jurnalistik.co.id – Di balik rumor pesta pernikahan megabintang Taylor Swift, muncul satu bagian yang sering membuat tamu berpikir ulang: bagaimana sebaiknya memberi hadiah ketika “daftar hadiah” ditiadakan. Kebijakan ini bukan hanya soal etika, tetapi juga soal angka—berapa kira-kira nominal yang dianggap wajar saat tamu diminta menyalurkan dana bulan madu.
Swift dan Travis Kelce disebut menerapkan kebijakan tanpa hadiah. Namun, dalam undangan yang kini banyak beredar, permintaannya sering berubah bentuk: “Your presence is enough, but if you would like to give us a gift, please donate to our honeymoon fund.” Dengan bank transfer dan tautan donasi sebagai pengganti hadiah tradisional, tamu menghadapi dilema baru: berapa uang yang “patut” diberikan.
Prezola, layanan daftar pernikahan, menyebut mereka melihat tren pasangan yang mengundang tamu membiayai pengalaman tertentu, bukan sekadar mengumpulkan uang tunai dalam satu pot umum. Dari pengamatannya, kontribusi rata-rata tamu berada di angka ÂŁ116. Meski begitu, harapannya bisa sangat bervariasi, tergantung kedekatan, budaya, dan biaya untuk menghadiri acara tersebut.
Nominal berbeda-beda, tergantung kedekatan dan kemampuan
Jonny, 34, dan istrinya Lottie mengatakan mereka biasanya memberi antara ÂŁ250 hingga ÂŁ400. Rentangnya, menurut Jonny, ditentukan oleh seberapa dekat hubungan mereka dengan pengantin, serta kondisi finansial saat itu. “We don’t have that many friends, so it’s nice to give generously,” ujarnya.
Di pernikahan Jonny sendiri, ia menyebut sebagian besar sahabat dekat memberi antara £100 dan £200. Satu pasangan memberi £400, dan keluarga Jonny—tepatnya ayahnya—menyumbang £2,000. Uang itu kemudian digunakan sebagai dana belanja untuk bulan madu selama 17 hari di Kanada.
Jonny menegaskan keputusan itu juga didorong pertimbangan risiko. Ia mengatakan dana tersebut mereka siapkan “because it’s not worth the risk of relying on donations” sehingga tidak bergantung pada sumbangan yang belum tentu datang. Untuk mereka, pengalaman perjalanan jadi tujuan utama, bukan sekadar menutup kebutuhan sesaat.
Contoh lain datang dari Hannah Rose-Thorn, 30. Ia mengatakan ia “always gives £50 in a card” dan menemukan bahwa kontribusi rata-rata untuk dana bulan madunya ternyata berada di kisaran yang sama. Hannah juga menceritakan undangan mereka menyinggung uang, sekaligus menyiapkan kode QR cetak yang bisa dipindai tamu di acara resepsi.
Dalam ceritanya, “We mentioned money on our invitations and also created print-out QR codes for people to scan at the bar,” katanya. Dari kontribusi itu, ia menerima £3,000 yang akan dipakai sebagai uang saku untuk bulan madu—padahal bulan madu mereka sendiri sudah lebih dulu dibayar. Ia menggarisbawahi, dari sisi perencanaan, dana sumbangan lebih berfungsi sebagai tambahan pengalaman.
Hannah juga mengutip perhitungan dari Hitched, situs perencanaan pernikahan berbasis Inggris. Menurut Hitched, pasangan di Inggris rata-rata menghabiskan sekitar £4,000 untuk bulan madu. Namun, Hannah menyampaikan bahwa meminta uang tidak menghapus kemungkinan hadiah fisik; ia tetap menerima “champagne” dan gelas flute.
Ia berkata, “We got a lot of champagne and some flute glasses from my boss at work, which were nice, but we have a lot of that so it will most likely get regifted,”. Dengan nada yang sama, Jonny menambahkan bahwa sebagian tamu bisa memilih untuk mengabaikan permintaan donasi, karena mereka merasa ingin memberi sesuatu yang terasa lebih personal.
Ia menuturkan, “They mean well, but it probably means you’ll get a bunch of John Lewis and M&S vouchers, like we did, as well as some physical gifts too,”. Artinya, meskipun undangan mengarahkan donasi, variasi bentuk hadiah tetap muncul—dengan konsekuensi pada “ketepatan” nominal dan ekspektasi pengantin.
Uang dianggap standar—atau tetap terasa canggung
Berita Terkait
Chelsea Chivers, yang akan menikah pada Agustus, memandang isu ini lebih tegas. Ia mengatakan sebagian orang menilai uang terasa impersonal dan justru canggung untuk diberikan, tetapi baginya kebijakan ini sudah cukup lazim—jadi pilihannya seolah jelas: memberi atau tidak sama sekali. “Some people see money as impersonal and think it’s awkward to give but it’s kind of standard now, so either give nothing or give money,” katanya, lalu menambahkan, “Nobody wants that random dish.”
Biasanya, Chelsea memberi sekitar £200 untuk teman, dan lebih untuk keluarga. Ia juga menilai keputusan hadiah harus menyesuaikan kondisi acara. Contohnya, ketika seorang teman menikah di Afrika Selatan, ia tidak memberi hadiah karena biaya untuk menghadiri acara tersebut sudah mencapai “thousands”.
Chelsea juga mengungkap ada perbedaan pandangan dengan pasangannya mengenai besaran kontribusi. Ia mengatakan pasangannya akan memilih nominal yang lebih rendah: “He would ‘give ÂŁ50 if left to him’.” Bagi sebagian pasangan, perbedaan angka ini justru menjadi bagian dari negosiasi cara merayakan hari istimewa orang lain.
“Impersonal” bukan berarti tak disukai
Meski uang makin umum, tidak semua orang yakin bahwa dana tunai adalah hadiah terbaik. Ollie Hickey, 28, berkontribusi antara £30 dan £50 untuk beberapa dana bulan madu selama beberapa tahun terakhir. Ia mengaku merasa pemberian semacam ini “a little impersonal,” sehingga ia lebih menghargai ide bahwa hadiah terkait dengan pengalaman, bukan sekadar jumlah.
Menurut Ollie, “I like the idea that you can tie something specific to someone who shared your day with you, rather than a pot of money,”. Ia tidak sedang bertunangan, tetapi sudah membicarakan kemungkinan permintaan hadiah saat suatu hari menikah. Ia dan pasangannya berharap bisa meminta tamu membawa rekaman musik yang membuat mereka “joy,” karena menurutnya, itu “it’s a piece of the people that are part of our special day”.
Dari bulan madu ke kebutuhan keluarga
Tak semua pasangan memaknai dana tunai untuk kebutuhan bulan madu semata. Roxie Westood, misalnya, akhirnya menggunakan uang yang diterima untuk honeymoon guna membiayai IVF. Ia menikah di luar negeri di Ibiza dan mengaku “didn’t expect any gifts,” tetapi tamu tetap memberikan sekitar ÂŁ100 per pasangan.
Roxie menjelaskan bahwa harapan untuk hamil alami tidak berjalan seperti yang mereka rencanakan. “We had hoped we’d conceive naturally, but we’d started trying long before our wedding and it wasn’t happening,” ujarnya. Ketika “reality kicked in,” ia menilai menggunakan dana itu untuk IVF adalah langkah yang tepat karena membantu membiayai banyak bagian dari proses.
Ia mengatakan ia merasa bersyukur pada teman dan keluarga yang “playing a part” dalam membawa putranya ke dunia. Dalam kasus lain, Georgia Finch, 26, meminta uang untuk renovasi loteng (loft renovation) dan menerima £2,500 dari 80 tamu. Ia menyebut penerimaan itu “was amazing” dan mengatakan dana tersebut menutup kira-kira setengah biaya.
Sebagai tamu, Georgia menuturkan ia menyukai kontribusi tunai. Ia juga paling senang ketika rekan kerjanya membuat situs agar orang bisa menyumbang untuk pengalaman bulan madu yang spesifik—mulai dari “a couples’ massage, scuba diving or a luxury breakfast.” Ia menambahkan, nominal yang sanggup ia berikan saat ini relatif terbatas, yakni paling tinggi ÂŁ20, karena “money is tight right now”.
Lebih jauh, perbedaan budaya turut memengaruhi ekspektasi nominal. Ewa Lewszyk-Howes mengatakan kerabatnya dari Polandia memberi antara ÂŁ250 hingga ÂŁ400. Sementara kontribusi yang biasa diberikan oleh teman dan keluarga dari pihak suaminya yang berasal dari Inggris sekitar ÂŁ100 per pasangan.
“But that comes with different expectations,” katanya. Ia menjelaskan bahwa pernikahan Polandia sering diharapkan memuat perayaan besar, makanan tanpa henti, “an open bar and free accommodation.” Sebaliknya, “In the UK, guests are more likely to spend that money on travel, hotels, taxis and other costs that come with attending,” sehingga uang hadiah bisa berubah arah dari kebutuhan acara.
Pada akhirnya, pertanyaan “berapa yang layak” tampak tak punya satu angka pasti. Yang muncul justru spektrum: ada yang memilih £50 di kartu, ada yang memberi ratusan pound, ada pula yang menyesuaikan dengan biaya hadir atau bahkan mengalihkan dana untuk kebutuhan keluarga. Di tengah kebijakan tanpa hadiah, etika tamu seolah bergeser dari “apa yang dibeli” menjadi “bagaimana kontribusi itu dirasakan”—oleh pengantin dan oleh mereka yang datang merayakan hari tersebut.












