jurnalistik.co.id – Scott Van Vliet, pemimpin teknologi di Xbox, mengatakan gangguan layanan yang ia sebut “unacceptable” pada Senin tidak seharusnya memengaruhi kemampuan pemain untuk memainkan game versi disk.
Van Vliet menjelaskan bahwa gangguan tersebut berlangsung sekitar 20 jam. Menurutnya, masalah berawal dari isu lisensi yang gagal melakukan pengecekan dengan benar untuk memastikan apakah seorang pengguna memang berhak memainkan game tertentu.
Ia juga menyatakan ada perbaikan yang akan dirilis melalui pembaruan (update) berikutnya untuk mencegah kejadian serupa terulang. Dengan langkah itu, Xbox berharap proses pengecekan hak akses tidak kembali salah sasaran ketika layanan mengalami gangguan.
Insiden beruntun yang memicu kekhawatiran
Kasus di Xbox ini terjadi setelah insiden terpisah pada 24 Juli, ketika PlayStation Network juga mengalami gangguan selama beberapa jam. Rangkaian dua kejadian itu ikut memperkuat rasa tidak nyaman di kalangan pemain terkait arah industri game.
Di tengah kekhawatiran tersebut, beberapa perusahaan memang bergerak dengan pendekatan yang mengurangi peran keping fisik. Pada bulan Juni, Rockstar Games mengumumkan bahwa salinan fisik GTA 6 akan berisi kode untuk unduhan digital, bukan disk yang memuat gamenya secara langsung.
Berita Terkait
Sementara itu, Sony juga menyampaikan rencana untuk menghentikan rilis game PlayStation baru dalam bentuk disk mulai Januari 2028. Sony menyatakan bahwa meski game baru masih bisa dibeli di toko, paketnya akan datang dengan kode digital.
Suara konsumen dan kritik soal praktik industri
Kelompok advokasi “Stop Killing Games” ikut menyoroti isu ini, khususnya terkait gagasan bahwa penerbit sebaiknya menjaga game tetap bisa dimainkan meski server dialihkan atau dihentikan. Gerakan tersebut menilai praktik mematikan akses pasca dukungan menjadi masalah yang tidak seharusnya dianggap wajar.
Jez Corden, executive editor situs Windows Central, juga memberi sorotan berbeda dari sudut pandang media dan diskusi hak digital. Ia menyebut keputusan Sony untuk berhenti menjual game fisik sudah “put digital rights under a microscope”.
Di satu sisi, penjualan digital kini menjadi mayoritas pendapatan industri game. Namun, rangkaian gangguan yang baru-baru ini terjadi membuat sebagian pemain berharap perusahaan bisa meninjau ulang strategi mereka—setidaknya dari segi bagaimana hak akses dijalankan saat layanan mengalami gangguan.
Dalam konteks itulah, klaim Van Vliet bahwa pengecekan hak berbasis disk “by design” seharusnya tidak menghalangi akses pemain menjadi pusat perhatian. Fix yang akan dibawa ke pembaruan berikutnya diharapkan menjadi langkah konkret untuk meminimalkan risiko penguncian akses, baik saat layanan terganggu maupun ketika sistem lisensi berjalan.
Dalam penjelasan tersebut, Xbox menempatkan akar persoalan pada cara sistem memverifikasi “hak” saat layanan mengalami gangguan. Intinya, pengecekan lisensi yang keliru membuat sebagian pemain merasa kepemilikan fisiknya tidak otomatis memberi akses penuh selama masa interupsi.
Namun, kejadian di Xbox tidak berdiri sendiri. Rangkaian gangguan setelah insiden di PlayStation Network ikut menguatkan kekhawatiran bahwa akses game dapat ikut “tergantung” pada kondisi layanan online, meskipun pemain membeli versi fisik. Bagi sebagian konsumen, pola seperti ini membuat mereka menilai risiko penguncian akses bisa terjadi kapan saja.
Di saat yang sama, arah industri juga semakin mengurangi peran keping fisik. Rockstar Games menggambarkan salinan fisik GTA 6 akan disertai kode unduhan, Nintendo menggeser distribusi ke kartu kunci, dan Sony menyatakan rencana penghentian rilis game PlayStation baru dalam bentuk disk mulai Januari 2028. Dengan langkah seperti itu, nilai akses makin dekat ke kode digital—sehingga kekhawatiran pengguna tentang kerentanan terhadap perubahan layanan makin mudah muncul.
Sorotan publik juga memperpanjang kritik tersebut ke praktik industri yang dinilai berpotensi mematikan akses setelah dukungan berakhir. Stop Killing Games menilai rekam jejak industri dalam menonaktifkan game adalah masalah utama, sementara perspektif media seperti yang disampaikan Jez Corden menekankan bahwa diskusi soal hak digital sedang mendapat perhatian ketat. Karena penjualan digital kini menjadi mayoritas pendapatan, gangguan layanan belakangan ini justru membuat harapan agar perusahaan lebih berhati-hati terhadap cara pengecekan akses dijalankan.












