Internasional

Kebakaran hutan Prancis dan Spanyol: Saksi menyebut “wall of flames” dan melaporkan ketakutan serta tekanan

×

Kebakaran hutan Prancis dan Spanyol: Saksi menyebut “wall of flames” dan melaporkan ketakutan serta tekanan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: France and Spain wildfires: Witnesses describe 'wall of flames', fear and stress

jurnalistik.co.id – Warga di Bordeaux mengaku berada dalam kondisi yang “anxious and fearful” setelah kebakaran hutan memangkas jarak hingga 15km dari pinggiran kota. Pierre Pourquery mengatakan banyak orang memakai masker, sementara sebagian lain kesulitan bernapas akibat “thick smoke haze” yang menyelimuti area tersebut.

Di tengah ancaman asap yang menyebar, ketegangan juga terasa di Biscarrosse Plage, sebuah resor pesisir yang berdekatan dengan titik evakuasi setempat. Rachel Hanberry dari BBC Radio 5 Live menyebut, “Everyone came here on Thursday night,” karena “People had nowhere to go” dan komunitas menyediakan rumah untuk menampung mereka.

Perasaan kehilangan dan tekanan berulang disampaikan lewat kesaksian warga. Hanberry menuturkan, “The community there has ‘lost so much’,” seraya menekankan bahwa “The stress and trauma that you feel as someone living here is immense.” Ia menggambarkan bagaimana situasi darurat mengubah keseharian di wilayah yang menjadi rujukan evakuasi.

Lebih jauh dari Bordeaux, di Cotignac, Prancis tenggara, Jo Barnes dan keluarganya sempat berstatus pengungsi selama empat hari. Ia menceritakan, “A wall of orange flames came roaring up over the hill,” sebelum api kembali mendekati area mereka; “within 10 metres of the back of our house, we have a gas tank here, it was all very dramatic.”

Meski lereng sekitar hangus dan menghitam, Cotignac disebut tidak mengalami kerusakan berarti. Barnes menambahkan bahwa “the town of Cotignac was undamaged” dan rumah mereka tetap berdiri, sebuah kontras yang dirasakan keluarga setelah berada di situasi ancaman langsung.

Di Spanyol, dampak kebakaran hutan turut menyentuh skala evakuasi yang luas. BBC melaporkan bahwa lebih dari 300.000 orang dievakuasi di kedua negara, setelah kebakaran menghanguskan puluhan ribu hektare wilayah. Di wilayah Madrid tengah, tempat lebih dari 27.000 hektare telah terbakar, Olga Congacha menggambarkan suasana panik ketika “Everyone had to get out of the village quickly” dan situasinya “was a critical situation and people were scared.”

Congacha bersama suami memilih langkah seperlunya sambil menyelamatkan dokumen dan pakaian, mengatakan, “[We] left with all that we could grab, our important documents, some clothes”. Di provinsi Castellón bagian timur, Ricardo Pozo menyatakan pengalaman yang ia nilai tak pernah ia lihat sebelumnya, “I’ve never seen a fire this intense before,” meski ia mengaku pernah menyaksikan kebakaran besar di televisi: “Nothing like this, here and now.”

Di Betxí, Maria Garcia mengungkap perubahan drastis pada ritme hidup para pengungsi. Ia menyampaikan, “You can’t go out to work, you can’t go about your daily life,” serta menuturkan pemandangan yang ia saksikan: “You can see the mountains you’ve known your whole life burning,” sebelum pekerjaan dan aktivitas harian berhenti total.

Kekacauan serupa juga memengaruhi rencana liburan wisatawan. James Hillier yang sedang mengunjungi putranya di Lacanau, sekitar 42 km ke timur Bordeaux, mengatakan, “The whole town got consumed by smoke,” dan bahkan melihat serpihan abu jatuh dari langit: “I noticed a big lump of it landed on my hand.” Setelah pindah dari Lacanau ke Bordeaux, ia mendapati udara terasa menyengat; “the air was acrid – it stung your eyes and people were wearing masks,” sebelum akhirnya memilih pergi lebih jauh ke bagian utara Prancis.

Sarah dari Hertfordshire menyatakan keluarganya harus memperpendek liburan berdurasi satu minggu di Bordeaux karena asap. Ia menggambarkan, “We sealed all the apartment up, but it still had a really strong smell of smoke everywhere. It was quite worrying,” lalu memperingatkan adik iparnya, Georgia, agar tidak datang ke area Bordeaux yang sempat dijadwalkan dari Lacanau. Georgia kemudian mengalihkan rencana menginap, namun ia mengaku tidak bisa mendapatkan pengembalian dana dari operator akomodasi karena pada saat pembatalan, api belum mencapai Lacanau: “If we don’t find a solution with them we currently stand to lose over £3,500.”