Politik & Parlemen

Gurunya Dorong Andy Burnham Percaya pada Diri Sendiri

×

Gurunya Dorong Andy Burnham Percaya pada Diri Sendiri

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: How Andy Burnham's school teacher inspired him to believe in himself

jurnalistik.co.id – Andy Burnham, yang kini digadang-gadang menjadi pemenang pemilihan kepemimpinan Partai Buruh, kerap menautkan loncatan hidupnya pada nasihat seorang guru di masa sekolah. Ia terutama mengingat cara gurunya mendorongnya untuk berani percaya pada dirinya sendiri, bahkan ketika ragu paling besar datang dari latar belakangnya.

Stephen Harrington, mantan guru bahasa Inggris Burnham pada akhir 1980-an, menceritakan bahwa Burnham butuh “banyak meyakinkan” agar mau mendaftar ke Universitas Cambridge. Menurut Harrington, pada waktu itu Burnham merasa ia “tidak cocok” untuk pergi ke kampus bergengsi tersebut.

Harrington mengungkapkan, “He needed a lot of persuading to apply because he felt that as a working-class boy, going off to Cambridge wasn’t for him. He didn’t believe in himself, but he did it, and the rest is history.” Ia mengatakan nasihat itu diberikan saat Burnham berusia 16 tahun pada 1986 di St Aelred’s Catholic High School, Newton-Le-Willows, Merseyside.

Tak hanya keyakinan akademik, Harrington juga menyebut bahwa Burnham merasa tidak pantas untuk mengupayakan peluang besar. Burnham kini menjadi satu-satunya kandidat yang menjalani proses pemilihan kepemimpinan Partai Buruh, setelah pengumuman Sir Keir Starmer pada Senin bahwa ia akan mundur.

Dalam jalur politiknya, Burnham kembali ke Westminster pekan lalu sebagai anggota parlemen untuk Makerfield. Perubahan itu terjadi setelah pemilihan sela dipicu oleh pengunduran diri Josh Simons, anggota parlemen Labour untuk konstituensi tersebut.

Burnham tumbuh di Culcheth, sebuah wilayah permukiman pekerja komuter dekat Warrington, dan lahir di Liverpool. Ketika memasuki tahun pertama sixth form di sekolah menengah Katolik setempat, ia bergabung dalam kelas Bahasa Inggris A-Level yang diampu Harrington.

Harrington menggambarkan Burnham sebagai siswa yang sopan dan cerdas, namun tetap rendah hati. Ia mengingat momen ketika Burnham bermain kriket untuk Lancashire Schoolboys—prestasi yang sangat menonjol di daerah itu—tetapi Burnham “never mentioned it to me”.

Harrington mengutip kesan yang masih melekat: “He was never sort of showing off or anything like that, he actually kept that to himself.” Ia menambahkan, “Here he was playing cricket for Lancashire Schoolboys, which is a very prestigious thing to do in this area, and he never mentioned it to me.”

Pada periode yang sama, Burnham tengah mempertimbangkan rencana kuliah. Ia sempat mengatakan ingin mengambil gelar linguistik, tetapi Harrington mengatakan ia kemudian meyakinkan Burnham untuk memilih Bahasa Inggris.

Menurut Harrington, ketertarikan Burnham pada penyair Tony Harrison menjadi pintu penting untuk mengarahkan minatnya. Harrington berkata, “He was so interested in the poet Tony Harrison. So I gave him a lot more material, including a cassette recording of one of Harrison’s latest poems, called V.”

Harrington menjelaskan bahwa Tony Harrison adalah penyair dan dramawan yang lahir di Leeds pada 1937, dikenal lewat karya-karya yang memicu kontroversi. “V” diterbitkan pada 1985, memuat kata-kata kasar serta merujuk pada pemogokan penambang Inggris 1984-1985 dan pemimpin serikat Arthur Scargill, termasuk rujukan tentang pembagian antara sayap politik kiri dan kanan.

Harrington juga mengingat dampak lanjutan “V”. Ia menyebut karya itu kemudian disiarkan Channel 4 pada 1987, memunculkan reaksi sehingga “a group of MPs called for a debate about it in the House of Commons”. Dari situ, Harrington menilai karya Harrison menunjukkan bahwa puisi bukan sesuatu yang “reserved for the middle classes”.

Dalam penilaiannya, Harrington menandai titik balik itu dengan kalimat, “That was really what turned Andrew towards studying English.” Ia menggambarkan bahwa pemahaman tersebut membuat Burnham makin mantap pada pilihan studinya.

Ketika memasuki tahap memilih Cambridge, Harrington mengatakan Burnham “very reluctant”. Menurut Harrington, Burnham tidak merasa dirinya akan mampu, dengan keyakinan yang berujung pada rasa tidak pantas karena identitas kelasnya.

Harrington mengingat apa yang melintas dalam pikiran Burnham, “It was very much ‘I know that’s not for people like me’ and ‘socially that’s not me’.” Ia menambahkan, dalam beberapa cara kekhawatiran Burnham ternyata “came true”.

Burnham, kata Harrington, merasa sulit beradaptasi di awal. Harrington berkata, “When he went there he told me he found it quite difficult for a while and did feel a bit out of place.” Namun, Burnham tetap melewati masa itu: “But nevertheless, he found his own group of friends and he came through.”

Di Cambridge, Burnham menempuh studi English Literature di Fitzwilliam College dan lulus dengan nilai 2:1. Ia juga bertemu calon istrinya, Marie-France van Heel, saat masa kuliah di universitas tersebut.

Seiring makin dekatnya perjalanan politiknya, Harrington mengatakan ia menerima pujian dari Burnham. Ia menyebut laporan The Mirror bahwa Burnham menggambarkan gurunya sebagai “amazing man” dan mengatakan ia masih berbicara dengannya.

Harrington juga menyampaikan sudut pandangnya sendiri. “He couldn’t be more thankful towards me,” ujarnya, sekaligus mengingat saat Burnham datang dari London untuk menghadiri acara perpisahannya ketika pensiun dari St Aelred’s pada 2003. Harrington mengaku terharu dengan apresiasi itu, tetapi tidak ingin melebih-lebihkan perannya dalam perjalanan Burnham.

Di luar kelas sekolah, kenangan tentang Burnham juga datang dari tetangga yang mengenalnya sejak masa muda di Culcheth. Seorang mantan tetangga yang tidak ingin disebut namanya bercerita bahwa ketika mereka tinggal di sana, Burnham berusia sekitar 16 atau 17 tahun—masa yang hampir berdekatan dengan persiapannya menuju kampus.

Ia mengenang, “The three boys played football in the garden, a lot, and their footballs came over into our garden, so we saw and heard them quite a lot.” Suaminya menambahkan bahwa bahkan saat remaja Burnham sudah menjadi pribadi yang mudah berkomunikasi dan “remembered people”.

Suami tetangga itu berkata, “We only really met him just before he went to university and he was obviously very good then, so he’d learned those skills quite early on.”

Danni, yang tinggal dekat Common Lane, menceritakan bahwa putranya pernah kuliah bersama keponakan Burnham dan bahwa ia sesekali melihat Burnham di toko Sainsbury’s setempat. Ia menilai, “He just seems like a very kind of down-to-earth guy and I think he’s going to involve the north a bit more which is always nice, because it’s always very south-centric isn’t it down at Parliament.”

Ia juga menyebut rasa terkejut yang bercampur kegembiraan karena seseorang yang dibesarkan di desa itu kini menjadi tokoh yang berpeluang memimpin negara. “She said it was ‘really exciting’ that someone who grew up in the village could become the country’s next prime minister.”

Di sisi lain, Lindsay—yang baru pindah beberapa waktu lalu—mengingat Burnham dari masa ia menjadi MP untuk Leigh, sebelum meninggalkan Westminster untuk mencalonkan diri sebagai wali kota Greater Manchester. Lindsay mengatakan, “I think it’s a good thing for the North, I do, hopefully, he’ll do really well.”

Ia menekankan etos kerja Burnham, “He’s just always worked hard at what he’s done and he deserves to be where he is.” Lindsay juga mengingat kebiasaan Burnham ketika masa kerja di Leigh, “You used to see him walking down Bradshawgate in Leigh all the time, waiting for you to go and approach him.”

Burnham, menurut sejumlah ingatan, juga terus mengaitkan kariernya dengan dukungan tokoh-tokoh politik yang membimbingnya. Ia paling menonjol menyebut Paul Goggins, anggota parlemen Labour untuk Wythenshawe dan Sale East, yang meninggal pada Januari 2014.

Burnham menggambarkan Goggins sebagai “mentor”. Saat pemakaman Goggins, Burnham menyampaikan, “Every time I had a problem when I was first elected, I would call Paul Goggins – who do I call now?”

Wyn Goggins, janda Paul, mengatakan keduanya “were very close friends – in addition to their politics they were northerners who shared the same faith and loved football”. Ia menambahkan, “Paul helped Andy a lot when he was first elected.”

Meskipun menaruh harapan Burnham bisa menjadi perdana menteri, Wyn juga mengaku punya perasaan campur aduk. Ia menyatakan akan “hard” melihat Burnham berada di bawah sorotan media yang makin intens, karena “His lovely family come under so much scrutiny but they are strong and he knows what happens in politics.”