jurnalistik.co.id – Dua akademisi Tiongkok untuk pertama kalinya meraih penghargaan tertinggi dunia di bidang matematika, demikian menurut laporan media pemerintah.
Hong Wang dan Yu Deng menjadi dua nama yang diumumkan sebagai peraih Medali Fields tahun ini. Keduanya mendapat pengakuan bersama John Pardon dari Amerika Serikat dan Jacon Tsimerman dari Kanada.
Setiap penerima memperoleh hadiah 15.000 dolar Kanada (sekitar $10.500; ÂŁ8.000). Keempatnya dianugerahi karena berhasil menyelesaikan masalah-masalah yang selama lebih dari satu abad membuat matematikawan kesulitan.
Wang, yang berusia 35 tahun dan mengajar di Amerika Serikat serta Prancis, juga tercatat sebagai perempuan ketiga yang menerima kehormatan tersebut. Sementara itu, Deng berusia 37 tahun dan menjabat sebagai profesor matematika di University of Chicago.
Medali Fields, yang kerap dipandang sebagai padanan penghargaan Nobel untuk matematika, diserahkan pada Kamis di Amerika Serikat. Perhelatan ini berlangsung di tengah meningkatnya tantangan terhadap pekerjaan komputasi manusia oleh kecanggihan kecerdasan buatan (AI).
Kabar kemenangan ini langsung menjadi perbincangan luas di media sosial Tiongkok. Tagar “Fields Medal” dan “First Chinese mathematicians to win Fields Medals” dilaporkan meraih jutaan tampilan di berbagai platform, dari Weibo hingga Rednote.
Salah satu komentar di Weibo menulis, “Pride of all Chinese people,” sementara pengguna lain menyatakan, “We are witnessing history.” Media Tiongkok juga menurunkan liputan panjang yang mengaitkan latar pendidikan dan minat pribadi para akademisi dengan makna capaian tersebut bagi negara.
Shing-Tung Yau, peraih Medali Fields yang pertama kali berasal dari etnis Tiongkok, mengatakan, “For the Chinese mathematics community, this is a dream we have been hoping to realise for decades.”
Masalah berusia satu abad yang dijawab Wang
Wang meraih Medali Fields melalui pekerjaan bersama Josh Zahl. Keduanya menelaah pertanyaan yang diajukan oleh matematikawan Jepang, Soichi Kakeya, pada tahun 1917.
Pertanyaannya berangkat dari skenario rotasi pensil: jika pensil diputar hingga kembali menghadap sepenuhnya ke posisi semula, berapa luas terkecil yang disapu oleh pensil tersebut. Dalam analisis Wang dan Zahl, pensil diasumsikan “mengapung” di ruang tiga dimensi, bukan bergerak di permukaan datar.
Studi tersebut diterbitkan tahun lalu. Dalam keterangannya kepada AFP News Agency, Wang menyampaikan, “If this conjecture fascinates people so much, it is because this kind of phenomenon shows up naturally in problems from very different fields.”
Berita Terkait
Rangkaian temuan ini menempatkan sebuah konsep geometris yang semula kompleks menjadi lebih dapat dipahami dalam konteks ruang tiga dimensi. Dengan demikian, pemecahan masalah yang telah lama mengganjal juga menjadi pijakan bagi diskusi lanjutan di bidang-bidang lain yang terkait.
Deng memecahkan Hilbert’s Sixth Problem lewat gas
Deng mendapatkan penghargaan untuk penyelesaian satu masalah lain yang juga berusia lebih dari satu abad. Pada tahun 1900, matematikawan Jerman David Hilbert mengajukan pertanyaan yang kemudian dikenal sebagai Hilbert’s Sixth Problem, yaitu bagaimana perilaku suatu “keseluruhan” dapat dihitung berdasarkan gerak partikel-partikel penyusunnya.
Deng menyelesaikan problem tersebut dengan menyoroti perilaku gas. Ia menjelaskan bahwa pekerjaannya memberi kehormatan yang sangat berarti baginya, dengan kutipan, “really great honour to have my name listed after all those great mathematicians I’ve always been admiring”.
Medali Fields diberikan setiap empat tahun untuk matematikawan berprestasi yang berusia di bawah 40 tahun. Dengan format tersebut, kemenangan Deng dan Wang sekaligus menegaskan standar generasi yang sedang naik dalam komunitas matematika global.
Latar pendidikan dan momen penghormatan
Wang lahir pada 1991 di Kota Guilin, wilayah Guangxi bagian selatan. Ia juga tercatat pernah melewati dua jenjang di sekolah dasar sebelum akhirnya masuk ke Peking University pada 2007 saat berusia 16 tahun.
Walau pada awalnya ia mengambil jurusan ilmu bumi, satu tahun kemudian ia memindahkan fokusnya ke departemen matematika. Setelah menyelesaikan studi awal, ia melanjutkan pendidikan di luar negeri, termasuk di Paris-Sud University dan École Polytechnique di Prancis, hingga meraih doktor di Massachusetts Institute of Technology (MIT).
Saat ini Wang menjadi profesor di New York University. Ia juga memegang posisi profesor permanen di Institut des Hautes Études Scientifiques (IHES) di Prancis.
Pada Kamis malam, Wang menerima telepon dari Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk menyampaikan ucapan selamat. Macron menyatakan, “She embodies the excellence of our research and our training,” dalam unggahan di X. Ia juga menambahkan, “Choose France for science,”.
Deng memulai keterlibatan dalam kompetisi matematika sejak sekolah dasar. Ia diterima di Peking University pada 2007—tahun yang sama dengan Wang—sebelum kemudian berpindah ke MIT pada 2009.
Deng memperoleh gelar doktor dari Princeton University dan mengajar di University of Chicago sejak 2024. Rangkaian pendidikan dan tahap kariernya menunjukkan perjalanan panjang yang berujung pada penyelesaian masalah klasik matematika.
Dengan kemenangan pertama dari matematikawan Tiongkok untuk Medali Fields pada periode ini, kabar tersebut tidak hanya menjadi sorotan ilmiah, tetapi juga memperlihatkan bagaimana pembahasan akademik dapat berdampak pada percakapan publik, dari ruang riset hingga media sosial.












