jurnalistik.co.id – Inggris memang menjalankan tugasnya saat fase grup Piala Dunia 2026—mereka finis sebagai juara Grup L—namun masa depan di babak gugur akan sangat ditentukan oleh evaluasi cepat atas kualitas permainan. Phil McNulty menilai, langkah ke fase terakhir sudah berhasil, tetapi syarat untuk melaju lebih jauh tidak bisa berhenti pada “cukup menang”.
Usai kemenangan atas Panama, Inggris memastikan tiket 32 besar sebagai juara Grup L. Mereka akan menghadapi salah satu dari DR Congo atau Senegal di Atlanta pada Rabu, pukul 17:00 BST.
Thomas Tuchel, pelatih Inggris, menekankan bahwa timnya harus mampu berkembang ketika laga makin besar. Ia percaya, “the bigger the games, the bigger his side will get,” dan berharap keyakinan itu tidak berubah menjadi perjalanan singkat.
Tuchel juga mengingatkan bahwa keberhasilan menuntaskan grup tidak datang tanpa proses keras. “It was hard work,” katanya kepada BBC Sport. Ia menambahkan, “We are at the World Cup. We won the group. I know our expectations. I know our dream. I know we can do better, but everyone who pushed and the players and staff deserves to go to the plane with a smile.”
Bagi Inggris, kemenangan atas Panama menyelesaikan bagian pertama rencana. Namun, McNulty melihat ada momen ketika permainan tim terasa belum sepenuhnya meyakinkan, meski secara formal semua berjalan sesuai target. Dari tiga laga grup, Inggris meraih dua kemenangan.
Ketika pertandingan grup terakhir mulai berjalan, Inggris mengalami kesulitan memecah pertahanan Panama pada fase awal. Selama sekitar satu jam pertama, tim kesulitan seperti saat menghadapi Ghana, menghadapi lawan yang berada di peringkat 42 dunia. Panama sempat memberi sinyal rapuh di aspek defensif, tetapi Inggris tetap harus bekerja untuk menemukan ritme.
Secara keseluruhan, Inggris memang lebih kuat dari Panama, tetapi Tuchel tidak bisa sepenuhnya menutup mata dari kekhawatiran yang muncul. Yang paling menonjol adalah kondisi pertahanan: Inggris membiarkan Panama mencatat 13 upaya mengarah ke gawang. Mereka juga menghadapi situasi yang berujung pada peluang hiburan yang sempat ada, ketika Jose Fajardo hampir mencetak gol namun dianulir karena offside.
McNulty juga mengangkat keputusan Tuchel terkait starting line-up dan dinamika lini tengah. Bellingham menjadi faktor yang sangat besar, terutama setelah sebelumnya muncul perdebatan soal posisinya di starting XI jelang turnamen. Tuchel akhirnya memilih tetap mengandalkan Bellingham, dengan pertimbangan kelas serta pengalaman berlaga di turnamen besar.
Di laga pembuka saat melawan Kroasia, Bellingham sudah memberi dampak lewat gol krusial, dan kali ini ia kembali menentukan. Ia bekerja bersama Morgan Rogers dari Aston Villa, sementara Declan Rice dicadangkan karena cedera hamstring dan juga karena ia berada dalam status kartu kuning. Kombinasi tersebut kadang membuat Elliot Anderson tampak kelelahan karena perannya sebagai pivot.
Namun, ketika Panama mencoba membaca situasi dari temperamen Bellingham, hasil akhirnya tetap berpihak pada Inggris. Bellingham memaksa gol pertama, lalu menjadi penghubung untuk gol kedua melalui umpan silang yang diselesaikan Harry Kane dengan tandukan. Kane kemudian menegaskan posisinya sebagai pencetak gol terbanyak Inggris di final Piala Dunia dengan 11 gol—satu lebih banyak dari Gary Lineker.
Dalam konteks itu, McNulty menilai Bellingham dan Kane sama-sama sudah menghadirkan kontribusi penentu pada dua kemenangan Inggris, yakni atas Kroasia dan Panama. “How England needed them here,” tulis McNulty, menyimpulkan bahwa keberadaan Bellingham di level terbaik menjadi kebutuhan mutlak bila Inggris ingin meraih target yang lebih tinggi.
Rashford jadi pembuka energi, namun penyokongnya belum selalu solid
McNulty menilai Marcus Rashford adalah kilatan penting di babak pertama. Ia mendapat kesempatan setelah dua penampilan kurang memuaskan dari Anthony Gordon, pendatang baru asal Barcelona. Rashford sempat memaksa kiper Panama Orlando Mosquera melakukan penyelamatan, lalu ia juga hampir mencetak gol lewat sundulan yang tipis melenceng. Ia bahkan melepaskan tendangan bebas yang hanya melebar.
Meski begitu, frustrasi di Inggris sempat memuncak sebelum kualitas Bellingham benar-benar mengurai pertandingan. Gol pembuka lahir ketika industri dan ketajaman Bellingham akhirnya memberi jalan, sekaligus memperkuat penampilan yang disebut McNulty sebagai paket “man-of-the-match” dengan assist untuk Kane.
Di bagian lain, Tuchel juga memancing perhatian lewat pembahasan cedera Reece James. Saat ditanya, ia mengatakan: “No-one saw that coming.” Menurut uraian McNulty, banyak pihak sebenarnya bisa membaca kemungkinan itu, mengingat James berusia 26 tahun dan hanya memainkan 20 pertandingan Premier League musim lalu, serta memiliki rekam riwayat masalah hamstring.
Dari sini muncul sorotan lain: pilihan Tuchel untuk komposisi pertahanan. McNulty menyoroti Jarell Quansah yang menjalani peran sebagai bek kanan meski basisnya adalah bek tengah, setelah pernah bermain di Liverpool lalu Bayer Leverkusen. Quansah masuk tim lebih dulu dibanding Djed Spence, tetapi ia harus keluar lapangan karena cedera pada babak kedua sebelum Inggris memimpin.
Dengan situasi itu, Tuchel harus menempatkan Spence sebagai satu-satunya bek kanan yang tersisa, sementara James absen dan menunggu laporan medis untuk Quansah. Di saat yang sama, masalah cedera Tino Livramento membuatnya meninggalkan skuad Inggris sebelum turnamen dimulai.
McNulty juga mengaitkan isu seleksi dengan nama yang tak luput dari pertanyaan, yakni Trent Alexander-Arnold. Ia disebut sebagai bek kanan yang ditata Tuchel dalam kondisi berbeda—seolah “pushed into international exile.” Alan Shearer menanggapi dari siaran BBC Radio 5 Live dengan kalimat: “We’re yet to see whether he will regret those decisions,” dan ia menambahkan, “We will only know that when we go in against better opposition.”
Wayne Rooney turut menyoroti inti masalah yang tampak dalam permainan Inggris. Ia menyebut, “The area of the pitch you want stability in is your goalkeeper and back four,” lalu menilai, “With the back four we haven’t had that.”
Babak berikutnya: Rice diharapkan kembali, tetapi ujian makin berat
McNulty mengingatkan bahwa masalah Inggris bukan hanya soal posisi bek kanan. Tuchel memulai Piala Dunia dengan Ezri Konsa dan John Stones sebagai duet bek tengah saat melawan Kroasia, tetapi dua pertandingan terakhir ia mengubah pasangan menjadi Konsa dan Marc Guehi. Stones disebut hanya memulai lima laga Premier League musim lalu sebelum meninggalkan Manchester City.
Apapun penjelasan Tuchel, McNulty melihat ketidakpastian pertahanan yang membuat tim sering terbuka. Inggris menghadapi ancaman berulang dari serangan Panama, dan jika pola itu terjadi saat berhadapan dengan lawan yang lebih kuat, hukumannya berpotensi jauh lebih berat.
Sebelum laga 32 besar, Tuchel menyusun gambaran turnamen ke dalam “tiga babak.” Ia menyatakan: “We wanted to win the group,” dan menegaskan, “There is no substitute for wins and we have that feeling again.” Ia juga menyebut jarak tiga hari persiapan menuju Atlanta, seraya mengatakan, “The tournament starts new again. We had the first chapter in prep camp, the second chapter in the group, and the third chapter is coming.”
Di balik kalimat optimistis itu, McNulty menilai ada rasa yang sulit dihindari: bila Inggris bertahan dengan ketidakpastian dan kerap ditembus secara teratur, maka peluang Piala Dunia bisa berubah menjadi semakin tipis. Karena itu, “chapter three” akan menguji apakah perbaikan benar-benar terjadi, terutama ketika Declan Rice diharapkan kembali untuk menghadapi lawan di 32 besar.
Keputusan di babak gugur juga bisa terasa lebih menyejukkan mengingat Tuchel memilih Bellingham dan Rogers sebagai opsi ofensif ketimbang pilihan yang lebih konservatif seperti Kobbie Mainoo dari Manchester United. Tetapi tetap saja, Inggris harus memastikan ruang kosong tidak lagi menjadi hadiah cuma-cuma bagi lawan.
Terakhir, McNulty menutup dengan sinyal bahwa Rashford masih akan diberi kesempatan. Tuchel mengatakan soal penampilan Rashford: “We tried and tried. Marcus was just unlucky,” lalu menambahkan, “He is pushing and pushing like always. Every time I bring him on, he is super reliable.” Ia juga menegaskan, “Everyone is trying. I’m not upset with players who try. You need a bit of luck, you need momentum and we will get there.”












