jurnalistik.co.id – Pemerintah Kota Balikpapan terus mengakselerasi Koperasi Kelurahan Merah Putih agar aktif melayani kebutuhan warga, termasuk lewat model transaksi yang disesuaikan dengan kondisi fasilitas di lapangan.
Di sejumlah kelurahan, koperasi telah menjalankan aktivitas jual beli kebutuhan pokok masyarakat meski pembangunan fisik belum sepenuhnya rampung. Pemerintah juga mencatat ada koperasi yang mampu membukukan omzet hingga Rp500 juta per bulan.
Dorongan pembangunan gedung Koperasi Kelurahan Merah Putih
Pemkot Balikpapan menargetkan penyediaan 34 unit gedung koperasi kelurahan dapat diselesaikan sepenuhnya pada akhir tahun 2026. Upaya ini dilakukan bersamaan dengan penguatan operasional koperasi agar transaksi tetap berjalan dan manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, menyampaikan bahwa hingga awal Agustus sudah berdiri 11 titik bangunan fisik KMP. Rinciannya, 6 titik telah selesai dikerjakan, sedangkan 5 titik lainnya masih dalam tahap penyelesaian.
Untuk mengejar target sisa bangunan, Pemkot Balikpapan mengoptimalkan aset daerah yang ada. Selain itu, pemerintah juga menjalin sinergi penggunaan lahan dengan lembaga vertikal dan BUMN guna menjawab kendala keterbatasan lahan.
Bagus mengatakan pihaknya telah menyiapkan 11 unit aset lagi yang akan dibangun dalam tiga bulan ke depan, sehingga total dapat mencapai 22 KMP bergedung. Ia juga menyebut Pemkot telah meminta izin penggunaan lima titik lahan milik PT Pertamina untuk mendukung pembangunan di kawasan tengah dan area yang lebih padat.
“Kita sudah siapkan 11 unit aset lagi untuk dibangun dalam tiga bulan ke depan, sehingga total akan ada 22 KMP bergedung. Untuk kendala lahan di kawasan tengah dan kota, kami sudah meminta izin penggunaan lima titik lahan milik PT Pertamina,” ujar Bagus di sela meninjau pembangunan sejumlah gedung Koperasi Merah Putih pada Rabu (5/8/2026).
Omzet tinggi dan pembinaan tata kelola
Meskipun sejumlah unit gedung masih diproses, Bagus menegaskan seluruh kelompok KMP di 34 kelurahan se-Balikpapan dipastikan telah aktif beroperasi. Koperasi menjalankan fungsi transaksi untuk melayani kebutuhan pokok warga.
Berita Terkait
Dalam praktiknya, KMP Manggar disebut menjadi salah satu contoh yang menunjukkan capaian penjualan kuat. Koperasi tersebut meraih omzet penjualan mencapai Rp500 juta per bulan.
Selain mendorong aktivitas perdagangan, Pemkot juga memberikan bimbingan agar pengelolaan koperasi berjalan akuntabel dan berkesinambungan. Pemerintah telah menyelenggarakan bimbingan teknis pelaporan keuangan, pelatihan rapat tahunan pengurus, serta pembekalan khusus bagi para Lurah yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pengawas.
Pada tahap berikutnya, proses pembinaan juga diarahkan untuk menyiapkan manajer koperasi. Bagus menyebut proses pelatihan manajer koperasi sedang berlangsung dan nantinya akan ditempatkan secara profesional di masing-masing kelurahan, sebagai bagian dari upaya menata pengelolaan di tingkat lapangan.
Bagus menilai langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa gagasan menggerakkan ekonomi dari tingkat bawah benar-benar berjalan. Ia menekankan pembinaan tidak berhenti pada transaksi, tetapi juga pada penguatan sistem kerja, pelaporan, dan pengambilan keputusan pengurus koperasi.
Model PO saat gedung belum berdiri
Di sisi lain, penerapan sistem PO menjadi strategi penting ketika gedung koperasi belum tersedia. Salah satu kelurahan yang menjalankan model ini adalah Sepinggan, di mana koperasi telah beroperasi meski bangunan resmi masih belum berdiri.
Untuk sementara waktu, pengurus memanfaatkan area Kantor Kelurahan Sepinggan Raya sebagai pusat distribusi logistik sembako. Skema ini memungkinkan koperasi tetap melayani pemesanan dan penyerahan barang kepada warga tanpa menunggu pembangunan selesai.
Tiga komoditas yang paling banyak diserap warga dan pelaku UMKM lokal meliputi beras, gula pasir, serta telur ayam. Ketiganya dijual dengan sistem PO, sehingga warga dapat memesan lebih dulu sebelum pengambilan dilakukan.
Ketua KMP Sepinggan Raya, Sadariah, menjelaskan bahwa pihaknya menjalankan sistem Open PO atau pemesanan awal. Informasi mengenai barang disebarkan melalui grup WhatsApp RT, kemudian warga yang memesan dapat mengambil barangnya di kantor kelurahan pada setiap hari Sabtu.
Sadariah juga menyampaikan bahwa harga jual dikawal agar tetap ramah di kantong masyarakat, mengikuti harga acuan pasar. Dengan pola tersebut, koperasi berupaya menjaga keterjangkauan kebutuhan pokok sekaligus meminimalkan jarak antara ketersediaan barang dan permintaan warga.
Melalui kombinasi pembangunan fisik, target penyelesaian unit gedung, serta skema operasional seperti PO saat fasilitas belum tersedia, Pemkot Balikpapan berupaya memastikan Koperasi Kelurahan Merah Putih tetap bergerak. Pendekatan ini tidak hanya menekankan aktivitas ekonomi, tetapi juga membangun fondasi tata kelola agar koperasi dapat bertahan dan berkembang.












