jurnalistik.co.id – Longsor yang menimpa rombongan pendaki di Broad Peak, Pakistan, menyebabkan empat pendaki meninggal dunia. Enam pendaki lainnya kini dikhawatirkan tewas atau hilang setelah kejadian di kawasan Pegunungan Karakoram.
Kabar tersebut disampaikan oleh Menteri Pariwisata wilayah Gilgit-Baltistan. Menurutnya, dua jenazah dari total korban sudah berhasil diidentifikasi, sedangkan dua jenazah lainnya masih dalam proses penentuan identitas.
Operasi pencarian dan penyelamatan untuk hari ini dihentikan sementara karena kondisi cuaca yang tidak mendukung. Faisal Ehsan Pirzada, Sekretaris Dalam Negeri Gilgit Baltistan, menyatakan pencarian dijadwalkan dilanjutkan kembali besok.
Dari laporan pihak berwenang, rombongan pendaki yang terimbas longsor berisi seorang warga Amerika, seorang warga China, seorang warga Pakistan, seorang warga Omani, serta enam pendaki Nepal. Kelompok tersebut dipimpin Nirmal Purja, pendaki asal Nepal yang dikenal luas di komunitas pendakian internasional.
Arus pencarian bermula setelah muncul laporan longsor terjadi pada Kamis, di Broad Peak yang memiliki ketinggian 8.047 meter. Upaya tersebut diarahkan untuk tim pendakian internasional beranggotakan sepuluh orang yang dipimpin Purja.
Nirmal Purja dikenal karena pencapaian ekstremnya: memanjat keempat belas puncak setinggi lebih dari 8.000 meter hanya dalam tempo sedikit di atas enam bulan pada 2019. Rekam jejak itu membuat namanya kerap menjadi sorotan saat ia memimpin ekspedisi di berbagai wilayah pegunungan tertinggi dunia.
Dua pendaki yang identitasnya telah dikonfirmasi oleh Alpine Club of Pakistan adalah Nadhira Ahmed Abdullah Al Harthy dari Oman dan Pur Bahadur Gurung dari Nepal. Untuk dua jenazah lainnya yang telah ditemukan, identitasnya belum diumumkan ke publik.
Dalam perkembangan sebelumnya, Alpine Club menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan otoritas. Pernyataan itu juga mencakup informasi bahwa dua helikopter penyelamat telah dikirim oleh Angkatan Bersenjata Pakistan, membawa personel penyelamatan dan peralatan khusus untuk mendukung operasi.
Alpine Club juga menyampaikan bahwa organisasi tersebut berada dalam koordinasi aktif. Mereka menyatakan telah “in constant contact” dengan pihak berwenang guna memastikan bahwa “all available resources are mobilised at the earliest opportunity”, sembari menambahkan doa keselamatan bagi seluruh pendaki dan solidaritas kepada keluarga serta komunitas pendaki internasional.
Purja sendiri memiliki latar belakang militer sebelum berkiprah penuh sebagai pendaki. Ia bergabung dengan British Army pada 2003, lalu masuk Special Boat Service pada 2009, satuan pasukan khusus Angkatan Laut Kerajaan.
Jelang masa pendakian yang lebih dikenal luas, Purja tercatat pernah menuju Everest Base Camp pada 2012. Saat itu, alih-alih kembali ke Kathmandu, ia menaklukkan Lobuche East setinggi 6.119 meter di Nepal—yang disebut sebagai puncak pertamanya.
Berita Terkait
Dalam ekspedisi yang sama, Purja didampingi Mallory Geis, seorang pendaki berkebangsaan Amerika. Pada pertengahan Juni, Geis memposting kabar terkait perlengkapan baru untuk ekspedisi pertamanya ke Pakistan, yang ia sebut sebagai “her first big kid climbing expedition in Pakistan”.
Geis juga disebut terhubung dengan unggahan dari sebuah perusahaan perjalanan bernama Moving Mountains. Dalam unggahan tersebut, Geis disebut akan mendaki bersama Sohail Saki, warga Pakistan yang turut masuk daftar pendaki yang kini disebut dikhawatirkan tewas atau hilang.
Menurut unggahan itu, ekspedisi di Pakistan tersebut disebut menjadi upaya terakhir bagi Saki pada kategori puncak setinggi 8.000 meter, sementara bagi Geis ini menjadi percobaan pertamanya. Detail semacam ini memperlihatkan bahwa tim yang terseret musibah bukan sekadar membawa pengalaman panjang, tetapi juga sedang berada di fase-target baru.
Selain Purja, Saki, dan Geis, beberapa nama lain juga disebut termasuk di antara pendaki yang dikhawatirkan hilang. Di antaranya adalah Pur Bahadur Gurung—yang juga dikenal sebagai Yukta—serta Kili Pemba Sherpa.
Yukta disebut tersertifikasi oleh International Federation of Mountain Guides Associations (IFMGA). Ia disebut berada sangat dekat menyelesaikan tantangan 14 puncak, yakni upaya meraih puncak-puncak tertinggi dunia yang menjulang setidaknya 8.000 meter di atas permukaan laut.
Sementara itu, Kili Pemba Sherpa disebut telah mencapai puncak Everest sebanyak 15 kali sejauh ini. Pada 2021, Pemba turut menjadi bagian dari ekspedisi musim dingin K2 yang bersejarah, bersama beberapa pendaki Nepal—termasuk Purja.
Pemba juga dikenal sebagai pemandu yang memimpin Xia Boyu, pendaki yang menjalani amputasi ganda, untuk menembus puncak Everest pada 2018. Xia, seorang pendaki asal China, disebut kehilangan kedua kakinya puluhan tahun sebelumnya saat berusaha mencapai puncak Everest.
Broad Peak sendiri dipandang sebagai salah satu gunung yang lebih menantang bagi ekspedisi. Puncak ini juga tercatat sebagai peringkat ke-12 tertinggi di dunia, dengan sejarah pendakian yang panjang dan risiko yang tidak kecil.
Pendakian sukses pertama Broad Peak disebut terjadi pada 1957, ketika sebuah ekspedisi Austria yang terdiri dari empat orang mencapai puncak. Setelah itu, semakin banyak pendaki yang mencoba menaklukkan puncak setinggi 8.051 meter—namun tetap saja, korban jiwa terus tercatat.
Salah satu catatan yang menonjol adalah tahun 2013 yang tercatat sebagai periode paling mematikan bagi Broad Peak. Saat itu, setidaknya enam kematian dilaporkan, menegaskan bahwa medan dan kondisi alam di ketinggian ekstrem dapat menimbulkan bencana yang fatal kapan saja.
Dengan operasi yang ditangguhkan sementara akibat cuaca hari ini dan dijadwalkan berlanjut besok, perhatian kini tertuju pada kelanjutan pencarian terhadap enam pendaki yang masih belum dipastikan nasibnya. Publik berharap identifikasi korban dapat dilakukan secepatnya dan seluruh pendaki yang hilang dapat ditemukan dalam kondisi terbaik.












