Peristiwa

Dua saudara kembar asal Nigeria menikahi saudari kembar—dan berharap punya anak kembar

×

Dua saudara kembar asal Nigeria menikahi saudari kembar—dan berharap punya anak kembar

Sebarkan artikel ini
Twins marry twins in joyous Nigerian joint wedding
Ilustrasi: Nigerian twin brothers marry set of twin sisters - and say they want to twin children

jurnalistik.co.id – Saat para tamu berkumpul di sebuah gereja di Kota Ibadan, Nigeria barat daya, mereka menyaksikan peristiwa yang jarang terjadi: dua saudara kembar menikahi dua saudari kembar dalam satu rangkaian upacara yang sama.

Acara itu mempertemukan sepasang saudara kembar laki-laki, Taiwo dan Kehinde Oguntoye, dengan sepasang saudari kembar perempuan, Taiwo dan Kehinde Adediran, dalam pernikahan bersama yang berlangsung penuh sukacita.

Bagi masyarakat Yoruba yang banyak berada di wilayah Nigeria barat daya, kelahiran kembar dikenal cukup sering. Namun, mengawinkan dua set kembar sekaligus tetap bukan sesuatu yang tiap hari ditemui.

“We know many twins, but this marriage feels like it was arranged by God. We have always dreamed of marrying twins,” kata Taiwo Oguntoye pada hari pernikahannya dalam sebuah wawancara.

Ia menambahkan, “With God’s grace, we pray for twins in our first and second children. That is our heart’s desire.” Keinginan itu menegaskan harapan pasangan yang baru menikah untuk menghadirkan pula kebahagiaan serupa dalam keluarga mereka.

Dalam tradisi Yoruba, kembar dipandang sebagai berkah. Nama yang diberikan pun sarat makna: anak yang lebih tua disebut Taiwo, yang berarti “the one that tests the world”, sementara yang lebih muda bernama Kehinde, bermakna “the one that came after”.

Pernikahan ganda ini juga memperlihatkan dinamika kembar yang berbeda di antara mereka. Taiwo dan Kehinde adalah saudara kembar yang bersifat fraternal, sedangkan Taiwo dan Kehinde Adediran merupakan saudari kembar yang identik.

Menurut cerita yang mereka bangun bersama, kisah cinta Oguntoye-Adediran mulai lebih dari satu dekade lalu, ketika keempatnya menempuh pendidikan di University of Ibadan.

Seorang dosen ketika itu memperkenalkan mereka dengan sepasang saudari kembar yang dinilai cocok untuk dijumpai. Kehadiran gagasan perkenalan tersebut membuat perhatian para saudara semakin besar, hingga akhirnya sebuah pertemuan bisa dijadwalkan.

Namun, tidak semua berjalan mudah sejak awal. Taiwo Oguntoye mengingat bahwa pada tahap awal, pihak Adediran sempat menolak pengenalan tersebut dan tidak merespons panggilan dari dosen yang sama.

“We eventually visited them, we had a talk but they were not interested in a relationship then,” kenang Taiwo Oguntoye tentang kunjungan pertama mereka. Alih-alih langsung berujung hubungan asmara, pertemananlah yang kemudian tumbuh di antara keempat orang tersebut.

Seiring waktu, kehidupan membawa mereka pada arah yang berbeda. Para saudari melanjutkan studi hingga jenjang magister di Ibadan, lalu berpindah ke luar negeri untuk pendidikan berikutnya. Sementara itu, para saudara pria melakukan perjalanan dan bekerja di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat dan Afrika Selatan.

Hubungan mereka pun kembali bergerak setelah bertahun-tahun. Ketika akhirnya mereka menjalin kontak lagi, meski sempat ada keraguan di awal, ikatan yang terbentuk perlahan menjadi semakin jelas dan sulit dinafikan.

Di sisi keluarga, kabar tersebut disambut dengan antusias. Taiwo Oguntoye menuturkan bahwa ia segera merasa dekat dengan keluarga mertua, seolah mereka telah saling mengenal sejak lama.

“Everyone was so happy to see us, it felt like we had known them all our lives,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa ia dan keluarga dekatnya diperlakukan seperti putra sendiri di rumah ayah.

Rangkaian pesta pun tampak berangkat dari kegembiraan bersama. Kerabat yang datang tampil dengan gaya masing-masing, dan kedua pasangan terlihat mengoordinasikan pilihan busana mereka sehingga tampak serasi sejak awal acara.

Menariknya, bukan hanya satu set kembar yang hadir. Beberapa pasangan kembar lain juga ikut memeriahkan pernikahan tersebut, yang tidak terlalu mengejutkan karena para pengantin laki-laki dikenal aktif dalam inisiatif kebudayaan dan pariwisata lokal.

Dikenal sebagai “Oguntoye Twins”, Taiwo dan Kehinde Oguntoye sering terlibat dalam berbagai aktivitas untuk merawat dan mempromosikan budaya kelahiran kembar. Keberadaan beberapa pasangan kembar lain di acara itu terasa selaras dengan reputasi tersebut.

Dalam keseharian, mereka juga menyebutkan adanya perbedaan fisik di antara kembar mereka. Karena Oguntoye adalah kembar fraternal sementara istri mereka adalah kembar identik, penampilan pasangan perempuan kerap terlihat mirip hingga membuat orang lain bisa tertukar.

“Our wives look so alike that even their family members sometimes confuse them. We don’t mix them up, we know our own wives very well,” kata Kehinde Oguntoye. Pernyataan itu menekankan bahwa meski keserupaan cukup tinggi bagi orang luar, pasangan suami tetap memahami dengan baik identitas masing-masing istrinya.

Menurut mereka, kesamaan tidak hanya ada pada tampilan, tetapi juga karakter. Mereka menggambarkan diri sebagai ambiverts—kadang lebih pendiam, kadang lebih terbuka—tergantung situasi dan siapa yang sedang mereka hadapi.

Meskipun hubungan mereka sangat dekat, Taiwo Oguntoye menyatakan bahwa setelah menikah, mereka akan menjalani kehidupan yang tidak menyatu dalam satu tempat tinggal. “We have our unique plan about that, over time people will get to know about that,” katanya.

Bagi kedua pasangan, rencana jangka panjang tersebut menjadi bagian dari bab baru yang kini sedang mereka jalani. Pernikahan ini berawal dari pertemuan yang nyaris sempurna, sempat tertunda dalam jeda panjang, lalu akhirnya berkembang menjadi dua persatuan yang kini menjadi perbincangan di lingkungan setempat.

Di tengah kesibukan persiapan acara dan antusiasme keluarga, yang paling menonjol tetaplah cara mereka memaknai kelahiran kembar: sebagai berkah, identitas budaya, dan harapan akan masa depan yang ingin mereka bangun bersama.