Olahraga

William di Podcast Travis Kelce: Arahkan ke Piala Dunia & soal “hates football” dari Raja Charles

×

William di Podcast Travis Kelce: Arahkan ke Piala Dunia & soal “hates football” dari Raja Charles

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: William talks World Cup football fever on Travis Kelce podcast

jurnalistik.co.id – Dalam kemunculan yang santai di podcast Travis Kelce, Pangeran William membahas euforia sepak bola bergulir di Piala Dunia, lengkap dengan candaan soal istilah yang dipakai para penggemar serta komentar mengejutkan tentang sikap King Charles terhadap olahraga itu.

Podcast itu, yang dipandu Travis Kelce bersama Jason Kelce, menjadi panggung bagi William untuk menyampaikan pengalamannya sebagai penggemar yang merasakan naik-turun emosi selama turnamen. Dalam percakapan tersebut, topiknya bukan acara pernikahan Travis dan Taylor Swift yang sudah di depan mata, melainkan kompetisi Piala Dunia yang tahun ini digelar dengan Amerika Serikat sebagai tuan rumah bersama.

Di tengah obrolan selama sekitar 28 menit, William lantas bercanda mengoreksi Travis yang menggunakan istilah “soccer”. William menyatakan bahwa yang benar adalah “football” dan menggarisbawahi perbedaan cara penyebutan itu.

Lebih lanjut, William mengungkapkan bahwa ayahnya, King Charles, memiliki pandangan yang kontras dengan tradisi sepak bola keluarga. Ia menyebut, “his father King Charles ‘hates football’”.

King Charles sebelumnya juga pernah menggambarkan dirinya sebagai pendukung Burnley, yang disebut-sebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi cara dia memandang sepak bola.

William juga berbicara tentang rencana jika tim Inggris melaju sampai laga puncak turnamen. Saat Travis bertanya, “They make it to the finals, you’re gonna make the trip across the pond?”, William menjawab, “Definitely. If we’re in the finals”.

Travis lalu menanggapi dengan antusias, “Oh, I love it, man”. William kemudian mengakhiri obrolan itu dengan nada bercanda, “Well, maybe. Maybe. See you both there for the final,” kepada Travis—yang saat itu berposisi sebagai tight end Kansas City Chiefs—serta Jason Kelce.

Pada kesempatan lain di podcast yang sama, William juga disentil topik yang berkaitan dengan momen besar di Amerika Serikat. Ia ditanya, “America is turning 250 years this year. Be honest. Are you surprised we made it?” dan William menggambarkan jawaban itu dengan jeda, “There were times… There were times…”.

Namun, William tetap menekankan harapannya agar hubungan Inggris dan Amerika Serikat terus berjalan selaras pada perayaan tersebut, “But I’d like to think the UK and the US would be together for those 250 years. Oh, yeah, it’s a good brotherhood.”

Obrolan juga menyentuh pertemuan yang pernah terjadi di pertandingan sepak bola di Wembley. Jason mengingat bahwa saat bertemu rombongan kerajaan, ia “didn’t know what to do with the beer he was holding when he met the royals”, lalu William menimpali dengan penjelasan protokol, “Yeah, it wasn’t a joke. It was real. Well, you want to be respectful and know the protocols,”.

Jason turut menilai pertemuan itu, dengan mengatakan bahwa “Princess Charlotte was still the highlight for me”. Ia menambahkan konteks karena ia juga memiliki empat putri, sehingga pertemuan tersebut terasa spesial bagi pengalamannya sebagai orang tua.

William kemudian memberi selamat sambil menyatakan kekagumannya, “Now, congratulations. Having four daughters. I don’t know how you do that,”. Jason lalu merespons, “That is definitely a difficult task. The hardest job,”.

Episode ini disebut direkam beberapa pekan lalu, seiring dengan acuan bahwa Inggris “having just played Croatia, which was the team’s opening game of the tournament”. Dari percakapan itu terlihat bahwa turnamen baru saja memasuki fase awal, sehingga William diminta menjelaskan apa yang akan membuat Piala Dunia dianggap “berhasil” bagi Inggris.

Ketika ditanya tentang ukuran kesuksesan itu, William menjawab singkat, “I think winning it”.

William juga menilai gaya manajer Inggris, Thomas Tuchel, yang disebutnya lebih “fluid” serta kurang defensif. Ia mengutip cara Tuchel mengatur tim dengan kalimat, “Thomas, I think, prefers to go a bit more out there – and if we lose, we lose playing the way we want to play. And if you’re going to score four goals, we’ll score five. And I think that’s a really good attitude,”.

Di bagian lain, William mengulas dinamika psikologis yang datang dari budaya menjadi pendukung sepak bola. Ia menggambarkan “strange attraction of the highs and lows of being a supporter”, termasuk betapa intensnya dukungannya ketika Aston Villa terdegradasi.

Ia mengatakan, “So I think weirdly, this sounds very odd, but I got into football more than ever when we got relegated”. Penjelasannya berlanjut pada perubahan status Aston Villa dari Premiership ke Championship, “So when Aston Villa went from Premiership to Championship, I suddenly really enjoyed the battle to get back in the Premiership.”

Menurut William, hasil yang didapat klubnya turut menentukan suasana akhir pekan. Ia menuturkan, “My weekend goes from being either the best we can in the world when we win… Or frankly, I don’t want to see anyone on Monday morning because I’m really down.”

William juga mengingat awal ia menjadi pendukung Aston Villa dari pengalaman menonton pertama kali, saat itu Villa berhadapan dengan Bolton 26 tahun lalu. Ia menyebut momen tersebut sebagai titik awal keterikatan dirinya pada klub.

Asal-usul ketertarikan pada sepak bola

Travis kemudian menanyakan apakah kecintaan William pada sepak bola menurun dari ayahnya. Pertanyaan itu berbunyi, “Did your dad get you into Aston Villa or is this your own doing?”.

William menegaskan jawabannya tanpa ragu, “Absolutely not. My father hates football,”.

Ia juga memperingatkan tuan rumah podcast soal sisi-sisi dukungan yang cenderung lebih gaduh. William berkata, “Those rowdy evenings, those long afternoons, a few drinks, the social elements of it. You know, there are plenty of chants you guys don’t want to hear. They’re pretty spicy. They’re quite rude to broadcast.”

Ketika diminta membahas perannya sebagai presiden Football Association, William merangkum nasihat manajerial dengan satu kalimat yang padat. Ia menuturkan, “Just don’t mess up”.

Setelah itu, podcast mengundang William menyusun pilihan pemain Inggris terbaik sepanjang masa dalam imajinasi “Mount Rushmore”. Daftar William mencakup Sir David Beckham, Gary Lineker, Harry Kane, Steven Gerrard, Frank Lampard, serta Sir Bobby Charlton.

William memberi penekanan pada Kane dengan komentar, “Harry Kane could end up being one of the greatest English strikers we’ve ever seen,”, sebelum cerita itu bergema dengan kenyataan bahwa Kane kemudian menjadi pencetak gol terbanyak Inggris.

Secara keseluruhan, episode ini juga menegaskan kecenderungan William untuk hadir di kanal media yang tidak selalu formal. Ia sebelumnya juga pernah berbicara soal ambisinya memodernisasi monarki dalam percakapan dengan komedian Eugene Levy di Apple TV tahun lalu, yang menjadi contoh lain pendekatannya terhadap ruang publik di luar wawancara tradisional.