Teknologi

Laba Meta Turun karena Investasi AI, Mark Zuckerberg: Asisten Pribadi untuk Semua

×

Laba Meta Turun karena Investasi AI, Mark Zuckerberg: Asisten Pribadi untuk Semua

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Meta Rela Laba Turun demi AI, Zuckerberg Ingin Semua Orang Punya Asisten Pribadi

jurnalistik.co.id – Meta melaporkan pendapatan yang naik pada kuartal II-2026, tetapi laba justru berada di bawah perkiraan analis. Kinerja itu dikaitkan dengan pembengkakan biaya untuk pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang sejalan dengan ambisi Mark Zuckerberg.

Dalam rencana pengeluaran AI sepanjang 2026, perusahaan disebut menggelontorkan dana hingga 145 miliar dollar AS (sekitar Rp 2.617 triliun). Investasi tersebut diposisikan sebagai fondasi bagi visi Zuckerberg menghadirkan “personal superintelligence”, asisten AI yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan tiap pengguna.

Meski pendapatan menunjukkan kenaikan, tekanan di sisi laba membuat respons pasar negatif. Saham Meta sempat turun hampir 8 persen dalam perdagangan setelah penutupan bursa menyusul rilis laporan keuangannya.

Secara rinci, Meta mencatat pendapatan sebesar 60,8 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.097 triliun). Angka ini sedikit melampaui estimasi analis yang berada di 60,23 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.087 triliun).

Namun, ukuran profitabilitas yang dilihat investor bergerak berbeda. Laba per saham (earnings per share/EPS) Meta mencapai 6,18 dollar AS (sekitar Rp 111.532), lebih rendah dari proyeksi Wall Street sebesar 7,14 dollar AS (sekitar Rp 128.852) per lembar saham.

Direktur Keuangan Meta, Susan Li, menyebut perusahaan kini memperkirakan total belanja operasional sepanjang tahun mencapai 165 miliar hingga 169 miliar dollar AS (sekitar Rp 2.978 triliun–Rp 3.050 triliun). Proyeksi ini naik dari kisaran sebelumnya sebesar 162 miliar hingga 169 miliar dollar AS (sekitar Rp 2.923 triliun–Rp 3.050 triliun).

Meta juga menaikkan target belanja modal (capital expenditure/capex) 2026 menjadi 130 miliar–145 miliar dollar AS (sekitar Rp 2.346 triliun–Rp 2.617 triliun). Sebagian besar dana tersebut dialokasikan untuk membangun infrastruktur AI.

Selain biaya terkait pengembangan AI, laporan kuartal II-2026 juga mencatat beban hukum sebesar 2,4 miliar dollar AS (sekitar Rp 43,3 triliun). Kontribusi beban ini ikut menambah total pengeluaran perusahaan.

Di mata investor, besarnya belanja kecerdasan buatan menjadi perhatian karena Meta masih berupaya mengejar ketertinggalan dari OpenAI dan Anthropic dalam pengembangan model AI. Dalam konteks itu, Bloomberg sebelumnya melaporkan bahwa Meta menyiapkan bisnis cloud AI untuk memonetisasi infrastruktur yang telah dibangun.

Sebelum laporan keuangan dirilis, Zuckerberg secara aktif mempromosikan visi AI Meta melalui artikel opini di Wall Street Journal serta wawancara dengan sejumlah media. Dalam paparan tersebut, ia menekankan bahwa AI supercerdas seharusnya dapat diakses semua orang, bukan hanya dikuasai segelintir perusahaan.

Dalam paparan kinerja kuartalan (earnings call), Zuckerberg menyatakan miliaran orang akan memiliki agen kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) pribadi dalam lima tahun ke depan. Ia menyebut agen AI tidak lagi berfungsi semata sebagai chatbot yang menjawab pertanyaan, tetapi berkembang menjadi asisten digital yang memahami tujuan pengguna dan membantu menyelesaikan berbagai aktivitas secara mandiri.

“Saya rasa sangat kecil kemungkinan bahwa lima tahun dari sekarang tidak akan ada miliaran orang yang memiliki agen pribadi yang memahami tujuan mereka dan bekerja untuk mereka selama 24 jam sehari, tujuh hari seminggu,” kata Zuckerberg.

Pengembangan AI Meta juga terlihat pada produk-produknya di platform. Misalnya, Meta memperkenalkan fitur AI Mode di Facebook yang memanfaatkan Meta AI untuk merangkum jawaban berdasarkan berbagai konten publik yang dibagikan pengguna di platform tersebut.

Dengan hasil kuartal II-2026 yang menunjukkan pendapatan sedikit melampaui estimasi, tetapi laba masih tertahan, Meta berada pada persimpangan antara percepatan investasi dan ekspektasi profitabilitas. Bagi pasar, langkah besar di AI menjadi penentu apakah pembelanjaan yang meningkat akan segera berujung pada kinerja yang lebih sesuai proyeksi.