Internasional

Kematian Gajah di Kenya: Dugaan Keracunan Pestisida dan Misteri Sianida

×

Kematian Gajah di Kenya: Dugaan Keracunan Pestisida dan Misteri Sianida

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kenya elephant deaths: Behind the poisoning and the pesticide mystery

jurnalistik.co.id – Kematian 15 gajah di wilayah sekitar Amboseli memicu kekhawatiran baru di Kenya. Otoritas setempat menduga ada kaitan dengan pestisida yang disemprotkan pada tanaman tomat di area sekitar taman nasional, namun penjelasan itu masih diperdebatkan.

Kenya Wildlife Service (KWS) sebelumnya menyampaikan bahwa sebagian gajah yang mati menunjukkan tanda “paralisis sebagian”. Dari temuan tersebut, dugaan awal mengarah pada keracunan akibat sianida yang digunakan dalam pestisida. Meski demikian, sejumlah pemerhati konservasi dan warga yang bermukim di sekitar lokasi mempertanyakan apakah gambaran tersebut sudah cukup untuk menjelaskan kematian secara menyeluruh.

Daniel Nina, perwakilan pemilik lahan di area tersebut, mengatakan kepada BBC bahwa ia dan warga setempat belum pernah mengalami kejadian serupa selama bertahun-tahun. “Kami sudah hidup dengan satwa liar ini selama puluhan tahun dan belum pernah mengalami ini,” ujarnya. “Karena itulah kami heran mengapa hal ini terjadi pada saat ini.”

Temuan kematian gajah terjadi di luar Amboseli National Park pada periode antara Juni hingga Juli, tepatnya ketika KWS menyebut kasus terjadi di rentang 24 Juni sampai 24 Juli. Area tempat tumbuhnya kebun tomat berada di Kimana, sebuah koridor yang menghubungkan Amboseli National Park dengan Tsavo National Park di bagian selatan Kenya. Wilayah yang lebih luas ini dikenal sebagai ekosistem Amboseli, yang membentang hingga kawasan perbatasan dekat Tanzania, tempat lebih dari 2.000 gajah berpindah untuk mencari pakan dan air.

Di Kimana, lahan pertanian tomat berkembang karena aliran sungai dari sekitar Gunung Kilimanjaro. Hasil panen kemudian dipasarkan tidak hanya di ibu kota Kenya, Nairobi, tetapi juga ke wilayah lain. Pola pemanfaatan lahan seperti ini menjadi latar penting karena gajah yang mencari pakan dapat bersinggungan langsung dengan area budidaya.

Temuan sianida dan batas penelusuran

Kepala dokter hewan KWS, Dr Isaac Lekolool, menyatakan bahwa pihaknya menemukan jejak sianida pada sampel dari isi lambung gajah. Ia menegaskan bahwa temuan itu tidak menutup kemungkinan adanya keracunan yang disengaja, tetapi pada tahap ini belum ada kepastian tentang apa yang benar-benar menyebabkan kematian.

Lekolool menyebut sulit menarik kesimpulan karena jenis kasus seperti ini belum pernah mereka lihat sebelumnya. “Sulit untuk memastikan karena kami belum pernah melihat kasus seperti ini,” kata Lekolool. Ia juga menambahkan bahwa kematian terjadi dalam waktu sekitar satu bulan, sehingga seluruh kejadian tampak seperti “sekali terjadi” dalam periode singkat.

Hipotesis kerja yang dipakai KWS adalah kemungkinan gajah terpapar racun melalui pestisida yang disemprot pada kebun tomat di dekat lokasi taman. Penjelasan yang disampaikan tidak selalu mengarah pada niat pelaku; Lekolool menyatakan keracunan bisa saja tidak disengaja. “Bisa saja tidak disengaja,” ujarnya. “Mungkin ada orang yang mencoba mengendalikan hama di tanaman mereka, dan itu bisa menjadi sumbernya.”

Dalam konteks tersebut, laporan Route to Food tahun 2024 menyoroti masalah yang lebih luas soal bahan kimia pertanian. Laporan itu menyebut adanya petani di area Kimana yang memakai insektisida dengan “bahan aktif” berupa “senyawa kimia dari sianida”. Penulis laporan, Wangunyu Njuguna, mengatakan bahwa walaupun zat tersebut ilegal di Kenya, beberapa bahan kimia beracun masih diselundupkan melalui perbatasan dengan Tanzania.

Njunguna menuturkan bahwa masalah utama terletak pada penegakan standar yang serupa di kawasan tersebut. “Masalah terbesar adalah kita tidak menegakkan standar yang sama di wilayah regional,” kata Njunguna. “Tidak ada yang memeriksa apa yang saya beli melewati perbatasan, jadi saya bisa saja membeli apa pun dan berjalan melintasi perbatasan tanpa ada yang menghentikan saya.”

Ia juga menekankan bahwa di banyak kebun Kenya, zat berbahaya memang kerap digunakan dan beberapa di antaranya dikaitkan dengan penyakit serius. Kendati regulasi terhadap agro-kimia ilegal telah ada, penegakan dinilai lemah, dan perhatian terhadap dampak pada hewan masih terbatas.

Keberatan dari pemerhati satwa

Di sisi lain, BBC mewawancarai sejumlah pemerhati konservasi yang mempertanyakan temuan awal KWS. Paula Kahumbu, pemerhati konservasi ternama yang telah bekerja dengan gajah selama hampir 30 tahun, menyatakan bahwa informasi yang tersedia belum cukup untuk membangun keyakinan atas klaim bahwa kematian disebabkan pestisida pada tanaman.

“Kami tidak memiliki informasi yang cukup rinci untuk yakin bahwa ini disebabkan pestisida pada tanaman,” kata Kahumbu. Ia menambahkan bahwa meskipun ada informasi yang dirilis ke publik, penjelasannya belum “masuk akal”. “Beberapa informasi sudah dirilis, tapi tidak nyambung,” ujarnya. “Gajah-gajah itu harus makan dalam jumlah sangat besar agar bisa mati.”

Ahli lain yang tidak bersedia disebutkan namanya menyatakan teori pestisida kurang konsisten dengan perilaku gajah. Mereka menjelaskan bahwa jantan lebih mungkin menyerbu kebun karena biasanya mengambil risiko lebih besar dibanding betina dan anak. Namun, dari 15 gajah yang terdampak, hanya satu di antaranya yang merupakan jantan dewasa.

Daniel Nina turut menambahkan perbandingan dengan kejadian sebelumnya di kebun. Menurutnya, tidak seperti insiden terbaru ini, kasus keracunan pada masa lalu justru melibatkan zebra dan antelop, yang juga mendatangi area serupa untuk mencari pakan. “Bagaimana sianida bisa membunuh gajah tapi menyisakan zebra, antelop, dan gajah rusa yang sedang memakan rumput bersama?” tanya Nina.

Di lapangan, Stephen Michael, seorang petani tomat di Kimana, mengatakan gajah dan jerapah sesekali datang untuk menyerbu kebun. Ia menyebut gajah dapat datang dari wilayah Tsavo maupun Amboseli dan merusak banyak lahan, bukan hanya miliknya. “Gajah datang dari waktu ke waktu dari Tsavo dan Amboseli,” kata Michael. “Mereka merusak banyak kebun, bukan hanya kebun saya.”

Michael mengisahkan bahwa pada kunjungan terakhir, gajah merusak kubis dan tomat. Ia memperkirakan kerugian kubis hampir mencapai 1.535 dolar AS, sementara nilai kerugian tomat tidak termasuk dalam angka tersebut. “Saya mungkin mulai menangis kalau menghitungnya,” ujarnya.

Frank Pope, CEO organisasi konservasi Save the Elephants, menilai tekanan terhadap gajah di Amboseli kini tidak lagi soal gading. “Bukan urusan gading,” katanya. “Ini urusan tata guna lahan.” Ia menyebut bahwa kebun dan penginapan di sekitar taman semakin mengambil alih ruang yang sebelumnya dipakai gajah.

Pope berpendapat bahwa aktivitas manusia yang mendorong perubahan semacam itu memperparah konflik dengan satwa. “Orang-orang bergerak masuk ke area yang punya cukup air untuk menanam tanaman, dan tanah yang subur, dan itu adalah wilayah yang justru cenderung dipakai gajah,” tuturnya.

Sampai sekarang, penyebab pasti kematian gajah belum diketahui. Namun, kekhawatiran utamanya adalah keselamatan gajah yang tersisa serta warga yang tinggal berdekatan dengan habitat mereka, karena potensi risiko masih mungkin terjadi.