jurnalistik.co.id – Keluarga menangis saat jenazah komedian sekaligus aktor Simson Rarameha Ngadang, yang akrab disapa Temon, dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta Selatan, pada Senin (13/7/2026) siang.
Pengamatan di lokasi menunjukkan jenazah Temon tiba di TPU Tanah Kusir sekitar pukul 12.15 WIB dengan menggunakan ambulans berwarna putih.
Peti berwarna putih tersebut kemudian dipanggul oleh sejumlah orang yang mengenakan baju berwarna hitam dan biru.
Setelah peti diletakkan di atas papan di area lubang makam, proses berlanjut dengan prosesi berdoa serta diiringi menyanyikan beberapa lagu rohani.
Para pelayat dan kerabat berkumpul mengelilingi peti sejak peti ditempatkan, sementara suasana duka terasa sangat kuat.
Saat prosesi memasuki tahap penaburan bunga, sejumlah keluarga tampak tidak menahan tangis.
Di tengah prosesi tersebut, istri Temon terdengar mengucapkan perpisahan saat mendekati lubang makam. Ia menyampaikan, “Sampai bertemu lagi, sayang,”.
Ungkapan itu disampaikan tepat sebelum peti jenazah diturunkan ke bawah liang kubur.
Sebagai bagian dari penghormatan, komedian legendaris Toto Muryadi yang dikenal sebagai Tarzan Srimulat juga terlihat melemparkan bunga berwarna kuning putih ke dalam lubang tempat peti berada.
Rangkaian pemakaman berlangsung dengan tertib, sementara pelayat terus memberikan penghormatan dari jarak yang telah diatur.
Temon meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, serta rekan-rekan di dunia hiburan yang selama ini mengenal almarhum.
Di mata banyak orang, kepergian Temon terasa mendadak karena almarhum diketahui tidak pernah menunjukkan tanda-tanda sakit parah sebelumnya.
Menurut penjelasan yang disampaikan sejumlah pihak yang hadir, Temon mulai mengeluhkan kondisi pada Minggu (12/7/2026) pagi.
Hari itu, sekitar pukul 07.00 WIB, ia mendadak mengeluhkan sakit di bagian dadanya.
Almarhum kemudian dilarikan ke RSUD Mampang Prapatan.
Saat melayat, Cak Lontong menguraikan kronologi detik-detik sebelum Temon berpulang berdasarkan cerita yang ia terima dari pihak keluarga.
Ia mengatakan, “Tadi cerita dari istri dan anaknya kan tadi pagi ada gejala yang mengarah ke serangan jantung, katanya karena Bang Temon memegang dada, kesakitan memegang dada kirinya, terus kemudian dibawa ke rumah sakit,”.
Berita Terkait
Uraian Cak Lontong menegaskan bahwa keluhan bermula dari rasa sakit pada area dada yang dialami Temon sebelum akhirnya dibawa ke rumah sakit.
Dalam kesempatan yang sama, Cak Lontong hadir menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang sedang berduka.
Selain Cak Lontong, roadman Temon, yang kerap mendampingi kegiatan almarhum, juga memberikan keterangan terkait pengetahuan penyakit yang sebelumnya diketahui.
Pihak tersebut, yang dikenal sebagai Kodil, menyebut bahwa ia hanya mengetahui Temon memiliki riwayat tekanan darah tinggi.
Kodil mengatakan, “Kalau saya bahkan sebagai roadman itu tahunya Bang Temon punya hipertensi saja, darah tinggi, enggak ada riwayat penyakit jantung,”.
Pernyataan itu menjadi salah satu gambaran bahwa informasi yang diketahui lingkungan terdekat sebelumnya lebih mengarah pada kondisi hipertensi, bukan penyakit jantung.
Berdasarkan kabar yang beredar, Temon meninggal dunia akibat serangan jantung pada Minggu (12/7/2026) pagi, di usia 59 tahun.
Kepergian Temon kemudian disusul dengan rangkaian proses pemakaman yang dihadiri kerabat dan para sahabat.
Di TPU Tanah Kusir, duka terlihat nyata melalui tangis keluarga saat peti jenazah dibawa dan ketika prosesi beralih dari doa menuju tahapan penaburan bunga.
Selain keluarga inti, suasana juga dipenuhi ungkapan penghormatan dari para pelayat yang datang pada siang hari.
Ketika proses pemakaman berlangsung, momen perpisahan disampaikan secara langsung oleh istri Temon melalui kalimat, “Sampai bertemu lagi, sayang,”.
Di saat yang sama, kehadiran Tarzan Srimulat dengan bunga yang dilemparkan ke dalam lubang makam memperlihatkan bahwa Temon tidak hanya dikenal lewat karya, tetapi juga meninggalkan jejak pertemanan dan kedekatan di lingkungan seni.
Setelah rangkaian doa dan lagu rohani selesai, prosesi pemakaman berlanjut sesuai tahapan yang telah ditentukan di lokasi.
Kesedihan yang menyelimuti TPU Tanah Kusir pada Senin (13/7/2026) siang itu mencerminkan besarnya kehilangan yang dirasakan banyak orang atas kepergian Temon.
Di tengah kabar duka tersebut, keluarga dan sahabat memilih menyampaikan penghormatan dengan cara yang paling sederhana namun paling bermakna: kehadiran di pemakaman, doa bersama, dan ungkapan perpisahan yang diucapkan langsung.
Demikian pula, kronologi sebelum Temon berpulang yang disampaikan Cak Lontong dan informasi yang disampaikan Kodil menjadi bagian dari gambaran bagaimana peristiwa itu bermula, yakni keluhan mendadak pada pukul 07.00 WIB, lalu dibawa ke rumah sakit.
Sementara itu, pemakaman di TPU Tanah Kusir menjadi penutup dari perjalanan almarhum pada hari yang sama, di mana keluarga tetap berada paling dekat dengan prosesi sampai jenazah dimakamkan.












