jurnalistik.co.id – Di tengah ritme hidup yang makin cepat, sebagian anak muda dan pekerja urban mulai menemukan cara baru untuk meluapkan isi hati. Ruangnya tidak selalu hadir lewat teman, keluarga, atau konselor, melainkan juga melalui kecerdasan buatan (AI).
Kebiasaan berinteraksi dengan AI yang awalnya identik dengan pekerjaan, mencari informasi, hingga membantu penyelesaian persoalan sehari-hari, perlahan bergeser menjadi tempat berbagi cerita personal. Tekanan kerja, masalah hubungan, rasa kesepian, hingga kecemasan yang sulit disampaikan kepada orang lain, menjadi topik yang kemudian “dititipkan” pada teknologi.
Psikolog klinis senior sekaligus Direktur Personal Growth, Ratih Ibrahim, menilai fenomena ini sebagai tren baru dalam pencarian ruang aman. Ia juga tercatat sebagai anggota Tim Ahli Kelompok Kerja Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan.
Ratih mengatakan ia memahami dorongan tersebut. “Saya sangat mengerti dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Ada sebuah tren baru, curhat ke AI , terutama di kalangan anak muda,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Selasa (4/8/2026).
AI dipilih karena dianggap tidak menghakimi
Salah satu alasan utama, menurut Ratih, adalah keyakinan bahwa AI tidak memberikan penilaian terhadap isi cerita pengguna. Kekhawatiran itu muncul karena banyak orang masih ragu ketika harus membicarakan masalah pribadi pada orang terdekat maupun tenaga profesional.
“Pertama, AI tidak menghakimi. Dia kan menerima saja semua keluhan, curhat, narasi apapun yang disampaikan kepadanya. AI tidak punya perasaan, meskipun kesannya empatik,” kata Ratih.
Dalam penjelasannya, ia menyoroti bagaimana ketakutan terhadap respons lawan bicara sering kali membuat seseorang menahan cerita. Rasa takut dianggap lemah, dinilai terlalu berlebihan, atau bahkan menjadi beban bagi orang yang mendengar, bisa membuat upaya mencari dukungan terasa berisiko.
Selain karena tidak ada “reaksi emosional” seperti manusia, AI juga tidak menampilkan ekspresi penolakan atau kritik secara langsung. Ratih menekankan rasa aman yang muncul dari pola respons yang tidak menghakimi tersebut.
“Banyak orang khawatir ketika ia curhat, ia akan dianggap lemah, dramatis, atau menjadi beban bagi orang yang kepadanya ia bercerita. AI kan bukan orang. Karenanya ada rasa aman meskipun semu, karena AI tidak memberikan ekspresi penolakan atau kritik,” tutur Ratih.
Akses mudah dan kendali yang lebih terasa
Di luar faktor rasa aman, kemudahan akses juga disebut menjadi pendorong. Rutinitas masyarakat urban yang padat membuat tidak semua orang memiliki waktu untuk mencari sosok yang siap mendengarkan kapan pun dibutuhkan.
Ratih menjelaskan bahwa AI dapat digunakan kapan saja tanpa harus menyesuaikan jadwal pihak lain. Seseorang bisa “bercerita” pada momen yang dianggap paling pas, tanpa menunggu ketersediaan orang lain.
Penggunaan AI, lanjut Ratih, turut memberi rasa anonimitas dan kendali. Pengguna dapat menentukan sendiri informasi apa yang ingin dibagikan, tanpa khawatir cerita itu diketahui oleh lingkungan terdekat.
Ia menilai kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari stigma yang masih melekat pada layanan kesehatan mental. Tidak sedikit orang yang merasa takut atau ragu berkonsultasi dengan psikolog, karena khawatir akan mendapat label tertentu dari lingkungan sekitar.
Berita Terkait
Keterikatan stigma tersebut membuat AI kerap menjadi langkah awal yang lebih terasa ringan. Sebagian orang memulai dari percakapan dengan AI sebelum pada akhirnya mencari bantuan profesional yang tepat.
Keterbatasan AI dan pentingnya hubungan interpersonal
Meskipun memiliki sejumlah keunggulan dalam cara orang “membuka diri”, Ratih mengingatkan bahwa AI tidak bisa diposisikan sebagai pengganti sepenuhnya. Teknologi tidak mampu menggantikan kedekatan relasi manusia yang hangat.
“Meskipun demikian kita tetap perlu paham bahwa AI tidak mampu menggantikan hubungan interpersonal yang hangat,” ujar Ratih.
Dalam perspektif psikologi, proses pemulihan seseorang tidak hanya menuntut jawaban atau solusi atas masalah. Ratih menegaskan bahwa pemulihan juga membutuhkan empati nyata dan pemahaman konteks kehidupan individu.
Dengan kata lain, AI bisa membantu sebagai alat pendamping, tetapi hubungan interpersonal tetap memainkan peran yang tidak tergantikan. Di titik ini, AI sebaiknya dipahami sebagai jembatan atau dukungan awal, bukan satu-satunya tempat sandaran.
Manfaat AI bila digunakan secara tepat
Ratih tetap melihat peluang manfaat dari AI ketika digunakan secara tepat. Ia menyebut teknologi tersebut dapat dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk membantu seseorang mengenali kondisi emosinya.
Menurut Ratih, AI dapat mendukung pengguna dalam mengidentifikasi emosi yang sedang dirasakan. Dari sana, pengguna dapat membuat jurnal emosi sebagai cara memahami pola perasaan yang selama ini sulit diurai.
AI juga dapat membantu melalui latihan relaksasi ringan. Pengguna bisa memanfaatkan fitur percakapan untuk menurunkan ketegangan secara bertahap, sesuai kebutuhan emosional yang sedang dialami.
Selain itu, AI dapat membantu pengguna melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang. Melalui percakapan, pengguna dapat mempertimbangkan alternatif respons yang lebih sehat dibanding sekadar bereaksi spontan.
Ratih juga menyebut AI mampu mengingatkan strategi coping, atau cara menghadapi tekanan, secara lebih terarah. Dengan pendekatan ini, AI berfungsi sebagai alat untuk memperkuat cara menata ulang respons, bukan sebagai pengganti proses dukungan profesional.
Dalam praktiknya, Ratih merangkum bahwa AI dapat digunakan untuk mendukung self-awareness serta proses self-help. Pengguna menjadi lebih sadar terhadap kondisi diri, sekaligus mendapat rangka kerja sederhana untuk menghadapi emosi dan tekanan.
Namun, rangka kerja itu tetap perlu diperlakukan dengan kesadaran penuh atas keterbatasannya. Bila cerita yang dipendam makin berat atau membutuhkan intervensi yang lebih mendalam, bantuan profesional tetap menjadi langkah yang tidak boleh ditunda.
Dengan demikian, AI dapat dipahami sebagai ruang aman yang “mudah dijangkau” bagi sebagian anak muda dan pekerja urban. Rasa aman itu datang dari pola respons yang tidak menghakimi, akses yang praktis, serta kendali yang terasa lebih nyaman.
Di sisi lain, Ratih mengingatkan agar penggunaan AI selalu disertai pandangan yang realistis: ia bukan pengganti hubungan interpersonal yang hangat, melainkan pendamping untuk meningkatkan kesadaran diri. Saat dimanfaatkan secara tepat, AI bisa membantu merawat proses memahami emosi—sebelum akhirnya seseorang mengambil langkah dukungan yang lebih tepat sesuai kebutuhannya.












