Bisnis & Ekonomi

HGII Memandang Transisi Energi Membuka Peluang Luas bagi Bisnis PLTA

×

HGII Memandang Transisi Energi Membuka Peluang Luas bagi Bisnis PLTA

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: HGII Sebut Transisi Energi Buka Peluang Besar bagi Bisnis PLTA

jurnalistik.co.id – PT Hero Global Investment Tbk (HGII) melaporkan kinerja keuangan yang positif pada semester I 2026. Perusahaan mencatat perolehan laba bersih sepanjang Januari–Juni 2026, sekaligus menyoroti prospek sektor energi terbarukan, khususnya pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Dalam laporan kinerja keuangan perseroan, laba bersih HGII pada semester I 2026 tercatat sebesar Rp 11,58 miliar. Angka itu tumbuh 3,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di level Rp 11,23 miliar.

Pendapatan HGII hingga Juni 2026 mencapai Rp 36,86 miliar. Kinerja pendapatan tersebut tumbuh 3,4 persen dibandingkan semester I 2025 yang sebesar Rp 35,63 miliar.

Di sisi lain, laba kotor perusahaan tercatat sebesar Rp 28,10 miliar. Namun, nilai tersebut turun 2,6 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

HGII juga menggambarkan bahwa profitabilitasnya tetap terjaga di tengah tekanan pada beban pokok pendapatan. Perseroan menempatkan karakteristik bisnis PLTA sebagai salah satu faktor yang mendukung ketahanan kinerja tersebut.

Perseroan menilai struktur biaya operasional pada bisnis pembangkit listrik tenaga air relatif efisien. Selain itu, pendapatan jangka panjang juga dijaga melalui skema Power Purchase Agreement (PPA) dengan PT PLN (Persero).

Dari aspek permodalan, HGII mencatat rasio utang berbunga terhadap ekuitas atau Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 0,11 kali. Perusahaan turut mencatat net margin sebesar 31,4 persen dan gross margin sebesar 76,2 persen pada semester I 2026.

HGII menyebut kinerja semester I 2026 turut ditopang perkembangan sektor energi terbarukan di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per April 2026, bauran energi baru terbarukan (EBT) dalam kapasitas pembangkit listrik nasional mencapai 17,89 persen.

Angka tersebut, menurut perseroan, telah melampaui target tahun ini yang berada pada kisaran 17 hingga 21 persen. Perseroan memandang capaian bauran EBT sebagai indikator bahwa momentum transisi energi sedang berjalan.

Meski demikian, pembangkit berbasis energi fosil masih mendominasi kapasitas listrik nasional. Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara menyumbang sekitar 56 persen dari total kapasitas nasional sebesar 108 gigawatt (GW), sementara pembangkit listrik tenaga air berkontribusi sekitar 7 persen.

Menurut HGII, kondisi bauran tersebut menunjukkan masih terbukanya ruang pertumbuhan bagi pengembang PLTA. Perseroan juga menyatakan prospek sektor didukung oleh percepatan pelaksanaan proyek ketenagalistrikan nasional.

Dengan kombinasi kinerja keuangan semester I yang tetap mencatat laba serta dukungan kontrak jangka panjang melalui skema PPA, HGII menempatkan transisi energi sebagai pendorong peluang usaha pada sektor energi terbarukan. Perseroan menyatakan bahwa pergeseran komposisi energi memberi sinyal positif bagi pengembangan pembangkit listrik tenaga air.

HGII menegaskan bahwa perbaikan kinerja bukan hanya terlihat dari pertumbuhan laba, tetapi juga tercermin pada indikator profitabilitas yang relatif kuat. Pada semester I 2026, net margin berada di 31,4 persen dan gross margin di 76,2 persen, menunjukkan kemampuan perusahaan menjaga efisiensi pembentukan laba.

Ketahanan tersebut sejalan dengan pengelolaan struktur pendanaan yang terukur. Dengan DER sebesar 0,11 kali, perusahaan menunjukkan ruang yang lebih terkendali dalam menanggung beban berbasis utang berbunga, sehingga kinerja tetap dapat dipertahankan meski terdapat dinamika pada beban pokok pendapatan.

Dalam operasional bisnis PLTA, perseroan memandang skema kontrak jangka panjang menjadi salah satu penopang utama. PPA dengan PT PLN (Persero) membantu pendapatan memiliki kesinambungan, sementara karakteristik usaha pembangkit air mendukung efisiensi biaya operasional yang disebut relatif efisien.

Dari sisi prospek, perseroan mengaitkan momentum transisi energi dengan target bauran EBT yang terus dipantau. Capaian bauran EBT 17,89 persen pada April 2026 yang melampaui kisaran target 17–21 persen memperlihatkan dinamika kebijakan, namun dominasi kapasitas berbasis fosil yang masih tinggi sekaligus membuka peluang pertumbuhan bagi PLTA.