Peristiwa

Kebakaran TPA Jatiwaringin Memasuki Hari Kelima, 102 Warga Mengungsi karena Asap

×

Kebakaran TPA Jatiwaringin Memasuki Hari Kelima, 102 Warga Mengungsi karena Asap

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 5 Hari Kebakaran TPA Jatiwaringin Belum Padam, 102 Warga Terpaksa Mengungsi

jurnalistik.co.id – Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, memasuki hari kelima. Kepulan asap dari lokasi insiden membuat 102 warga memilih mengungsi untuk menghindari dampak bahaya akibat sebaran asap material sampah.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa pengungsian dilakukan sebagai langkah pencegahan. Tujuannya adalah menjaga masyarakat tetap berada di area yang lebih aman dari paparan asap.

Abdul Muhari mengatakan kebakaran belum sepenuhnya padam hingga Sabtu (4/7/2026). Ia juga menegaskan bahwa hingga saat ini petugas terus melakukan penanggulangan di lokasi.

“Hingga saat ini, petugas gabungan terus berupaya melakukan penanggulangan,” kata Abdul Muhari, dikutip dari Antara. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah upaya pemadaman yang masih berlangsung intensif pada hari ke lima kejadian.

Di lapangan, tim medis disiagakan selama 24 jam di area pengungsian maupun lokasi yang terdampak. Penyiagaan itu dilakukan untuk mengantisipasi dampak buruk, khususnya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang berpotensi muncul akibat paparan asap.

Menurut Abdul Muhari, kelompok rentan menjadi prioritas utama dalam penjagaan medis. Mereka antara lain mencakup bayi di bawah lima tahun (balita), lanjut usia (lansia), serta penyintas penyakit bawaan.

Upaya penguatan penanganan tidak hanya difokuskan pada aspek kesehatan, tetapi juga pada koordinasi respons di tingkat daerah. Pemerintah Kabupaten Tangerang menetapkan status tanggap darurat bencana kebakaran TPA Jatiwaringin sejak Selasa (30/6/2026).

Status kedaruratan itu dituangkan dalam Keputusan Bupati Tangerang Nomor 609 Tahun 2026. Keputusan tersebut berlaku selama 14 hari ke depan, terhitung mulai 1 hingga 14 Juli 2026.

Pusat Pengendalian Operasi BNPB mengonfirmasi bahwa sampai dengan hari ini petugas gabungan lintas instansi masih terus berupaya memadamkan api secara intensif. Pemadaman dilakukan melalui jalur darat sambil mengoptimalkan operasi dari udara dengan dukungan bantuan dari BNPB.

Operasi udara menggunakan pengeboman air dinilai mendesak karena bara api masih terdeteksi aktif di beberapa titik. Bara tersebut berada di dalam tumpukan material sampah dengan kedalaman beberapa meter, sehingga pendekatan udara dianggap membantu memperkuat pemadaman.

Dengan kondisi itu, pengungsi dan warga terdampak diarahkan untuk tetap waspada terhadap dampak asap. Petugas terus melakukan penanggulangan sambil memastikan respons kesehatan berjalan, terutama bagi kelompok rentan yang lebih berisiko mengalami gangguan pernapasan.

Memasuki hari kelima, fokus penanganan tetap bertumpu pada dua jalur utama: menekan sumber titik api yang masih aktif dan meminimalkan risiko kesehatan akibat paparan asap. Langkah-langkah tersebut berlangsung bersamaan dengan status tanggap darurat yang telah ditetapkan pemerintah daerah.

Pengungsian dan langkah kesehatan

Pengungsian diupayakan agar masyarakat tidak terpapar langsung sebaran asap yang berasal dari proses pembakaran material sampah. Dalam konteks tersebut, tim medis disiagakan terus menerus untuk memastikan pelayanan pencegahan dan penanganan awal bila diperlukan.

Abdul Muhari menekankan bahwa prioritas medis diberikan kepada klaster kelompok rentan, seperti balita, lansia, dan penyintas penyakit bawaan. Antisipasi dilakukan terutama untuk mencegah berkembangnya dampak berupa ISPA.

Pemadaman darat dan bantuan udara

Sementara itu, upaya pemadaman terus dijalankan melalui operasi darat yang melibatkan petugas gabungan lintas instansi. Pada saat yang sama, BNPB juga membantu mengoptimalkan operasi dari udara untuk menargetkan titik-titik yang masih menunjukkan bara aktif.

Operasi udara berupa pengeboman air dipilih karena bara masih terdeteksi di beberapa tempat dalam tumpukan sampah yang bisa mencapai beberapa meter. Kondisi tumpukan yang dalam membuat pemadaman memerlukan pendekatan yang lebih menyeluruh agar proses peredaman dapat berlanjut sampai api benar-benar padam.