Teknologi

Kecanduan ponsel makin terasa: pusat rehabilitasi menerima lebih banyak pasien dengan pemakaian di luar kendali

×

Kecanduan ponsel makin terasa: pusat rehabilitasi menerima lebih banyak pasien dengan pemakaian di luar kendali

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: How addicted are we to our phones? Some of us are going to rehab

jurnalistik.co.id – Kecanduan ponsel kini makin sering menjadi alasan orang mencari rehabilitasi. Sejumlah pusat perawatan melaporkan peningkatan pasien yang merasa penggunaan perangkat mereka sudah di luar kendali.

Marios, pria yang mengaku menjalani terapi untuk masalah penggunaan ponsel yang ia sebut sudah mencapai “14-hour-a-day phone addiction”, menggambarkan dorongan itu datang seperti refleks. Saat ia sedang sesi terapi, ia tetap menerima notifikasi dan lampu layar ponselnya menyala karena pesan WhatsApp.

Dalam percakapan itu, Marios mengatakan kebutuhan untuk segera menjawab terasa “overpowering” meski ia sedang berusaha fokus. Ia kemudian kembali membuka ponselnya setelah sesi selesai, dan bertemu kembali lewat panggilan video satu jam kemudian.

Ia menjelaskan, “This is the feeling I’ve had for many years: this uncontrollable need to be on my phone.” Menurutnya, perangkat itu seperti “carrying around your own drug dealer”, karena “My drug is always in my pocket, flashing, beeping me and reminding me to take a dose.”

Pada hari-hari terburuk, Marios—yang bekerja sebagai pelatih kebugaran—bisa menghabiskan lebih dari 14 jam menatap layar. Ia menyebut Instagram menjadi pemicunya, sementara ia menjalani program terapi privat selama 12 sesi untuk menekan komplusinya.

Ia turut memberi gambaran kebiasaan dari data layar. “One look at my screen time statistics tells me I checked my phone 116 times yesterday,” tulis narasi laporan, bersamaan dengan keterangan bahwa ia juga menghabiskan lebih dari tiga jam untuk menatap layar.

Dari sisi konteks kesehatan, laporan mencatat bahwa “Phone addiction” belum menjadi kondisi resmi. Namun, sebuah survei terhadap 1.000 orang dewasa oleh Deloitte menunjukkan 70% responden mengatakan mereka menghabiskan waktu terlalu lama di ponsel, sementara para akademisi memperingatkan perubahan kimia otak akibat smartphone.

Ahli kecanduan menyebut mereka melihat lebih banyak klien yang bergantung pada perangkat. Dalam catatan UK Addiction Treatment Centres (UKAT), tahun lalu “one in three clients” yang menjalani perawatan ketergantungan obat juga memiliki ketergantungan ponsel sekunder—naik dari “just one in 10 in 2019”. UKAT mendukung 3.500 orang setiap tahun, dan disebut pula ada pasien yang membatalkan perawatan karena menolak melepaskan perangkat saat masuk klinik.

“But when does someone tip over from being an overkeen texter to needing professional help?” menjadi pertanyaan yang mengantar ke gambaran fasilitas. Di Rainford Hall, St Helens, Merseyside, Steps Together menerima orang dengan berbagai ketergantungan, termasuk obat, alkohol, dan perjudian, tetapi terapis menyaksikan makin banyak pasien yang tidak bisa mematikan perangkat.

Kelly Watson, lead therapist, menyampaikan “It can affect anyone from any background,” dan menekankan bahwa semua orang punya ponsel serta jalur otak yang serupa. Ia menjelaskan sistem reward bekerja ketika menerima pesan, “a like on social media”, atau membaca informasi baru, lalu memicu pelepasan dopamin—zat kimia di otak yang mengatur kesenangan dan motivasi.

Menurut Watson, pada sebagian orang kebutuhan akan “hit” itu menjadi terlalu kuat hingga mengambil alih hidup. Ia mengungkap bahwa bisa terjadi jam—bahkan hari—lenyap di dunia online, karena prosesnya bukan sekadar kebiasaan, melainkan dorongan yang menguasai.

James, yang menjalani perawatan di pusat Steps Together lain di Leicester, menggambarkan perubahan serupa. Ia awalnya datang untuk masalah alkohol, tetapi kemudian terungkap bahwa ketergantungan digitalnya juga sudah di luar kendali; setelah kehilangan pekerjaan, waktunya habis untuk menggulir media sosial, mengecek situs berita, dan terus memantau apa yang terjadi di berbagai belahan dunia.

Ia juga menceritakan pola terjaga malam demi respons. “If he posted anything on social media, he would be awake in the middle of the night checking for likes and comments,” dan ia merasa “the digital world was holding him hostage.” Namun, ketika kesenangan hilang, ia tetap tidak mampu berhenti.

James berkata, “I would be dreading it,” dan menggambarkan, “It felt like bit of my soul had been sucked out of me, but I couldn’t stop.” Di Rainford Hall, Watson menuturkan banyak pasien datang dalam kondisi khawatir dan bingung, takut melepaskan ponsel karena merasa butuh untuk kerja atau tetap terhubung dengan keluarga—“It’s their safe place.”

Fasilitas residensial biasanya berlangsung minimal 28 hari, dengan terapi kelompok dan sesi tatap muka. Pasien dibantu untuk memutus ketergantungan secara bertahap, sambil mempelajari pikiran dan perasaan yang muncul saat perangkat tidak berada di tangan.

Watson menambahkan bahwa sering kali masalahnya bukan hanya pada ponsel, melainkan pada beban hidup yang terasa terlalu berat. “life can be too much,” ujarnya, sehingga saat disesap oleh scrolling di layar, sebagian orang bisa “disassociate from the real world.”

Di luar fasilitas, dukungan komunitas juga berkembang. Pada 2017, beberapa orang yang prihatin dengan penggunaan teknologi membentuk Internet and Technology Addicts Anonymous (ITAA), sebuah persekutuan global yang terinspirasi oleh Alcoholics Anonymous (AA).

Jenny, anggota ITAA yang tidak ingin BBC memakai nama aslinya, menceritakan pada puncak kecanduannya ia bisa tidak tidur selama berhari-hari dan nyaris tidak makan atau minum. Ia berkata, “I did not realise how I addicted I was until I was in withdrawal and I had to ask friends and family to keep my devices under lock and key,” karena ia merasa “I thought I am going to die if I don’t watch something.”

Jika kambuh, Jenny menyebut ia akan mengambil atau “borrowing without permission” perangkat—sebuah laptop atau smartphone—dari keluarga. Setelah itu, rasa bersalah dan malu muncul, lalu dorongan streaming konten kembali menghantam untuk menyingkirkan perasaan yang tidak nyaman.

Ia kemudian menemukan ITAA setelah “searching for help”, mengikuti “their 12 steps”, dan kini dalam pemulihan. Jenny menyatakan ia sudah tidak streaming atau menonton apa pun selama lima tahun, merasa lebih nyaman menggunakan ponsel dasar untuk pekerjaan, dan mengatakan, “I’m now in control.”

Tom, anggota ITAA lain, menggambarkan dampaknya hingga “dark places.” Ia menuturkan bisa kehilangan “whole months” hidupnya untuk ponsel dan layar, dengan pola binge yang mampu berlangsung “for 10 hours straight” saat mendengarkan musik, menonton video, menggulir media sosial, dan bermain gim dalam satu waktu.

Setelah itu, ia bisa berjalan dua jam lalu binge lagi, dan pola ini dapat berlangsung selama berbulan-bulan. Ia menambahkan kecanduan tersebut membuat bisnisnya runtuh dan ia kehilangan tujuan hidup, bahkan sampai berkata, “I became suicidal,” sebelum akhirnya mulai mendapatkan kembali kegembiraan: “I am starting to get real joy in life again.” Ia kini bermain pickle ball, keluar dari rumah, dan pergi ke gym.

Di sisi lain, Hilda Burke, seorang psikoterapis terakreditasi British Association of Counselling and Psychotherapy (BACP), menulis Phone Addiction Workbook setelah melihat meningkatnya klien dengan ketergantungan digital. Dalam rekomendasinya, ia mengajak pembaca menganalisis perilaku sendiri dan menanyakan apa yang mungkin melatarbelakangi.

Burke menyarankan pertanyaan seperti: “What was going on that day? Was I waiting for someone to message back?” Ia menjelaskan, sering kali ketidaknyamanan awal muncul karena menunggu balasan pesan, lalu memicu penggunaan ponsel sebagai pelarian. Ia kemudian menyarankan mengganti aktivitas online dengan hal lain, seperti menelepon teman, lari, atau membaca buku, serta mengurangi rasa bersalah dan malu agar bisa menyusun cara menghadapi situasi serupa berikutnya.

Laporan juga menyinggung upaya dari perusahaan telepon yang memperkenalkan fitur pelacak waktu layar dan pembatasan akses aplikasi. Di sisi Marios, ia berharap program terapi dapat membantunya memutus ketergantungan ponsel.

Ia juga sedang menuju kemampuan berbahasa Spanyol dengan bantuan aplikasi yang ada di ponselnya. Namun, hanya sesaat setelah itu, ia menggambarkan refleks yang tetap datang: “But a second later, he reaches for his phone, on impulse.”

Menurutnya, saat menyentuh perangkat, ia justru teringat pada tekad. Ia “jabs the phone, defiantly” dan menegaskan, “Every day, I set myself an intention to not be on it as much and it is making a difference,” sambil menambahkan bahwa perlahan ia mulai menikmati hal-hal lain lagi.

Ia menutup dengan keyakinan bahwa perubahan mungkin terjadi: “And every day, I am slowly beginning to enjoy things again. It can be done, I’m sure.”