Internasional

Ratusan Orang Ditangkap Terkait Kebakaran Hutan Prancis yang Belum Pernah Terjadi: Siapa yang Bertanggung Jawab?

×

Ratusan Orang Ditangkap Terkait Kebakaran Hutan Prancis yang Belum Pernah Terjadi: Siapa yang Bertanggung Jawab?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Hundreds arrested over French wildfires, but who is to blame?

jurnalistik.co.id – Kebakaran hutan di Prancis musim panas ini memicu respons besar dan pertanyaan yang sama berulang: mengapa kebakaran yang merusak begitu luas bisa terjadi begitu cepat dan siapa yang harus bertanggung jawab.

Tahun ini, dampaknya disebut lebih buruk daripada periode mana pun sejak Perang Dunia II. Pemerintah juga menyebut upaya pemadaman telah digerakkan menyusul kebakaran besar di wilayah Gironde pada akhir Juli, sementara api telah menghanguskan lebih dari 300.000 acre.

Di tengah situasi itu, otoritas berusaha menetapkan pihak yang patut dipersalahkan. Kementerian dalam negeri mengumumkan 420 penangkapan, dengan dugaan keterlibatan seseorang dalam menyalakan api baik secara sengaja maupun secara tidak sengaja. Dari jumlah tersebut, 166 di antaranya berusia di bawah 18 tahun.

Pakar dan pejabat pemerintah sama-sama mengaitkan risiko kebakaran dengan perubahan iklim. Artikel tersebut menekankan bahwa perubahan iklim terjadi karena cara manusia membakar bahan bakar fosil, yang membuat suhu terus meningkat.

Namun, masalahnya tidak berhenti di faktor cuaca. Rekam data juga menunjukkan bahwa sembilan dari 10 kebakaran hutan di Prancis dipicu oleh aktivitas manusia. Karena itu, pemerintah berupaya mengarahkan narasi “siapa yang bersalah”, sekaligus menghadapi tudingan bahwa negara sendiri belum siap menghadapi inferno yang kini telah menyapu area sangat luas.

Langkah penegakan hukum dan tuduhan yang menyertai

Dalam salah satu kasus yang disorot, seorang pria berusia 23 tahun dituduh dengan sengaja menyalakan 10 kebakaran selama lima hari di wilayah Var pada bulan lalu. Jika terbukti bersalah, ia menghadapi ancaman hingga 15 tahun penjara dan denda sebesar €150.000 (sekitar £128.000).

Selain itu, sejumlah tersangka lain disebut telah menjalani proses hukum dan langsung dijatuhi vonis. Misalnya, seorang pria menerima hukuman penjara tiga tahun karena memulai tiga kebakaran di hutan Raon-L’Étape, wilayah Vosges.

Meski tindakan tersebut menunjukkan ketegasan, sebagian pihak menilai langkahnya terkesan berlebihan. Muriel Gestas, seorang pengacara yang pernah menangani beberapa terdakwa dugaan pembakaran, termasuk dua petugas pemadam kebakaran, mengatakan ia terkejut dengan banyaknya penangkapan dan merasa kesannya “berlebihan”. Ia juga meragukan sebagian besar kasus akan berujung pada putusan bersalah di pengadilan.

Penilaian serupa datang dari surat kabar Le Monde. Media tersebut mempertanyakan sejauh mana polisi memeriksa detail perkara, terutama karena rentang waktu yang disebut sangat singkat. Menurut mereka, ketertutupan otoritas atas rincian—termasuk muatan dakwaan, apakah ada unsur kesengajaan, dan bagaimana perbandingan jumlahnya dengan musim-musim sebelumnya—membuat perbandingan yang bermakna menjadi sulit.

Meski demikian, jaksa penuntut di Bordeaux, Renaud Gaudeul, menyatakan pendekatan keras dianggap wajar sesuai keadaan terkini. Ia dikutip menyebut bahwa syarat untuk tuduhan “membahayakan nyawa” terpenuhi bagi mereka yang membuang puntung rokok atau menyalakan pemanggang/barbekyu di area bervegetasi. “Hanya diperlukan percikan kecil agar api bisa menyala,” demikian kutipan yang dinyatakan media tersebut.

Bagaimana asal api dilacak

Menentukan titik awal sebuah kebakaran tidaklah mudah. Eric Dufayet, seorang petugas yang menyelidiki kebakaran, menjelaskan bahwa pada periode kekeringan seperti saat ini, cukup dengan pemantik sederhana untuk memicu api.

Setelah api padam, tugas pertama timnya adalah memetakan garis tepi kebakaran mengikuti batas vegetasi yang terbakar. Dari situ, proses berlanjut dengan penelusuran balik hingga titik asal.

Jika arah angin relatif stabil, garis batas tersebut sering membentuk pola seperti huruf “V”. Tim kemudian bekerja mundur mengikuti jejak jalur yang ditempuh api saat merambat.

Dufayet juga menyampaikan bahwa jika ada tindakan sengaja, pelaku mungkin tidak memakai hanya satu alat. Penelusuran itu, menurutnya, dapat meningkatkan peluang ditemukannya sampel DNA atau sidik jari.

Di sisi lain, para ahli meyakini pembakaran dengan motif jahat hanya merupakan sebagian kecil dari seluruh kebakaran. Mayoritas diyakini bersifat kecelakaan. Percikan bisa berasal dari pekerjaan konstruksi, perangkat listrik yang mengalami kerusakan, puntung rokok, hingga aktivitas barbekyu.

Untuk kasus rokok, Eric Dufayet menyebut “aturan 30”. Agar sebuah api bisa tercipta, diperlukan suhu minimal 30°C, kelembapan maksimum 30%, angin di bawah 30 km/jam, serta setidaknya 30% rokok yang belum habis terbakar. Dalam kondisi kekeringan sekarang, prosesnya dinilai menjadi lebih mudah dan api dapat cepat menyebar.

Motif pelaku menurut pakar perilaku

Michel Lejoyeux, profesor psikiatri dan perilaku adiktif di Paris 7, menyebut pelaku yang memulai kebakaran dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori. Pertama, mereka yang ceroboh. Kedua, mereka yang memperoleh keuntungan—misalnya melalui pembayaran asuransi. Ketiga, mereka yang mengalami pyromania.

Ia mengutip bahwa pelaku pyromania tidak mengejar uang, tidak memiliki dorongan balas dendam, dan tidak ada manfaat praktis dari kebakaran. Meski begitu, orang dengan kondisi ini “menyukai api”.

Namun, pyromania sendiri adalah gangguan psikiatrik yang langka dan menurut Lejoyeux sangat sulit didiagnosis. Karena itu, ia menilai kasus dengan putusan bersalah karena pembakaran dengan motif tersebut tidak banyak.

Gestas, yang juga menangani kasus pembakaran, menambahkan kemungkinan motif tertentu. Ia menyebut sebagian petugas pemadam kebakaran yang dituduh mungkin ingin dipandang sebagai penyelamat. Pada kelompok lain, khususnya relawan yang memperoleh upah lembur tanpa pajak, motif bisa terkait keuntungan finansial.

Janji perbaikan, sementara kekhawatiran belum reda

Meski penanganan perkara berjalan, kekhawatiran publik soal kebakaran hutan belum juga surut. Prakiraan menyebut gelombang panas berikutnya hanya tinggal beberapa hari lagi.

Presiden Emmanuel Macron menegaskan bahwa kritik tidak menjadi prioritas saat ini. Ia mengatakan Prancis harus menanam kembali dan membangun jenis hutan yang berbeda karena negara perlu menyesuaikan diri dengan kondisi struktural akibat perubahan iklim. Ia juga menekankan bahwa waktu untuk meninjau pelajaran yang dipetik akan datang nanti, sementara negara harus tetap bersatu.

Dalam situasi yang dinilai “sepenuhnya belum pernah terjadi sebelumnya”, dampak kebakaran terhadap lingkungan, ratusan rumah, sektor pariwisata, bisnis lokal, serta kualitas udara membuat banyak orang membutuhkan jawaban yang jelas—bukan hanya soal cuaca, tetapi juga soal tanggung jawab di balik api yang muncul di tengah musim yang paling rawan.