Pendidikan

12 Tahun Membawa Literasi ke Penjuru Riau, Komunitas Pondok Belantara Adventure Gaungkan “Belajar Tanpa Rasis”

×

12 Tahun Membawa Literasi ke Penjuru Riau, Komunitas Pondok Belantara Adventure Gaungkan “Belajar Tanpa Rasis”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 12 Tahun Bergerak demi Literasi hingga Pelosok, Komunitas di Riau Gaungkan Semangat "Belajar Tanpa Rasis"

jurnalistik.co.id – Di bawah rumah panggung di Desa Buluh Cina, kawasan tepian Sungai Kampar, Kabupaten Kampar, belasan anak berkumpul dalam suasana belajar yang santai. Sore itu, seorang relawan mengeluarkan buku cerita bergambar dari ransel, lalu tawa dan sorak memenuhi halaman kecil tersebut.

Kegiatan serupa bukan kejadian sesekali. Komunitas Pondok Belantara Adventure Riau telah hampir 12 tahun mendatangi desa-desa terpencil, sekolah, hingga ruang-ruang publik untuk menumbuhkan kebiasaan membaca. Sejak akhir 2014, mereka menjalankan program literasi dengan prinsip yang tegas: “Belajar Tanpa Rasis”.

Koordinator Pondok Belantara Adventure Riau, Eko Handyko Purnomo, menjelaskan bahwa tujuan komunitasnya tidak berhenti pada pengenalan huruf atau kemampuan memahami teks. “Kami tidak hanya mengajari membaca, tetapi kami ingin anak-anak merasa bahwa membaca itu menyenangkan,” kata Eko Handyko Purnomo saat diwawancarai Kompas.com di Pekanbaru, Jumat (31/7/2026).

Belajar yang terbuka untuk siapa saja

Menurut Eko, semangat “Belajar Tanpa Rasis” diwujudkan melalui pendekatan belajar yang tidak membedakan suku, agama, ras, maupun latar belakang peserta. Dengan cara itu, aktivitas literasi diharapkan menjadi ruang bersama yang aman dan ramah, sekaligus memunculkan rasa memiliki terhadap proses belajar itu sendiri.

Di dalam praktiknya, komunitas memadukan unsur pendidikan dengan aktivitas lain yang dekat dengan keseharian warga. Selain sesi membaca buku, mereka menghidupkan literasi melalui kegiatan yang melibatkan seni, kepedulian lingkungan, hingga bentuk-bentuk dukungan sosial di lokasi kegiatan. Komunitas berupaya membuat literasi terasa relevan, bukan sekadar formalitas pembelajaran.

Sasarannya terutama anak usia sekolah di wilayah yang akses terhadap buku dan perpustakaan masih terbatas. Namun, gerbang komunitas juga terbuka bagi pemuda, mahasiswa, dan masyarakat umum yang ingin bergabung sebagai relawan atau penggerak literasi. Dengan demikian, kegiatan tidak hanya bergerak saat tim datang, tetapi juga mendorong keberlanjutan melalui partisipasi warga setempat.

“Kami membawa buku ke tempat yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan,” ujar Eko. Dalam penelusurannya, komunitas menjangkau berbagai titik di Riau, mulai dari tepian Sungai Kampar di Desa Buluh Cina, hingga area lain seperti Rumah Tuan Kadi di Pekanbaru yang berada di dekat tepian Sungai Siak.

Program literasi masuk lewat ruang-ruang warga

Di beberapa lokasi, kegiatan literasi hadir dalam bentuk taman baca masyarakat. Bagi komunitas, ruang semacam ini penting karena memungkinkan warga—termasuk anak-anak—menemukan kembali kebiasaan membaca dari hari ke hari. Kehadiran taman baca juga menjadi jembatan agar minat membaca tidak berhenti di satu sesi, melainkan tumbuh sebagai rutinitas.

Selain agenda rutin, Pondok Belantara Adventure Riau juga mengemas literasi melalui kegiatan tahunan. Salah satunya adalah Desember Camp, yang dirancang agar kegiatan belajar lebih dekat dengan cara anak-anak menikmati pembelajaran melalui permainan dan aktivitas interaktif.

Pendekatan tersebut, menurut Eko, merupakan upaya untuk mempertemukan kebutuhan anak dengan metode yang sesuai dengan cara mereka menerima informasi. Buku cerita bergambar, diskusi ringan, dan aktivitas pendamping lain dipilih agar proses membaca tetap terasa ringan, namun konsisten mengarah pada tujuan literasi.

Tantangan lapangan dan cara komunitas mempertahankan konsistensi

Meski niat dan semangat sudah dibangun sejak akhir 2014, pelaksanaan program tidak selalu berjalan mulus. Eko menyebut salah satu tantangan terbesar adalah kondisi akses menuju lokasi kegiatan. Jalan sering mengalami kerusakan, terutama ketika musim hujan datang dan medan menjadi lebih sulit dijangkau.

Hambatan semacam itu membuat komunitas harus menyesuaikan ritme kerja dan logistik, tanpa mengorbankan niat utama membangun minat baca. Dengan konsistensi selama hampir 12 tahun, Pondok Belantara Adventure Riau menunjukkan bahwa literasi bisa didorong melalui kerja komunitas yang terorganisasi, bukan hanya mengandalkan program berskala besar dari satu pihak.

Lebih dari sekadar membawa buku, komunitas ini berusaha menegaskan bahwa budaya membaca bisa tumbuh di mana pun anak-anak berada. Selama prinsip “Belajar Tanpa Rasis” tetap dijaga, ruang belajar yang mereka bangun di Riau diharapkan terus memberi dampak: membuat literasi terasa menyenangkan, membangun rasa percaya diri anak, dan memperluas kesempatan belajar yang setara bagi semua.