, tetapi juga membuka peluang bagi AS untuk memperluas dominasi sebagai eksportir LNG dunia.












