jurnalistik.co.id – Metropolitan Police Commissioner Sir Mark Rowley mengakui ada kesalahan dalam penanganan keluhan terkait tuduhan plagiarisme yang melibatkan Jason Arday. Dalam keterangannya kepada LBC, ia menyebut proses yang dijalankan Met “dropped the ball” dan seharusnya keluhan itu disaring lebih awal.
Pengakuan Rowley muncul setelah laporan bahwa Met menghabiskan waktu sekitar empat bulan untuk meneliti seorang jurnalis, Jack Grove, yang sedang menguji sejumlah klaim mengenai seorang profesor Universitas Cambridge. Rowley menyatakan keputusan Met pada akhirnya seharusnya tidak berlanjut ke investigasi.
Menurut Grove, Met telah memberi tahu bahwa keluhan terhadap dirinya telah ditutup dan ia diminta tidak lagi menghubungi Arday. Ia mengatakan informasi itu datang sebagai kejutan besar ketika ia menerima telepon dari seorang petugas Met pada awal Februari.
Grove menjelaskan, “In early February I received a call from a Met police officer saying that a complaint had been raised against me by someone and Professor Arday was very distressed and I shouldn’t contact him again. “It was a complete shock. Apparently it was for harassment but I hadn’t contacted him for four months and then maybe I think I’ve only sent three or four emails to him in total.””
Ia menuturkan, pada saat itu ia sedang menjalankan penyelidikan terhadap dugaan plagiarisme yang dinilai terkait dengan karya akademik Arday. Grove juga menyebut ia sudah berupaya berkorespondensi sebelumnya, termasuk mengirim penawaran right of reply.
Rowley, ketika ditanya apakah ia perlu meminta maaf kepada Grove, menyatakan persetujuannya. Ia mengatakan keluhan seharusnya “screened out earlier on as not requiring investigation”, karena jenis laporan yang diterima dinilai tidak perlu sampai pada tahap investigasi.
Dalam pernyataan kepada LBC, Rowley berkata, “We dropped the ball on that one, let’s not beat around the bush. “A report came in of harassment or some crime like that, it should have been screened out as not requiring investigation… “We shouldn’t have made that call to him [Grove] and said that.””
Rangkaian peristiwa ini terjadi di tengah perkembangan terbaru di Universitas Cambridge. Arday, yang sebelumnya menyangkal tuduhan plagiarisme namun mengakui adanya beberapa kesalahan, mengundurkan diri dari jabatannya setelah kampanye pemberitaan media menyoroti dugaan tersebut.
Universitas kemudian memulai investigasi pada Selasa terhadap Arday, yang berusia 41 tahun. Universitas menyebut penyelidikan dibuka menyusul beberapa pemberitaan yang membuat klaim terkait aktivitas akademik Arday.
Dalam konteksnya, Arday dikenal sebagai Cambridge’s youngest black professor pada 2023. Jabatan tersebut membuat namanya berada di sorotan publik ketika serangkaian cerita mengenai dugaan plagiarisme bermunculan.
Grove mengatakan, pada 2025 ia mulai menginvestigasi tuduhan bahwa Arday telah memplagiarisasi bagian dari PhD-nya. Grove menyebut ia kemudian mengirimkan email menawarkan right of reply kepada Arday.
Lebih lanjut, Grove menyinggung bahwa ia sebelumnya telah berhenti berkomunikasi selama beberapa waktu ketika telepon dari petugas Met datang. Ia menggambarkan situasi itu sebagai ketidakcocokan antara kondisi nyata hubungan komunikasi dan alasan yang diberikan.
Pengunduran diri Arday dan pernyataan yang menyertainya
Berita Terkait
Dalam pernyataan yang dipublikasikan oleh kelompok kampanye Good Law Project pada Rabu, Arday menyampaikan bahwa tuduhan, spekulasi, dan pembahasan publik telah memberikan dampak mendalam baginya. Arday menulis, “relentless accusations, speculation and public commentary have taken a profound toll on me and on those I love”.
Ia melanjutkan, “I no longer wish to feel as though I am living under a constant spotlight, where every aspect of my life is subject to public examination and judgement,” serta menambahkan bahwa pengunduran dirinya tidak boleh dimaknai sebagai penerimaan terhadap narasi yang berkembang. Arday berkata, keputusan itu seharusnya tidak “be mistaken for an acceptance of the narratives that have surrounded me”.
Resign Arday disebut mengikuti serangkaian laporan media yang menuduh ia memplagiarisasi bagian dari tesis PhD-nya. Dugaan itu terkait dengan tesis yang ia selesaikan di Liverpool John Moores University (LJMU).
LJMU, yang memberikan gelar PhD kepada Arday pada 2015, dilaporkan telah meneliti tuduhan yang muncul tahun lalu. Namun, institusi itu tidak mendukung dakwaan tersebut.
Dalam wawancara sebelumnya bersama Times, Arday membela diri dengan menyatakan bahwa ia tidak menerima supervisi yang memadai selama PhD karena kondisi autism serta learning disabilities yang ia miliki. Arday juga menegaskan bahwa pada fase awal ia tidak mampu membiayai proofreader untuk mendeteksi kesalahan.
Selain isu plagiarisme, pemberitaan di pers juga mengangkat sejumlah klaim lain yang terkait Arday. Di antaranya, Arday disebut menyatakan bahwa ia berlari sejauh 600 miles dalam enam hari serta mengaku telah menggalang dana sebesar ÂŁ5.5m untuk amal.
Perdebatan di komunitas akademik
Kontroversi ini menghadirkan beragam respons, termasuk dari lingkungan akademik. Kathleen Stock, seorang filsuf dan mantan profesor di Sussex University, menilai bahwa perekrutan Arday bisa didorong oleh kebutuhan universitas memperoleh “good press”.
Stock mengatakan kepada program Today, “The elite universities like Cambridge and Oxford had a particular problem because they are perceived to be quite harsh places, quite unkind places and very white places. And they wanted to change that impression”.
Ia juga menyebut situasi ini sebagai momen yang menentukan, dengan menggambarkannya sebagai “watershed” moment. Stock sendiri telah lebih dulu mengundurkan diri dari posisinya pada 2021 setelah konflik terkait kebebasan berbicara serta pandangannya mengenai gender identity.
Sementara itu, Kehinde Andrews—yang sebelumnya menjadi professor of black studies di Birmingham City University—menyatakan gagasan bahwa akademisi kulit hitam memiliki keuntungan karena latar ras itu tidak benar. Ia menyampaikan pandangan tersebut dalam wawancara dengan BBC’s Today programme.
Andrews berkata, “What happens to black academics is we’re not in an area where it’s great and the left wing universities love us and they’re trying to promote us. “What happens is you work at a place for 12 years, you’re very, very successful, and then you get made redundant. That’s the experience of black academics.”
Dinamika pendapat yang beragam ini memperlihatkan bahwa kasus yang melibatkan seorang profesor Cambridge tidak hanya menjadi perdebatan akademik, tetapi juga menyentuh diskursus lebih luas mengenai representasi, standar institusi, serta cara universitas membentuk reputasi di ruang publik.
Di sisi lain, pengakuan Rowley tentang kesalahan Met dalam menindak lanjuti keluhan memberi sorotan baru pada proses penanganan yang melibatkan jurnalis dan pihak yang menjadi pusat pemberitaan. Ia menekankan bahwa laporan yang diterima seharusnya disaring lebih awal agar tidak menimbulkan panggilan dan arahan yang kelak dipandang keliru.












