Peristiwa

Larungan 1 Suro di Telaga Ngebel Ponorogo, Gunungan Ikan Nila Jadi Rebutan Warga

×

Larungan 1 Suro di Telaga Ngebel Ponorogo, Gunungan Ikan Nila Jadi Rebutan Warga

Sebarkan artikel ini
Larungan 1 Suro di Telaga Ngebel Ponorogo, Gunungan Ikan Nila Jadi Rebutan Warga Regional 16 Juni 2026
Ilustrasi: Larungan 1 Suro di Telaga Ngebel Ponorogo, Gunungan Ikan Nila Jadi Rebutan Warga

jurnalistik.co.id – Prosesi Larungan 1 Suro di Telaga Ngebel, Ponorogo, menjadi penutup rangkaian Grebeg Suro 2026 di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Di lokasi itu, ribuan warga dan wisatawan memadati kawasan telaga untuk menyaksikan tradisi yang sudah lama ditunggu.

Kirab berlangsung dengan menampilkan puluhan buceng dan gunungan berisi hasil pertanian, buah-buahan, hingga komoditas perikanan. Setelah dikirab, rangkaian benda-benda kirab tersebut diperebutkan oleh masyarakat di sekitar telaga.

Dalam prosesi ini, satu tumpeng agung berbahan beras merah lengkap dengan ayam ingkung dilarung ke tengah telaga. Ritual tersebut dimaknai sebagai simbol rasa syukur atas keberkahan yang diharapkan terus menyertai kehidupan warga.

Gunungan ikan nila jadi daya tarik baru

Tahun ini, perhatian pengunjung tertuju pada gunungan ikan nila yang baru pertama kali dihadirkan dalam Larungan 1 Suro. Gunungan tersebut berisi ratusan ikan nila dengan total berat ratusan kilogram, sehingga langsung menarik minat warga begitu kirab selesai.

Begitu rangkaian kirab berakhir, warga berdesak-desakan untuk berebut ikan nila dari gunungan. Kerumunan yang terbentuk menunjukkan antusiasme yang kuat, karena kesempatan mendapatkan ikan dari gunungan dianggap sebagai bagian dari dinamika tradisi setiap tahun.

Gigih Santoso, salah seorang warga yang berhasil mendapatkan ikan nila, mengaku rutin datang ke Telaga Ngebel untuk mengikuti Larungan 1 Suro. Ia menyampaikan pengalamannya melalui penggalan keterangan saat kegiatan berlangsung pada Selasa (16/6/2026), “Setiap larungan saya ke sini. Tahun ini dapat ikan nila, kalau dulu biasanya dapat durian. Ramai banget tadi,” ujarnya.

Ia menyebut bahwa tradisi ini selalu menghadirkan keramaian yang dinantikan. Pada tahun ini, ia mendapatkan ikan nila, sementara pada kesempatan sebelumnya biasanya mendapatkan durian, sehingga momen tersebut terasa berbeda bagi dirinya.

Ide tumpeng dan rincian bahan

Ketua Komunitas Petani Ikan Telaga Ngebel, Hadi Santoso, menjelaskan bahwa ide menghadirkan kegiatan dengan tumpeng ikan nila muncul hanya beberapa hari sebelum pelaksanaan larungan. Hadi menyebut langkah itu sebagai inisiatif dari pihaknya untuk memberi warna baru pada prosesi.

Ia mengatakan, “Jadi kita berinisiatif memunculkan kegiatan dengan membuat tumpeng nila,”. Menurutnya, persiapan tidak dilakukan secara instan, melainkan melalui perencanaan yang memadai agar kegiatan dapat berjalan sesuai rangkaian tradisi yang sudah mengakar.

Hadi memaparkan satu buceng ikan nila menggunakan sekitar tiga kuintal ikan nila. Ia juga menyebut bahwa dalam satu kuintal terdapat kurang lebih 400 ekor ikan, sehingga total ikan yang digunakan mencapai sekitar 1.200 ekor.

Dengan rincian tersebut, gunungan ikan nila dihadirkan dalam skala yang cukup besar. Kerja persiapan bahan menjadi salah satu faktor yang membantu kelancaran prosesi hingga tahap perebutan setelah kirab selesai.

Telaga Ngebel dikenal sebagai sentra budidaya

Hadi menuturkan pemilihan ikan nila bukan tanpa alasan. Telaga Ngebel selama ini dikenal sebagai salah satu sentra budidaya ikan nila di Ponorogo, sehingga komoditas perikanan tersebut menjadi bagian yang relevan dengan karakter wilayah.

Melalui kehadiran gunungan ikan nila untuk pertama kali, tradisi Larungan 1 Suro tidak hanya menjadi ruang perayaan Grebeg Suro, tetapi juga menghadirkan penanda kuat tentang aktivitas ekonomi dan produksi lokal. Ketika warga berebut gunungan, suasananya memperlihatkan bagaimana kearifan tradisi dapat bersanding dengan identitas sektor budidaya di sekitar telaga.

Setelah kirab selesai, momen perebutan menjadi bagian yang paling dinamis dalam rangkaian prosesi. Warga yang sebelumnya menyimak jalannya arak-arakan lalu bergerak mendekat ke area telaga, mengikuti ritme tradisi yang selalu menekankan partisipasi langsung dari masyarakat.

Gunungan ikan nila yang baru diperkenalkan pada Larungan 1 Suro membuat alur kegiatan terasa semakin hidup. Antusiasme itu terlihat dari cepatnya kerumunan terbentuk begitu ikan nila dilepas setelah kirab, sekaligus menunjukkan bahwa perubahan bentuk sajian tradisi masih dapat diterima karena selaras dengan karakter Telaga Ngebel sebagai sentra budidaya.

Di balik kemeriahan tersebut, persiapan yang dilakukan terarah agar tumpeng agung, buceng, dan gunungan dapat berjalan sesuai rangkaian. Hadi menilai perencanaan menjadi kunci, termasuk perhitungan jumlah ikan dalam setiap buceng dan penyiapan bahan agar prosesi tidak hanya meriah, tetapi juga tetap menjaga makna yang dihadirkan dalam tradisi Grebeg Suro 2026.