jurnalistik.co.id – Serangan oleh pemukim Israel di Tepi Barat kembali dilaporkan warga Palestina, kali ini menargetkan dua masjid, beberapa kendaraan, dan lahan pertanian di wilayah pendudukan. Insiden terbaru itu muncul ketika ketegangan di kawasan terus meningkat.
Menurut pejabat Palestina, serangan yang terjadi dalam rentang waktu semalam itu menimbulkan kerusakan di sejumlah titik. Warga juga melaporkan aksi perusakan serta coretan kebencian pada bangunan-bangunan yang terdampak.
Serangan menyasar masjid, mobil, dan lahan pertanian
Pejabat Palestina menyatakan, dua masjid menjadi sasaran pembakaran. Selain itu, mobil dilaporkan mengalami vandalisme, sementara lahan pertanian turut dirusak. Klaim ini disampaikan seiring situasi keamanan di Tepi Barat yang dinilai makin rapuh oleh banyak pihak.
Serangan terbaru terjadi dua hari setelah bentrokan dekat Desa Tal. Peristiwa itu, menurut laporan, menyebabkan empat warga Palestina dan dua warga Israel tewas. Baik kelompok pemukim maupun warga Palestina saling menuduh pihak lain memicu kekerasan dalam pertemuan tersebut.
Dalam laporan warga, dua desa di Tepi Barat pendudukan disebut mengalami serangan pada malam hari. Di salah satu lokasi, sejumlah kendaraan dirusak, properti dikabarkan dicuri, dan slogan bernuansa kebencian dicoratkan pada dinding.
Sementara itu, walikota Qusra menyebut pemukim membakar sebuah masjid yang sedang dibangun. Abdul Azim Wadi juga mengatakan, coretan pada dinding masjid memuat kata “revenge”.
Juru bicara militer Israel menyatakan pasukan dikerahkan ke Qusra dan polisi akan melakukan penyelidikan. Menurut keterangan tersebut, aparat akan mengumpulkan bukti terkait peristiwa yang dilaporkan terjadi di wilayah itu.
Di insiden lain, pejabat Palestina menyampaikan bahwa pemukim membakar masjid lain di Desa Kour serta menorehkan slogan pada dindingnya. Setelah bentrokan di Tal, warga Palestina mengatakan serangan pemukim berulang kali menyasar permukiman di berbagai bagian Tepi Barat.
Respons militer dan janji “aksi kuat” dari PM Israel
Sejak bentrokan mematikan pada hari Jumat di Tal, pejabat Palestina menilai eskalasi serangan berlanjut. Sementara itu, militer Israel menyebut telah melakukan penggerebekan dan menangkap lebih dari 130 orang selama akhir pekan dalam operasi yang dinamainya “counter-terrorism”.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu merespons insiden di Tal dengan berjanji melakukan “powerful action”. Ia menyebutkan antara lain kemungkinan pembongkaran rumah dua warga Palestina yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut.
Di lapangan, desa Sarra disebut berada berdampingan dengan Tal. Dari bukit sebelah, pos terdepan Havat Gilad terlihat jelas, dan kehadiran pasukan Israel sepanjang akhir pekan dilaporkan cukup kuat.
Kesaksian warga: ketakutan, pelarian darurat, dan upaya bertahan
Hanan Turabi, warga yang berbicara kepada BBC, menyampaikan pengalamannya dalam keadaan berlinang air mata di dekat rumahnya. Ia mengatakan bangunannya termasuk salah satu dari enam bangunan yang dibakar, sementara lebih dari selusin lokasi lain juga mendapat serangan lempar batu.
Menurut Turabi, tetangga-tetangga segera menyapu air hitam pekat dan abu dari rumah. Furnitur yang hangus lalu dimuat ke sebuah truk di luar. Turabi juga menceritakan ia melihat kerumunan pemukim berlari dari arah perbukitan menuju rumahnya.
Ia menyatakan sempat bertahan hingga detik terakhir sebelum akhirnya mengungsi membawa empat anaknya. “They came from everywhere,” ujarnya. Ia juga menambahkan, “We tried to escape but they followed us and threw stones.”
Berita Terkait
Turabi mengatakan ia ingin tetap berada untuk melindungi rumahnya, tetapi pada akhirnya harus memilih antara bangunan yang terbakar dan keselamatan keluarganya.
Di kesempatan lain, Kaied Ahmad Turabi—yang saat itu berada di lokasi untuk mengunjungi orang tua dan saudarinya di desa—mengatakan serangan terjadi ketika ia tengah berada di tengah keluarga. Ia juga dilaporkan sempat berhadapan langsung dengan pemukim di teras rumah tetangga, setelah direkam saat peristiwa berlangsung.
Kaied menyebut ia baru saja keluar dari rumah sakit ketika berbicara kepada BBC. Ia menggambarkan kondisi memar dan luka yang dideritanya, termasuk mata yang lebam, beberapa luka sayat, memar di tubuh, serta luka di kepala yang menurutnya membutuhkan 12 jahitan.
Ia kemudian menyampaikan kutipan yang menggambarkan pengalamannya menghadapi serangan. “I worked all my life with Jewish people, but these people… they all had covered faces, all of them had a lot of stuff – sticks, and things in their pockets. They came ready,” katanya.
Gas air mata, kontrol kerumunan, dan istilah militer Israel
Beberapa jam setelah serangan pertama, warga kembali menyaksikan situasi tegang. Mereka mengatakan pemukim terlihat lagi di pinggiran desa, lalu puluhan pemuda dilaporkan berlari menuju jalan utama untuk membentengi dan mempertahankan wilayah.
Dalam pengamatan warga, tentara Israel berdiri untuk memisahkan kelompok-kelompok tersebut. Sementara kerumunan pemukim perlahan menjauh, warga Palestina menilai cara pengendalian massa yang terjadi berbeda.
Menurut kesaksian, gas air mata dilepaskan berulang kali untuk mendorong warga agar mundur di sepanjang jalan. Sejumlah pemuda disebut berlari menembus kabut gas untuk menimbun tabung dengan tanah, atau menendangnya sambil terdengar teriakan “Palestine, Palestine”.
Pihak militer Israel pada Minggu menyatakan sedang berupaya mencegah “incidents of nationalist crime”, istilah yang mereka gunakan untuk serangan oleh pemukim Israel ekstremis di wilayah tersebut.
Namun, warga menilai adanya kontradiksi antara pernyataan pejabat Israel yang secara terbuka mengecam kekerasan ekstremis dengan kebijakan yang dinilai mendorong perluasan pos pemukiman secara liar. Dikatakan bahwa pertumbuhan pos terdepan itu membuat serangan terhadap warga Palestina terus berulang.
Dalam konteks itu, PM Israel menyebut akan mempercepat pembentukan dan legalisasi pos-pos pemukiman pertanian (farm outposts) di Tepi Barat, sebagai respons terhadap pembunuhan warga Israel dalam insiden Tal pada hari Jumat. Warga melaporkan pos-pos baru sudah muncul di area sejak saat itu, termasuk satu pos dekat Sarra yang terlihat dari jalan utama.
Eskalasi kekerasan di Tepi Barat dan data kematian
Kekerasan yang melibatkan pemukim dilaporkan meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir. Sejumlah kalangan internasional mengecam tren tersebut, namun belum terlihat tanda bahwa kekerasan akan menurun.
Situasi dinilai sebenarnya memburuk sebelum serangan yang dipimpin Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023. Setelah perang Israel melawan Hamas di Gaza meletus, kekerasan pemukim di Tepi Barat dikabarkan makin meningkat.
Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut 1,114 warga Palestina telah tewas di Tepi Barat, dengan sebagian besar kematian berasal dari tindakan militer Israel. PBB juga menyatakan sedikitnya 35 kematian terkait dengan serangan oleh pemukim.
Dalam periode yang sama sejak dimulainya perang di Gaza, PBB menyebut 41 warga Israel—termasuk warga sipil dan personel keamanan—tewas akibat serangan Palestina atau selama operasi militer Israel di Tepi Barat.
Israel dikatakan telah membangun ratusan permukiman yang menampung 700,000 orang Yahudi sejak mereka menduduki Tepi Barat dan Yerusalem Timur pada Perang Timur Tengah 1967. Wilayah yang dipersengketakan itu, menurut pandangan Palestina, adalah tanah yang mereka harapkan menjadi bagian dari negara masa depan bersama Gaza.
Di samping permukiman tersebut, diperkirakan 3.3 juta warga Palestina hidup berdampingan. Permukiman-permukiman itu dinilai ilegal menurut hukum internasional.












