Hukum & Kriminal

Saat Sopir Angkot di Tanah Abang Diminta “Uang Keamanan”, Mereka Pilih “Daripada Ribut, Yang Penting Bisa Narik”

×

Saat Sopir Angkot di Tanah Abang Diminta “Uang Keamanan”, Mereka Pilih “Daripada Ribut, Yang Penting Bisa Narik”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: "Daripada Ribut, Yang Penting Bisa Narik" Saat Sopir Angkot di Tanah Abang Diminta "Uang Keamanan"

jurnalistik.co.id – Di kawasan Tanah Abang dan Senen, Jakarta Pusat, aktivitas angkutan kota dan pedagang berjalan hampir tanpa jeda. Di sela rutinitas itu, sebagian sopir menceritakan masih berseliwerannya permintaan pungutan yang mereka sebut sebagai “uang keamanan”.

Pada Rabu (5/8/2026), suasana di sekitar pasar terlihat ramai: ratusan pedagang menata dagangan, sementara puluhan angkot hilir mudik mencari penumpang. Meski pergerakan ekonomi berlangsung terus, praktik pungutan tambahan masih terasa di beberapa titik yang biasa dipakai untuk menunggu penumpang.

Istilah “uang keamanan” bukan hal asing bagi sebagian pedagang maupun sopir angkot. Nilainya disebut tidak besar, berkisar Rp 5.000 hingga Rp 10.000. Bagi mereka yang mengaku pernah mengalaminya, pungutan itu dianggap sebagai “biaya tambahan” agar aktivitas tetap bisa berjalan tanpa gangguan berarti.

Ujang (48), sopir angkot yang mengawali hari dengan mengemudikan kendaraannya sejak pagi, mengatakan tantangan paling nyata bagi para pengemudi adalah persaingan mencari penumpang. Menurutnya, di beberapa tempat mangkal, kadang muncul setoran yang oleh sopir disebut “setoran keamanan”. Ia menuturkan, “Kalau ngetem ya kadang ada lah setoran sedikit. Paling sekitar Rp 10.000. Enggak tiap hari juga, tergantung lagi di mana.”

Ujang tidak menyebut secara spesifik siapa pihak yang meminta pungutan tersebut. Namun ia menekankan, bagi sopir yang sudah lama bekerja di kawasan itu, pola seperti ini ternyata tidak sepenuhnya baru. Di antara mereka ada pilihan untuk tidak memperpanjang persoalan karena tujuan utama tetap bekerja dan tetap menarik penumpang.

“Kalau sopir lama mah sudah tahu. Ya namanya cari makan, kadang ikut saja daripada ribut. Yang penting masih bisa narik penumpang,” ujarnya. Dengan kata lain, keputusan yang diambil sebagian sopir lebih berorientasi pada kelangsungan aktivitas dibanding mempertentangkan peristiwa yang mereka anggap tidak selalu muncul di setiap lokasi.

Meski begitu, Ujang menegaskan tidak semua titik mangkal angkot mengalami situasi serupa. Ia berkata, “Enggak semua tempat begitu kok. Ada juga yang tidak ada apa-apa.” Pernyataan itu menggarisbawahi bahwa kemunculan pungutan tambahan tidak merata, bergantung pada titik dan situasi saat angkot menunggu penumpang.

Syarif (55) menyampaikan cerita yang sejalan. Ia mengatakan, pungutan lebih sering terdengar menimpa sopir yang berhenti cukup lama untuk menunggu. Menurutnya, pola menunggu menjadi salah satu pemicu percakapan soal “uang keamanan”. Ia menyebut, “Kalau angkot memang lebih sering dengar begitu. Soalnya kan suka ngetem nunggu penumpang. Kadang ada yang minta uang keamanan sekitar Rp 10.000.”

Baginya, besaran yang relatif kecil membuat sebagian pengemudi memilih tidak terlalu mempermasalahkan, bukan karena menganggap praktik tersebut benar, melainkan agar pekerjaan berjalan dengan lebih tenang. “Ya kalau segitu, kadang orang mikir daripada ribet ya dikasih saja. Biar bisa kerja tenang,” tuturnya.

Seperti Ujang, Syarif juga menyatakan bahwa tidak semua lokasi mengalami kondisi demikian. Ia menyebut bahwa setiap titik memiliki situasi berbeda, sehingga cerita yang beredar di kalangan pengemudi tidak bisa dianggap sebagai pola tunggal yang terjadi di seluruh area.

Sementara itu, pengalaman sopir bajaj cenderung berbeda. Roni (52) mengatakan, pengemudi bajaj lebih jarang mendengar adanya pungutan dibanding angkot. Ia mengaitkannya dengan perbedaan cara mencari penumpang: bajaj cenderung lebih sering berpindah tempat sehingga tidak terlalu lama berada pada satu titik.

“Kalau bajaj tidak terlalu sering, soalnya kita muter terus. Beda sama angkot yang ngetem,” kata Roni. Dengan ritme yang lebih bergerak, ia menilai peluang untuk berhadapan dengan permintaan pungutan tambahan ikut mengecil.

Meski demikian, Roni tidak sepenuhnya menutup kemungkinan adanya permintaan di beberapa lokasi. Ia mengaku pernah mendengar cerita dari sesama pengemudi, namun frekuensinya lebih jarang. Ia menyatakan, “Pernah dengar juga sih ada yang diminta uang keamanan, tapi kebanyakan memang cerita dari teman-teman sopir angkot. Kalau bajaj paling sesekali saja, tidak umum.”

Roni berharap agar pengemudi bisa mencari nafkah tanpa dibebani pungutan di luar ketentuan. Harapan itu ia sampaikan dengan nada sederhana, “Ya harapannya sih semua bisa cari makan dengan tenang, tidak ada pungutan-pungutan begitu.”

Di Tanah Abang, praktik yang terkait “uang keamanan” juga dikenal dalam percakapan harian di sekitar aktivitas pasar. Sejumlah pedagang menyebut istilah itu sebagai bagian dari ingatan dan kebiasaan yang masih berpengaruh pada cara orang menjalankan urusan di area tersebut.

Di tengah ritme harian Tanah Abang, cerita-cerita para sopir dan pengemudi menunjukkan bahwa yang menjadi perhatian utama tetap sama: bagaimana mereka bisa bekerja, tetap menarik penumpang, dan menghindari gangguan yang berpotensi menghambat aktivitas. Namun, perbedaan antara lokasi yang satu dengan yang lain, serta antara angkot dan bajaj, memperlihatkan bahwa pengalaman tentang pungutan tambahan tidak seragam—ada titik yang dilaporkan sering muncul, ada pula yang tidak sama sekali.