jurnalistik.co.id – Di Emirates Stadium, London, Samsung tidak sekadar menonjolkan kehebatan kamera lipatnya, melainkan memperkenalkan cara baru membuat rekaman yang lebih “siap pakai” untuk berbagai momen. Saat My FanCam Galaxy Z Fold 8 dicoba langsung, terasa jelas fitur ini diarahkan untuk membantu pengguna menangkap adegan tanpa harus terus mengatur zoom dan framing.
My FanCam merupakan fitur berbasis Galaxy AI yang hadir sebagai pembaruan di antarmuka OneUI 9.0. Samsung menyematkannya pada Galaxy Z Fold 8, Galaxy Z Fold 8 Ultra, serta Galaxy Z Flip 8.
Jika selama ini fancam identik dengan proses merekam sambil mengejar subjek di atas panggung, pengalaman di stadion menunjukkan pendekatannya berbeda. Pengguna tidak dituntut mengoperasikan kamera sepanjang acara, karena proses “mengunci” fokus dilakukan setelah video terekam.
Fokus dibuat belakangan, rekam dulu dengan sudut lebar
Secara konsep, My FanCam dirancang agar pengguna bisa membuat video fancam dengan memilih dan mengikuti satu subjek dari video berformat lebar. Dalam pengujian, alurnya dimulai dari merekam seluruh adegan menggunakan sudut pandang yang lebih lebar.
Pada rekaman dengan cara yang lebih konvensional, pengguna harus terus melakukan zoom masuk, zoom keluar, lalu menggeser area bidik agar subjek tetap berada di frame. Kelemahannya, sedikit terlambat bisa membuat momen terlewat.
My FanCam mengubah titik kerja itu. Saat rekaman sudah selesai, pengguna kemudian mengedit video melalui fitur My FanCam yang tersedia di galeri, tanpa biaya tambahan.
Setelah itu, Galaxy AI menganalisis isi seluruh video. Pengguna tinggal menentukan objek mana yang ingin dijadikan fokus, lalu sistem melakukan dua proses sekaligus: reframing untuk membingkai ulang subjek sesuai rasio pilihan dan tracking untuk mengikuti pergerakan subjek secara otomatis.
Hasil akhirnya diupayakan terlihat seperti video yang direkam dengan kamera yang terus mengikuti target, meski selama proses pengambilan gambar pengguna tidak perlu berkutat pada pengaturan zoom atau framing.
Tak hanya konser, penerapannya melebar
Berita Terkait
Dalam pengenalan fitur ini, fancam memang menjadi contoh paling dekat. My FanCam pada awalnya ditujukan untuk situasi menonton konser, tetapi setelah dijajal, fungsinya ternyata bisa dipakai untuk kebutuhan lain yang sama-sama menuntut ketepatan fokus.
Samsung menyebut fitur ini cocok untuk merekam pertunjukan teater, pentas seni sekolah, seminar dengan banyak pembicara, pertandingan olahraga, hingga acara keluarga seperti pesta ulang tahun anak. Pada titik ini, gagasan utamanya adalah memudahkan pengguna menangkap momen yang bergerak tanpa kehilangan subjek hanya karena kendala teknik saat merekam.
Dengan pola “rekam dulu, pilih subjek kemudian”, pengguna diberi ruang untuk menikmati acara. Kamera tidak terus-menerus dipaksa mengikuti pergerakan, sehingga perhatian bisa tetap berada pada jalannya pertunjukan.
Selain itu, pendekatan ini juga memungkinkan pengguna mendapatkan rangkaian momen yang lebih utuh di sepanjang acara, tidak semata menempel pada satu objek dari awal sampai akhir.
Komposisi dan alur seperti ini terasa relevan ketika subjek bergerak dari satu titik ke titik lain. Pada situasi seperti konser maupun pertandingan, fokus yang berpindah cepat sering membuat rekaman biasa menjadi tidak konsisten, terutama jika pengguna terlambat mengatur pembesaran dan arah bidik.
Dengan My FanCam, proses penentuan fokus dialihkan ke tahap edit. Pengguna cukup memilih objek yang dianggap paling penting, lalu Galaxy AI mengurus pembingkaian ulang dan pelacakan geraknya.
Pengujian di Emirates Stadium bersama kreator teknologi
KompasTekno sempat mencoba My FanCam saat mengunjungi Emirates Stadium, markas klub sepak bola Arsenal, di London. Pada pengujian pertama, saya berjalan mondar-mandir di pinggir lapangan bersama dua kreator teknologi asal Indonesia, yakni Malvin dari BestInTech dan Fahmi dari DroidLime.
Langkah tersebut dilakukan untuk melihat bagaimana fitur menanggapi perpindahan subjek dalam video. Karena proses tracking dan reframing dikerjakan oleh AI setelah video tersimpan, fokus pengambilan gambar awal lebih mengandalkan kemampuan merekam adegan secara menyeluruh.
Di fase berikutnya, pilihan objek oleh pengguna menjadi kunci: sistem akan mengikuti subjek yang ditentukan, lalu membentuk ulang tampilan sesuai kebutuhan rasio. Pola ini menyederhanakan alur pembuatan video, terutama saat perubahan posisi subjek berlangsung cepat.
Secara keseluruhan, pengalaman di stadion memperlihatkan bahwa My FanCam tidak semata hadir sebagai alat untuk “menyiasati” konsentrasi saat konser. Fitur ini lebih dekat dengan cara baru merekam dan mengolah video sehingga pengguna tidak kehilangan momen hanya karena sibuk mengatur kamera selama acara berlangsung.












