Bisnis & Ekonomi

Mengapa Sendirian Lebih Mahal: Teman Patungan untuk Melawan Singles Tax

×

Mengapa Sendirian Lebih Mahal: Teman Patungan untuk Melawan Singles Tax

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: The cost of being single – and how friends are teaming up to beat it

jurnalistik.co.id – Banyak orang merasa biaya hidup sebagai lajang selalu “lebih mahal”, meski kebutuhannya sama. Dalam sejumlah kasus, selisih itu bisa terakumulasi dari hal-hal kecil sampai jumlah yang sangat besar.

Istilah “singles tax” muncul untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang yang tidak tinggal berpasangan membayar lebih untuk sewa, tagihan rumah tangga, hingga berbagai layanan. Sulit menetapkan angka tunggal karena dampaknya berbeda-beda menurut lokasi, tetapi perkiraan menyebut rentang dari ratusan poundsterling sampai rata-rata sekitar £10.000 ekstra per tahun.

Perbedaan paling terasa biasanya datang dari komponen yang tidak bisa dibagi: biaya sewa atau cicilan KPR, tagihan rumah, serta langganan. Skema diskon juga sering mengasumsikan pasangan, sehingga tarif untuk satu orang—misalnya “single person supplement”—lebih sering menjadi bagian dari hitungan.

Bahkan pada kebijakan pemerintah, ada celah yang membuat pengeluaran lajang terlihat timpang. Seorang lajang membayar council tax 25% lebih rendah dibanding pasangan, tetapi tidak setengah seperti yang banyak orang bayangkan.

Dampaknya meluas karena jumlah rumah tangga lajang juga besar. Di Inggris, pada 2024 terdapat 18,5 juta orang yang belum pernah menikah atau tidak berada dalam kemitraan sipil—setara 36,8% dari populasi usia 16 tahun ke atas—sementara pada tahun lalu diperkirakan 8,6 juta orang tinggal sendirian, hampir sepertiga dari seluruh rumah tangga.

Case study: Leanne dan Sarah memilih patungan

Leanne mengira ia harus menunda impian membeli rumah di area tempat ia dibesarkan setelah berpisah dengan pasangan pada akhir usia 20-an. Walau penghasilannya cukup baik, pilihan properti yang ia incar—rumah dengan taman dan tempat parkir—terasa terlalu mahal jika hanya ia tanggung sendiri.

Di Brighton, Sarah, teman yang sudah dekat sejak sekolah, juga sedang menjalani hidup sebagai lajang sambil menyewa kamar di rumah berbagi. Ia ingin kembali tinggal ke Kent, tetapi khawatir harus menyesuaikan rencana membeli rumah dengan penghasilan dari pekerjaan kabin crew.

Ketika Sarah mengusulkan agar mereka membeli rumah bersama, Leanne mengaku ia sempat “totally baulked”. Namun setelah berkonsultasi dengan penasihat KPR, keduanya akhirnya melangkah dan menilai keputusan itu membantu mereka menghindari beban “singles tax”.

Dalam skema mereka, ada kesepakatan waktu tinggal bersama: minimum dua tahun, lalu diperpanjang hingga empat tahun. Mereka juga membahas skenario ketika salah satu ingin keluar sebelum periode berakhir.

Dari sisi pembiayaan, pembayaran KPR dibagi secara proporsional sesuai perbedaan gaji masing-masing. Semua pengaturan kemudian dituangkan dalam declaration of trust agar keduanya terlindungi ketika rumah tersebut kelak dijual.

Untuk kebutuhan harian, tagihan rumah tangga dibayarkan dari rekening bersama, sementara Sarah berperan sebagai “bill keeper” yang memastikan perpindahan dana tiap bulan sesuai kebutuhan. Mereka juga memangkas pengeluaran dengan berbagi beberapa makanan dan pola memasak, karena kebiasaan makan keduanya relatif mirip.

Leanne merangkum pengalaman itu dengan kalimat: “We called it our happy home, not our forever home”. Sarah menanggapi, “And it was a very happy home”.

Pelajaran lain dan batasan yang perlu dipahami

Membeli rumah dengan teman bisa memberi beberapa keuntungan, termasuk peluang mengumpulkan deposit lebih besar dan menyusun anggaran yang lebih masuk akal. Menurut Homeowner’s Alliance, langkah ini tetap perlu disertai perencanaan yang matang karena ada potensi masalah yang harus diantisipasi sejak awal.

Organisasi tersebut menekankan pentingnya keterbukaan soal kondisi keuangan, mencari nasihat hukum yang terpisah, serta menyusun perjanjian formal. Dengan begitu, hubungan baik dan tujuan finansial bisa berjalan seiring tanpa salah paham di kemudian hari.

Leanne dan Sarah sendiri menjual rumah mereka empat tahun setelah pindah. Keuntungan yang mereka dapat digunakan untuk pembelian berikutnya masing-masing, sehingga ekuitas yang dibangun bersama tidak berhenti pada satu tahap saja.

Sarah mengatakan, “Neither of us would have been able to do what we’ve done without having the property that we had together,” sebelum menambahkan, “It’s brought us a lot of freedom.” Sementara itu, Leanne menilai ia sebenarnya bisa mencapai rencana serupa dalam waktunya, tetapi manfaat finansial dari membeli bersama membuat semuanya terjadi lebih cepat.

Ia juga menyebut inti dari “hidden singles tax” sebagai persoalan waktu: “The hidden singles tax is that everything has to take so much longer for you to be in a position of affordability to do what you want to do”.

Keberhasilan mereka kemudian menginspirasi Philly untuk mendirikan Cucoon, sebuah platform online yang mempertemukan lajang-lajang yang mungkin ingin membeli rumah bersama. Philly menyatakan tujuannya adalah “level the playing field”, dan menambahkan bahwa “singles tax” terasa sangat tinggi khususnya dalam urusan perumahan.

Cara lain menekan biaya saat hidup sendiri

Bagi yang tetap memilih hidup sendirian, ada sejumlah pendekatan penghematan yang bisa dilakukan tanpa mengubah status rumah tangga. Salah satunya adalah memonetisasi aset nyata—misalnya menyewakan kamar, ruang parkir, atau garasi—jika opsi tersebut tersedia.

Pola “shared dinners” juga bisa membantu, dengan skema tuan rumah bergiliran memasak menggunakan bahan yang lebih besar namun lebih murah. Selain itu, ada konsep “borrowing circles”, yaitu satu orang membeli barang mahal seperti lawnmower lalu kemudian barang tersebut diteruskan untuk dipakai orang lain.

Untuk kebutuhan berpergian, “errand pooling” dapat mengurangi biaya bahan bakar dengan cara bergantian mengantar atau mengemudikan perjalanan ke supermarket. Cara ini mengandalkan koordinasi sederhana, tetapi efeknya terasa pada pengeluaran yang berulang.

Julia Pearson dari Hampshire memulai Just4One sekitar sembilan tahun lalu setelah ingin pergi berlibur dan menemukan banyak tempat mengenakan biaya ekstra jika ia datang sendirian. Platform itu bukan hanya memberi dukungan praktis untuk hidup solo, tetapi juga menampilkan penyedia perjalanan yang tidak memasukkan single supplement.

Julia menggambarkan pengalaman sebagai “constant review of your costs all the time”. Ia juga mencoba saran dari RAC terkait asuransi mobil: menambahkan “named driver” ke polis, dan menyebut langkah tersebut berhasil menurunkan biayanya sebesar 8%.

RAC mengingatkan, strategi itu bisa menurunkan premi, tetapi juga bisa menjadi sebaliknya tergantung situasi. Julia turut menambah penghematan lewat berbagi barang dengan teman: ia pernah meminjam alat untuk merenovasi rumah dan memberikan plant cuttings dari kebun miliknya kepada orang lain.

Julia menilai perubahan budaya sosial juga penting. Ia berkata, “I think as a society, we are becoming more social in terms of our sharing and thinking,” lalu menambahkan, “Rather than thinking, ‘I’ve got to go out and buy that’, think about how else can you play that, what else can you do aside from having to buy something,” sambil menegaskan, “And it’s good for the social side as well, two benefits in one”.