Teknologi

Kantor antariksa Korea Selatan merilis foto Bulan setelah serpihan roket SpaceX menabrak pada Rabu

×

Kantor antariksa Korea Selatan merilis foto Bulan setelah serpihan roket SpaceX menabrak pada Rabu

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: South Korea space agency shares Moon images after SpaceX rocket debris crash

jurnalistik.co.id – Kantor antariksa Korea Selatan, KASA, merilis rangkaian gambar permukaan Bulan menyusul insiden serpihan roket SpaceX yang menghantam satelit itu pada Rabu. Dalam unggahan tersebut, KASA menampilkan kondisi Bulan sebelum dan sesudah tumbukan.

Menurut KASA, wahana pengorbit Bulan milik mereka, Danubri, berhasil menangkap citra setelah dampak terjadi. Gambar-gambar itu kemudian dibagikan bersamaan dengan foto yang menunjukkan rupa permukaan Bulan sebelum insiden berlangsung.

Badang tumbukan terjadi pada sekitar 06.35 GMT pada hari Rabu, demikian keterangan pihak Korea Selatan. KASA menuturkan serpihan roket mengenai permukaan Bulan, lalu Danubri melakukan pemotretan lanjutan untuk merekam perubahan yang terjadi.

SpaceX menyatakan bahwa tabrakan tersebut bukanlah aksi yang disengaja. Pernyataan itu muncul setelah sejumlah pengamat mengikuti jejak roket yang sejak awal berada di orbit jauh sebelum akhirnya mengarah ke Bulan.

Di belakang kejadian ini, SpaceX menggunakan keluarga roket Falcon 9 yang dirancang untuk penerapan bertahap. Pada umumnya, bagian atas roket (upper stage) direncanakan dapat kembali ke Bumi, sementara elemen lain dilepaskan dan beredar di luar jalur misi.

Untuk perjalanan kali ini, tahap atas Falcon 9 yang diperkirakan kelak menumbuk Bulan memiliki ukuran yang sebanding dengan bangunan setinggi lima lantai. Bobotnya juga disebut berada di kisaran sekitar 4.000 kg atau sekitar 630st di Bumi.

Para ilmuwan memperkirakan bahwa tahap atas Falcon 9 tersebut akan tiba di area Bulan dengan kecepatan kira-kira 5.400 mph atau 8.700 km/jam. Kecepatan yang tinggi ini menghasilkan kilatan singkat dan dramatis saat serpihan mencapai permukaan, namun kilatan itu tidak mudah ditangkap oleh astronom amatir sekalipun memakai teleskop kelas menengah hingga tinggi.

Karena dampak tidak menimbulkan risiko bagi Bumi, perhatian kemudian bergeser ke sisi pengamatan ilmiah. KASA menyebut observatorium yang lebih besar, termasuk lembaga terkait di Korea Selatan, tengah menganalisis informasi yang berkaitan dengan kejadian itu.

Matt Bothwell, astronom dari University of Cambridge, mengingatkan soal implikasi jangka panjang terkait kerapatan benda di ruang angkasa. Ia menilai situasi dapat menjadi semakin sulit dalam beberapa dekade ke depan, dengan kutipan: ā€œSpace is getting more and more crowded,ā€ he said, as each year ā€œwe launch more stuff into spaceā€. ā€œIt could feasibly be within a few decades that it’s actually quite hard to get past Earth’s orbit because space is so crowded,ā€ Bothwell warned.

Falcon 9 yang terlibat dalam kejadian ini telah berada di orbit sejak Januari tahun lalu, saat roket lepas landas dari Florida. Tahap penguat (booster section) yang sama kemudian direncanakan akan memulai penerbangan ke-18 pada 10 Agustus mendatang, sementara misi yang dikaitkan dengannya bertujuan meluncurkan 29 satelit Starlink ke orbit Bumi rendah.

Roket yang diluncurkan dari Florida pada Januari tahun lalu membawa dua wahana pendarat Bulan. Tugasnya adalah menembakkan tahap atas dengan cukup kuat untuk melepaskan kedua pendarat dari orbit Bumi dan menempatkannya menuju lintasan yang mengarah ke Bulan.

Setelah bagian misi selesai, tahap yang tidak terpakai dibiarkan melayang dalam orbit memanjang berbentuk gelombang yang bergerak menjauh lalu kembali mendekati Bulan. Selama kira-kira 18 bulan, tarikan gravitasi Bumi, Bulan, dan Matahari, serta tekanan cahaya dari Matahari, memberi dorongan yang sangat halus pada lintasan benda tersebut.

Para astronom yang melacak lintasan roket kemudian menyimpulkan bahwa dorongan kecil itu perlahan membentuk arah menuju Bulan. Akibatnya, benda tersebut terus mengalami peningkatan kecepatan dari hari ke hari, hingga akhirnya terjadi dampak pada Rabu.

Secara visual, insiden itu terjadi pada siang hari di banyak wilayah dunia. Akan tetapi, kilatan yang dihasilkan oleh tumbukan serpihan ke permukaan Bulan dinilai terlalu redup untuk diamati langsung, bahkan melalui teleskop.

Rilis gambar dari Danubri oleh KASA menjadi langkah lanjutan untuk memahami dampak tersebut dan menilai kondisi permukaan yang terkena. Dengan membandingkan foto sebelum dan sesudah tumbukan, informasi yang diperoleh diharapkan dapat membantu pembacaan perubahan di lokasi dampak serta memperkaya data pengamatan astronomi.