Pendidikan

Kampus Tak Jamin Lahirnya Pemimpin

×

Kampus Tak Jamin Lahirnya Pemimpin

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kampus Tidak Bisa Mencetak Pemimpin

jurnalistik.co.id – Tidak ada bangsa yang tidak berharap lahirnya pemimpin besar. Gagasan untuk menyiapkan calon pemimpin lewat pendidikan tinggi selalu memancing satu pertanyaan: apakah kepemimpinan bisa “diproduksi” di bangku kuliah.

Pertanyaan ini tidak sekadar urusan administratif. Ia menyentuh inti dari kepemimpinan itu sendiri, terutama ketika pemerintah menggagas berdirinya Universitas Republik Indonesia (URI) untuk melahirkan calon-calon pemimpin nasional. Publik menyambutnya dengan optimisme, namun sekaligus bertanya apakah proses pendidikan cukup untuk membentuk karakter pemimpin yang benar-benar siap memimpin.

Sukarijanto, kandidat doktor sekaligus CEO PT. Cipta Segara Internasional (Int’l Logistics System) yang berbasis di Surabaya, menempatkan perdebatan ini pada batas antara harapan dan realitas. Dalam kolomnya, ia mengutip pandangan Lee Kuan Yew: “I do not yet know of a man who became a leader as a result of having undergone a leadership course.” Kutipan itu seperti menegaskan bahwa kepemimpinan tidak bekerja seperti paket pelatihan yang langsung memberi hasil.

Selama dua dekade terakhir, industri pengembangan kepemimpinan tumbuh menjadi bisnis bernilai ratusan miliar dolar. Hampir setiap organisasi kemudian berlomba mengirim manajernya mengikuti leadership course, mulai dari pelatihan, bootcamp, executive education, hingga program sertifikasi. Namun, di titik inilah ironi muncul: investasi yang besar tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas pemimpin yang dihasilkan.

McKinsey & Company (2023) menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil organisasi merasa berhasil menyiapkan pemimpin masa depan. Sementara itu, Harvard Business Review (2022) menilai banyak program pengembangan kepemimpinan gagal karena lebih berorientasi pada transfer pengetahuan ketimbang transformasi perilaku. Lalu CustomerThink (2024) menyebut sekitar 93 persen program kepemimpinan tidak menghasilkan perubahan nyata, dan Forbes (2023) mengkritik miliaran dolar yang terbuang setiap tahun pada pelatihan yang tidak mengubah kualitas kepemimpinan secara substantif.

Data-data tersebut bukan berarti pendidikan kepemimpinan sama sekali tidak berguna. Yang dipersoalkan adalah asumsi bahwa kepemimpinan dapat dipercepat melalui modul, seminar, atau sertifikat. Masalahnya bukan semata-mata pada kelasnya, melainkan pada kenyataan bahwa kehidupan tidak pernah berjalan mengikuti silabus.

Kepemimpinan sebagai pembentukan identitas

Dalam perspektif ilmu perilaku organisasi modern, pemimpin bukan sekadar individu yang menguasai teknik memimpin. Ia merupakan sosok yang mengalami transformasi identitas, yang dalam kajian dikenal sebagai leader identity development. Herminia Ibarra, profesor ilmu perilaku organisasi dan leadership di London Business School dan INSEAD serta penulis buku “Act Like a Leader” dan “Think Like a Leader”, menjelaskan bahwa seseorang menjadi pemimpin ketika pengalaman hidup mengubah cara ia memandang dirinya sendiri, bukan hanya karena ia memperoleh jabatan.

Transformasi seperti itu tidak lahir dari ceramah yang berlangsung delapan jam. Ia muncul ketika seseorang menghadapi momen-momen yang menuntut ujian langsung: gagal mengambil keputusan-keputusan sulit, kehilangan kepercayaan bawahan, berhadapan dengan tekanan politik, harus bertanggung jawab atas kesalahan tim, hingga dipaksa memilih antara kepentingan pribadi dan kepentingan organisasi.

Dengan kata lain, pengalaman bukan sekadar pelengkap kepemimpinan. Pengalaman adalah “ruang kuliah” yang sesungguhnya, tempat seseorang berubah karena harus merespons konsekuensi yang nyata.

David Kolb melalui teori Experiential Learning menegaskan bahwa manusia belajar paling efektif melalui pengalaman konkret, refleksi, konseptualisasi, dan eksperimen ulang. Dalam konteks kepemimpinan, setiap kegagalan bisa menjadi laboratorium karakter: bukan karena kegagalan diinginkan, tetapi karena kegagalan memaksa seseorang memahami batas, belajar dari dampak, lalu menata ulang cara berpikir dan bertindak.

Karena itu, organisasi terbaik di dunia tidak berhenti pada pelatihan formal. Mereka sengaja menempatkan calon pemimpin dalam proyek-proyek yang sulit, memberi penugasan lintas budaya, menghadapkan kandidat pada situasi krisis, bahkan menjalankan rotasi pekerjaan yang penuh risiko. Tujuannya bukan sekadar menambah pengetahuan, melainkan memastikan kandidat mengalami proses pembentukan identitas kepemimpinan secara bertahap dan berulang.

Pada akhirnya, kepemimpinan memang tidak lahir dari ruang kelas semata. Kepemimpinan tumbuh ketika seseorang mampu mengambil keputusan-keputusan sulit di tengah situasi yang tidak pasti—dan ketika ia cukup berani menanggung konsekuensi dari keputusan itu, sambil terus belajar menjadi dirinya yang baru.