Hukum & Kriminal

Kepala Polisi Metropolitan Akui Kekeliruan dalam Penanganan Dugaan Plagiarisme Jason Arday

×

Kepala Polisi Metropolitan Akui Kekeliruan dalam Penanganan Dugaan Plagiarisme Jason Arday

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Met Police boss admits mistake over Jason Arday plagiarism row

jurnalistik.co.id – Sir Mark Rowley, Komisaris Metropolitan Police (Met), menyatakan pihaknya telah “dropped the ball” dalam penanganan dugaan kasus plagiarisme yang melibatkan Profesor Jason Arday. Pengakuan itu disampaikan setelah proses penyelidikan yang berlangsung sekitar empat bulan.

Menurut laporan BBC, tim Met menginvestigasi seorang jurnalis bernama Jack Grove yang menelusuri klaim-klaim terkait Arday. Grove menyebut ia telah diberi informasi oleh pihak Met bahwa komplain yang berasal dari Arday sudah ditutup, dan ia diminta tidak menghubungi Arday lagi.

Ketika ditanya oleh broadcaster LBC apakah ia seharusnya meminta maaf kepada Grove, Rowley menyetujui perlunya permintaan maaf. Rowley juga menilai keluhan tersebut seharusnya tidak diteruskan ke tahap investigasi, karena menurutnya kasus itu semestinya “screened out earlier on as not requiring investigation”.

Grove menjelaskan bahwa peristiwa tersebut bermula pada awal Februari, saat ia menerima panggilan dari seorang petugas polisi Met. Dalam penjelasannya, Grove mengatakan situasi itu datang tanpa peringatan sebelumnya.

“In early February I received a call from a Met police officer saying that a complaint had been raised against me by someone and Professor Arday was very distressed and I shouldn’t contact him again.”

Grove menambahkan dampaknya baginya sangat mengejutkan, terutama karena ia tidak berhubungan dengan Arday dalam beberapa bulan terakhir. Ia menyebut, “It was a complete shock. Apparently it was for harassment but I hadn’t contacted him for four months and then maybe I think I’ve only sent three or four emails to him in total.”

Rowley, dalam komentarnya kepada LBC, menegaskan bahwa Met membuat keputusan yang keliru dalam menindaklanjuti komplain tersebut. Ia menyatakan, “We dropped the ball on that one, let’s not beat around the bush.”

Ia melanjutkan bahwa laporan yang masuk tentang dugaan “harassment” atau bentuk kejahatan lain semestinya disaring lebih awal. Rowley mengatakan, “A report came in of harassment or some crime like that, it should have been screened out as not requiring investigation… We shouldn’t have made that call to him [Grove] and said that.”

Sementara itu, Jason Arday mengundurkan diri dari Universitas Cambridge. Dalam pernyataan yang dipublikasikan pada Rabu oleh kampanye Good Law Project, Arday menyampaikan keluhannya mengenai tekanan yang ia terima.

Arday menyatakan, “relentless accusations, speculation and public commentary have taken a profound toll on me and on those I love”. Ia juga menambahkan, “I no longer wish to feel as though I am living under a constant spotlight, where every aspect of my life is subject to public examination and judgement,” serta menegaskan bahwa pengunduran dirinya tidak boleh dipandang sebagai penerimaan atas narasi yang beredar.

Pengunduran Arday muncul setelah rangkaian pemberitaan yang menuduh ia melakukan plagiarisme atas sebagian karya akademiknya. Tuduhan itu disebut berkaitan dengan tesis PhD yang ia selesaikan di Liverpool John Moores University (LJMU).

LJMU, yang memberikan gelar PhD kepada Arday pada 2015, telah menelaah tuduhan yang dimunculkan tahun sebelumnya, tetapi tidak menemukan dasar untuk membenarkan dakwaan tersebut. Pada bagian pembelaannya dalam wawancara sebelumnya dengan Times, Arday menyatakan ia tidak memperoleh supervisi yang memadai selama proses PhD karena kondisi autism dan learning disabilities. Ia juga mengatakan ia tidak mampu membiayai proofreader untuk mendeteksi kesalahan ketika memulai karier akademiknya.

Selain isu utama tentang klaim plagiarisme, pemberitaan juga menyoroti kebenaran sejumlah klaim lain yang pernah disebut Arday. Di antaranya, klaim bahwa ia berlari 600 mil dalam enam hari dan bahwa ia menggalang dana hingga ÂŁ5.5m untuk amal.

Universitas Cambridge membuka investigasi pada Selasa terkait Arday. Dalam konteks tersebut, Arday disebut berusia 41 tahun dan menjadi profesor kulit hitam termuda di Cambridge pada 2023. Investigasi dilakukan setelah beberapa laporan media membuat klaim mengenai akademisi tersebut.

Dalam keterangannya kepada BBC Radio 4’s Today programme, Jack Grove mengatakan ia sedang menyelidiki dugaan bahwa Arday memplagiasi bagian dari PhD-nya. Grove juga menyebut bahwa pada 2025 ia telah menghubungi Arday melalui email untuk menawarkan hak jawab. Ia kemudian menjelaskan bahwa ia menerima panggilan dari Met yang membuatnya merasa situasinya tiba-tiba berubah.

Kehadiran kasus ini memunculkan beragam pandangan di kalangan akademik. Kathleen Stock, seorang filsuf dan mantan profesor di Sussex University, mengatakan penunjukan Arday dipengaruhi oleh kebutuhan universitas untuk “good press”. Stock menilai Cambridge dan Oxford punya masalah khusus karena dipersepsikan sebagai lingkungan yang keras, tidak ramah, dan “very white places”. Ia menyebut momen ini sebagai “watershed”.

Di sisi lain, Kehinde Andrews, yang pernah menjadi profesor studi kehitaman di Birmingham City University, menolak gagasan bahwa akademisi kulit hitam memiliki keuntungan karena latar rasialnya. Ia menilai pengalaman akademisi kulit hitam justru tidak berjalan sesuai narasi bahwa kampus-kampus sayap kiri secara otomatis menyokong mereka. Andrews mengatakan pada program Today BBC, “What happens to black academics is we’re not in an area where it’s great and the left wing universities love us and they’re trying to promote us.”

Andrews menambahkan, “What happens is you work at a place for 12 years, you’re very, very successful, and then you get made redundant. That’s the experience of black academics.”

Pada saat yang sama, disebut pula Jesus College, Cambridge—tempat Arday berstatus fellow—mengatakan pihaknya meluncurkan proses tersendiri. Dengan demikian, selain investigasi universitas, langkah internal di lingkungan kolegi turut menjadi bagian dari tindak lanjut atas polemik yang berkembang.