Otomotif

Masalah Baterai Litium Motor Listrik Bisa Muncul Setelah 3 Tahun

×

Masalah Baterai Litium Motor Listrik Bisa Muncul Setelah 3 Tahun

Sebarkan artikel ini
Penyakit Baterai Litium Motor Listrik Bisa Muncul Setelah 3 Tahun Otomotif 17 Juni 2026
Ilustrasi: Penyakit Baterai Litium Motor Listrik Bisa Muncul Setelah 3 Tahun

jurnalistik.co.id – Baterai menjadi komponen paling vital sekaligus paling mahal pada motor listrik, sehingga kesehatannya perlu dijaga agar performa kendaraan tetap optimal dan usia pakainya lebih panjang.

Meski baterai litium dikenal lebih awet dibanding baterai SLA (Sealed Lead Acid), bukan berarti komponen ini bebas dari masalah. Seiring pemakaian, baterai litium juga bisa mengalami gangguan yang membuat motor listrik tidak beroperasi normal.

Muhlasin, pemilik bengkel spesialis motor listrik EV Solution di Pondok Aren, Tangerang Selatan, mengatakan bahwa masalah pada baterai litium umumnya baru muncul setelah usia pemakaian cukup lama. Menurutnya, waktu kemunculan masalah pada baterai litium berbeda dengan baterai SLA.

“Kalau (usia) baterai litium lebih panjang, bisa 2-3 tahun baru muncul masalah. Kalau baterai SLA, 1-2 tahun sudah bagus,” ujar Muhlasin kepada Kompas.com belum lama ini.

“Biasanya masalah (baterai litium) di BMS, seperti tidak bisa dicas atau tidak terbaca sehingga arus tidak keluar. Itu bisa diservis atau ganti BMS-nya saja, atau cukup balancing selnya,” kata dia.

Menurut Muhlasin, kerusakan pada baterai litium tidak selalu berarti seluruh paket baterai harus diganti. Dalam banyak kasus, masalah justru berasal dari Battery Management System (BMS), yaitu perangkat elektronik yang mengatur dan mengawasi kerja baterai.

BMS memonitor tegangan, arus, suhu, hingga kondisi pengisian dan pengosongan daya pada setiap sel baterai. Ketika BMS mengalami gangguan, motor listrik dapat menunjukkan sejumlah gejala, mulai dari baterai yang tidak bisa diisi ulang, indikator baterai yang tidak terbaca dengan benar, hingga arus listrik yang tidak mengalir ke motor sehingga kendaraan tidak dapat berjalan.

Kabar baiknya, kerusakan seperti ini umumnya masih bisa diperbaiki tanpa harus mengganti seluruh baterai. Bengkel spesialis biasanya akan melakukan pemeriksaan terhadap BMS terlebih dahulu sebelum memutuskan langkah perbaikan yang diperlukan.

Selain gangguan pada BMS, masalah lain yang cukup sering ditemui pada baterai litium adalah ketidakseimbangan tegangan antar sel atau yang dikenal sebagai cell imbalance. Satu paket baterai litium terdiri dari banyak sel yang bekerja secara bersamaan, sehingga perubahan kondisi antar sel dapat terjadi seiring waktu.

Dalam proses pengisian dan penggunaan yang tidak selalu seragam, masing-masing sel bisa mengalami perbedaan tegangan. Kondisi inilah yang kemudian memunculkan kebutuhan untuk melakukan balancing sel baterai.

Secara sederhana, balancing sel baterai adalah proses menyamakan tegangan antar sel dalam satu paket baterai agar seluruh sel bekerja pada level yang relatif sama. Tujuannya untuk menjaga performa baterai tetap optimal, meningkatkan efisiensi pengisian daya, serta memperpanjang usia pakai baterai.

Jika ada satu atau beberapa sel yang memiliki tegangan jauh lebih rendah atau lebih tinggi dibanding sel lainnya, BMS dapat menganggap baterai bermasalah. Akibatnya, proses pengisian daya bisa terganggu atau daya yang tersimpan tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Karena harga baterai relatif mahal, pemilik motor listrik sebaiknya melakukan pemeriksaan terlebih dahulu di bengkel yang memiliki peralatan khusus untuk mengecek kondisi BMS dan tegangan setiap sel baterai. Dengan langkah tersebut, keputusan servis atau langkah perbaikan dapat diambil berdasarkan kondisi komponen yang benar-benar bermasalah.

Gejala yang muncul pada motor listrik juga bisa membuat pemilik merasa baterai “rusak total”, padahal sumbernya kerap terkait pengelolaan oleh BMS. Ketika BMS tidak membaca kondisi secara semestinya, pengisian maupun penyaluran daya ke motor dapat terganggu sehingga kendaraan terasa seperti tidak menerima tenaga.

Cell imbalance atau perbedaan tegangan antarsel membuat kerja paket baterai menjadi tidak sinkron. Kondisi seperti ini umumnya mendorong kebutuhan balancing agar tegangan tiap sel kembali berada pada rentang yang relatif sama, sehingga proses pengisian dan pemanfaatan daya dapat berlangsung lebih lancar sesuai tujuan pengaturan BMS.

Karena gangguan pada baterai litium umumnya berkembang seiring waktu pemakaian, pemilik perlu memerhatikan tanda-tanda yang berkaitan dengan pengisian dan indikator baterai. Dengan menunggu sampai masalah jelas terlihat, pemilik bisa terlanjur mengambil keputusan servis yang kurang tepat bila penyebabnya ternyata hanya pada sistem pengawalan.

Dengan pemeriksaan menyeluruh di bengkel spesialis—terutama mengecek BMS serta tegangan setiap sel—langkah perbaikan bisa ditentukan lebih akurat. Jika yang bermasalah memang BMS, penanganannya dapat berupa servis, penggantian BMS, atau balancing sel, sehingga biaya penanganan lebih terukur dibanding langsung mengganti keseluruhan paket baterai.