jurnalistik.co.id – Membawa Samsung Galaxy Z Fold 8 saat keliling London memberi pengalaman yang tidak saya duga sebelumnya: meski hanya mengandalkan dua kamera belakang, hasil bidiknya tetap terasa “flagship”. Dari berbagai landmark hingga sudut-sudut jalan khas kota itu, ponsel lipat bergaya “passport style” ini berhasil membuat saya cukup terkejut.
Secara spesifikasi, Galaxy Z Fold 8 memang tampil ringkas. Samsung hanya membekali dua kamera belakang, yaitu kamera utama 50 MP dan kamera ultrawide 50 MP, tanpa kamera telefoto yang biasanya ada pada Galaxy Z Fold 8 Ultra maupun seri Galaxy S26.
Pada awalnya, konfigurasi tersebut terlihat seperti kompromi untuk sebuah ponsel lipat kelas atas. Namun setelah menggunakan Galaxy Z Fold 8 selama hampir sepekan untuk memotret beragam landmark ikonik di London, kesan saya justru mengarah ke sebaliknya.
Saya menggunakan perangkat ini setelah hajatan Galaxy Unpacked, lalu mengarahkannya untuk menangkap beberapa titik terkenal seperti Big Ben, London Eye, dan Tower Bridge. Saya juga mencoba memotret berbagai sudut jalan khas ibu kota Inggris, dengan target yang beragam dari pemandangan terang hingga momen menjelang malam.
Menariknya, pengalaman fotografinya tidak terasa terlalu berbeda dibanding ponsel flagship Samsung lain yang memiliki tiga kamera. Dalam penggunaan sehari-hari, saya juga memakai Galaxy S26 Ultra, termasuk untuk memotret konser, sehingga pembandingnya ada dan terasa relevan.
Menurut saya, “rasa” flagship pada Z Fold 8 tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah modul kamera. Kombinasi sensor 50 MP, chipset Exynos 2600, serta pemrosesan berbasis AI dari Samsung menjadi faktor penting yang ikut menjaga kualitas hasil.
Pada mode foto standar, kamera menghasilkan foto 12 MP melalui teknik pixel binning. Teknik ini bekerja dengan menggabungkan beberapa piksel menjadi satu, yang pada praktiknya membantu menghadirkan detail sekaligus menekan noise.
Berita Terkait
Selama menjelajah London, kamera Z Fold 8 memperlihatkan performa yang konsisten ketika kondisi pencahayaan berubah-ubah. Warna yang dihasilkan cenderung natural, rentang dinamis terlihat lebar, dan detail tetap terjaga meski situasinya beralih dari cuaca cerah menuju waktu yang makin gelap.
Bagi kebanyakan pengguna, mode Auto rupanya sudah cukup untuk memperoleh hasil yang memuaskan. Namun, saya menemukan bahwa Samsung juga menawarkan ruang lebih bagi mereka yang ingin mengoptimalkan hasil foto sesuai kebutuhan saat di lapangan.
Mode 50 MP yang sering dipakai Di lokasi dan aktivitas yang menuntut fleksibilitas komposisi, saya kerap memilih mode 50 MP. Pilihan ini menjadi salah satu cara saya mengeksekusi foto dengan pendekatan yang lebih “terarah” ketimbang sepenuhnya mengandalkan Auto.
Ketika saya mencoba memotret Big Ben, misalnya, saya menggunakan mode kamera 50 MP dengan variasi zoom 1x dan 5x. Dari perbandingan tersebut, perangkat tetap mampu menghasilkan tampilan yang rapi pada objek yang sama, dengan karakter detail yang tetap terasa terkontrol.
Dalam perjalanan itu, saya tidak melihat kesan bahwa dua kamera belakang membuat hasil menjadi “kurang”. Justru, proses pemrosesan yang melibatkan AI membantu membuat foto tampak lebih matang, terutama ketika malam mulai turun dan noise berpotensi meningkat.
Jika dilihat secara keseluruhan, Z Fold 8 membuktikan bahwa spesifikasi tidak selalu berbicara soal “lebih banyak” untuk mencapai kualitas. Dengan sensor 50 MP, pemrosesan AI, dan dukungan Exynos 2600, ponsel lipat ini tetap mampu memberi hasil yang tajam dan warna yang nyaman dilihat.
Poin yang paling saya catat adalah konsistensi kualitas: baik pada momen terang maupun saat menjelang malam. Untuk saya, itu yang membuat dua kamera belakang pada Galaxy Z Fold 8 terasa tidak sempit—melainkan cukup untuk memotret berbagai landmark London dengan hasil yang tetap memukau.
Artikel ini disusun berdasarkan pengalaman penulis dan editor Kompas.com, dengan data publikasi 30 Juli 2026, 14:04 WIB, serta nama penulis Galuh Putri Riyanto dan editor Yudha Pratomo.












