jurnalistik.co.id – Di Port Talbot, sebuah halaman rumah justru menjadi tempat berlindung dari panas dan hujan—karena melintas tepat di atasnya jalan tol M4. Jarak bangunan dengan dek jalan hanya berupa hamparan konkret yang membuat aktivitas harian terasa berada di bawah bayang-bayang lalu lintas. Narelle Cowan menceritakan bahwa M4 melintas seperti “atap” buatan bagi ruang belakang rumahnya. Ia menyebut ada tiga pilar yang menopang jalan tol di halaman tersebut, dan satu di antaranya dipakai untuk membantu memasang jemuran. Aimee Lipley menyusun cara pandang yang serupa. Ia mengatakan, “I call it my free gazebo,” dan menambahkan bahwa ketika hujan, ia bisa berjalan ke toko tanpa membuat rambutnya basah. Baginya, posisi M4 bukan sekadar pemandangan, melainkan fasilitas yang tak ia minta namun ia pelajari manfaatnya. M4 dibangun sebagai bagian dari penghubung utama antara London dan Wales selatan, dan bentang yang berada di atas Plot Port Talbot ini termasuk salah satu segmen awal. Jalan tol tersebut menempel pada lanskap kota melalui dek dua jalur yang menggantung sekitar 45ft (14m) di atas area rumah, seolah memotong halaman menjadi dua zona. Setiap hari, sekitar 75,000 kendaraan melintasi segmen beton yang “mengambang” itu. Sejarah pembangunannya juga meninggalkan jejak: bagian ini berasal dari gelombang pembangunan jalan bebas pada era 1960-an, mengikuti masa ketika kepemilikan mobil pasca-perang meningkat pesat. Untuk Narelle, keberadaan M4 di bagian belakang rumah justru memberi ruang lebih nyaman. Ia mengatakan, “I’ve got three pillars of the M4 in my back garden, I use one to help hang my washing line up,” lalu menjelaskan bahwa jalan tol menutupi separuh belakang halaman sehingga tercipta area yang lebih kering sekaligus berfungsi seperti peneduh matahari. Narelle juga menilai suara kendaraan tidak lagi terasa mengganggu. Ia menyatakan, “I don’t really notice vehicle noise especially when you’ve got the music on and enjoying yourself,” seolah musik membantu menyeimbangkan ritme lalu lintas yang lewat. Aimee memandang situasinya dengan cara yang lebih sinematis. Ia mengungkap, “The M4 is like a background murmur, you get used to it,” dan menambahkan, “I call it ambience.” Menurutnya, ada orang yang mungkin tidak menginginkan jalan tol berdiri di halaman sendiri, tetapi ia dan tetangganya tidak terlalu terganggu. Ia menegaskan hubungan sosial di lingkungan mereka telah terbentuk lama. “I know some wouldn't want a motorway in your garden but it doesn't bother me or my neighbours, we've got a lovely community and many have been around here for years and years. We love it,” ujarnya, menempatkan pengalaman tinggal di sana sebagai bagian dari identitas komunitas. Namun, bagi pengemudi yang melintas, segmen Port Talbot juga dikenal sebagai titik kemacetan. Bagian M4 ini mencakup 4.25 mile (6.8km) antara Cardiff dan Swansea, sehingga arus kendaraan bisa memicu rasa frustrasi di jalan. Tetangga yang berada tepat di bawahnya kerap tidak melihatnya sebagai gangguan langsung, karena mereka hidup berdampingan dengan suara dan bayangan setiap hari. Aimee, yang berusia 39 tahun dan tinggal delapan tahun di bawah bayang M4, menceritakan sisi lain yang muncul akibat posisi dek jalan yang sangat dekat. Ia berkata, “We do get a lot of rubbish in our garden from people throwing things out of the vehicles on the overpass above,” dan menambahkan, “We get to see what people are eating, sometimes you get cigarette ends and it's interesting to see what crisps people are eating.” Gangguan itu tidak ia sembunyikan, tetapi ia menyebutnya sebagai bagian dari realitas. Di saat yang sama, Aimee menggarisbawahi bahwa suara yang paling menonjol justru datang dari lingkungan sekitar—terutama aliran River Afan. Ia menjelaskan, “Yeah we hear the river and the road directly outside our house more than we've ever heard the motorway,” seolah bunyi alam mengalahkan bunyi kendaraan yang selama ini diasosiasikan dengan jalan tol. Ia juga menggambarkan efek akustik dari struktur beton. “It's almost like the noise of the motorway is kept up there above us,” katanya, merujuk pada bagaimana dek jalan cenderung memantulkan suara pada lapisan yang lebih tinggi, tidak sepenuhnya turun ke ruang tinggal. Di wilayah ini, keberadaan kanopi konkret membentuk koridor perlindungan berukuran sekitar 80ft (24m) yang memanjang melalui kota. Koridor itu menjadi tempat berteduh yang khas, membuat aktivitas anak-anak dan kegiatan halaman tidak sepenuhnya terputus ketika hujan. Aimee mengatakan, “Kids can play underneath the M4 even when it's raining because they're protected,” lalu menambahkan refleksi masa kecil. “I had a childhood playing underneath the motorway. It's somewhere safe for the community,” ujarnya, menunjukkan bahwa bagi warga tertentu, ruang di bawah jalan tol bisa berubah menjadi ruang aman. Di balik manfaat yang dirasakan sebagian warga, pembangunan M4 di Port Talbot juga membawa konsekuensi besar. Rumah-rumah dibongkar, kapel diratakan, dan komunitas terdorong berpindah lokasi saat segmen pertama Wales mulai dibangun dengan biaya lebih dari ÂŁ5m. Meskipun tidak ada kompensasi untuk warga yang terdampak, proyek ini sempat mendapat sambutan luas. Alasan yang sering disebut adalah kondisi jalan lama A48 yang tidak mampu menampung arus. Profesor sejarah Martin Johnes, yang merujuk pada konteks perjalanan saat itu, menyatakan, “Port Talbot was a congestion blackspot and a logical choice for Wales' first motorway,”. Ia menggambarkan A48 yang berkelok melalui kota dengan rute yang bermula sejak era kereta kuda. “The A48 snaked through the town on a route that dated back to the days of horse and carts and had to cross a railway which meant it was shut for three hours a day causing tailbacks of several miles,” ujarnya, menekankan bagaimana penutupan jalur menyebabkan antrean panjang. Hasilnya, kecepatan rata-rata kendaraan pada rentang tertentu turun drastis. “The result was that for a five-and-a-half mile stretch on the A48 the average car speed was 18mph,” kata Johnes, merangkum masalah utama sebelum M4 beroperasi. Proses pembangunan dihubungkan bertahap: dari commissioning Port Talbot bypass pada 1953 hingga dibukanya jalan tol pada 1966, proses itu memakan 13 tahun. Pembukaan di tahun 1966 juga disebut memangkas waktu perjalanan Bridgend ke Swansea sekitar 20 menit. Johnes menyinggung respons media nasional Wales saat segmen bypass dibuka. Ia menulis bahwa surat kabar nasional Wales, Western Mail, menerbitkan suplemen enam halaman untuk menandai pembukaan itu, dengan menyebutnya “a ÂŁ5m miracle that would end the stop-go misery.” Skema tersebut diingat warga dengan sebutan lokal “the road on top of a town”, sebuah cara pandang yang menempatkan jalan sebagai “lapisan atas” kota. Di Llewellyn Street, dampaknya tampak di fisik permukiman. Salah satu sisi deretan rumah teras dibongkar dan diganti oleh jalan tol, sementara sisi lainnya menatap tanggul beton besar atau pilar-pilar penopang dek M4. Ada pula perlawanan warga sebelum proses berjalan. Penduduk Llewellyn Street mengajukan petisi menentang rencana pembangunan bypass dan pembongkaran 125 rumah di jalan tersebut. Hingga kini, jejak perubahan itu bahkan muncul dalam budaya populer: adegan pembuka film kult “Twin Town” menampilkan ruang di bawah M4, tepat di lokasi rumah teras satu sisi Llewellyn Street yang dulu berdiri. Sebagian warga merasa M4 merobek inti kota dan mematahkan jaringan komunitas. Perasaan bahwa warga yang terdampak seharusnya mendapat kompensasi baru menguat belakangan, dan pada tujuh tahun kemudian, pada 1973, Land Compensation Act menjadi undang-undang. Regulasi tersebut menetapkan bahwa pemerintah harus memberikan kompensasi bila proyek publik seperti jalan atau aerodrome memengaruhi nilai properti. Implikasinya, membangun infrastruktur sedekat itu dengan hunian menjadi lebih mahal. Akibatnya, kontraktor cenderung memilih rute yang lebih jauh dari area perkotaan dibanding pola yang dipakai pada era Port Talbot. Karena itu, bypass dengan model “jalan di atas kota” seperti yang terjadi saat itu disebut semakin tidak mungkin dibangun sekarang. Di era berjalan, pengelolaan lalu lintas juga diarahkan agar dampaknya tidak berlebihan. Banyak otoritas memberlakukan batas kecepatan 50mph, yang juga menjadi sumber kejengkelan bagi pengemudi. Namun Aimee dan Narelle, yang hidup di bawah jalan tol tersebut, merasa pembatasan itu membantu mengurangi kebisingan kendaraan. Selain persepsi warga, data resmi juga disebut menunjukkan penurunan tingkat polusi hingga berada di bawah batas hukum. Pemotongan kecepatan di M4 diberlakukan setelah pemerintah Inggris dan Wales menghadapi proses hukum ketika kadar Nitrogen Dioxide (NO2) melampaui batas legal di sekitar beberapa wilayah. Bagi mereka yang tinggal tepat di bawah M4, cerita hari ke hari tidak berhenti pada angka dan kebijakan. Kenyamanan yang terasa—seperti kanopi beton, halaman yang lebih teduh, dan ruang bermain saat hujan—berdampingan dengan kenangan masa kecil, komunitas yang tetap bertahan, serta penyesuaian terhadap bunyi lalu lintas yang menjadi “murmur” latar.
Saya memiliki jalan tol M4 di halaman belakang rumah saya di Port Talbot
Redaksi7 min baca












