jurnalistik.co.id – Di Bradford, Kamis pukul 17.00, suasananya jauh dari bayangan “klub remaja” yang kerap diasosiasikan orang tua. Di dalam sebuah bekas pub pedesaan bertingkat tiga yang terdaftar sebagai bangunan bersejarah, musik drill justru menggema dari basement.
Di tempat ini, remaja dari komunitas Gypsy, traveller, dan Roma bertemu setiap minggu. Sterling, 16 tahun, cepat meluruskan anggapan bahwa mereka sedang berada di “klub remaja”.
“Youth clubs are out of style.” kata Sterling saat ditemui. Ia juga menjelaskan sudut pandangnya: “I mean, like, all right, it’s similar, it has a resemblance to a youth club,” namun “But I view it more of a place to hang out, eat food and hustle.”
Sterling sudah datang ke Romalandia selama dua tahun. Di laman media sosialnya, komunitas itu menyebut diri sebagai “cultural centre”, sementara basement studio musik menjadi ruang paling ramai.
Sebagaimana diutarakan Sterling, studio tersebut memberi kesempatan untuk bersosialisasi sekaligus bersenang-senang. Ia mengatakan, “if you’re a young rapper you get yourself a free producer”, sebuah akses yang membuat tempat ini terasa dekat dengan minat anak muda.
Namun, apa pun labelnya—klub remaja atau pusat budaya—ruang seperti ini makin sulit ditemukan. BBC melaporkan, penutupan klub-klub remaja sudah berlangsung selama bertahun-tahun, bersamaan dengan turunnya jumlah pekerja remaja.
Belanja layanan remaja oleh otoritas lokal di Inggris merosot 73% sejak 2010, berdasarkan data terbaru dari Department for Culture, Media and Sport. Di Wales, penurunan tidak sedrastis itu, tetapi tetap mencapai 27% dalam periode yang sama.
Akibatnya, banyak komunitas kehilangan fasilitas tersebut sepenuhnya. Lebih dari 1.000 pusat remaja yang dikelola dewan tutup di Inggris sejak 2010, juga menurut data pemerintah yang sama.
Kelompok-kelompok remaja mandiri sering berjalan dengan anggaran ketat. Mereka banyak bergantung pada relawan serta hibah jangka pendek, dan tanpa pendanaan yang pasti, beberapa terpaksa berhenti setelah hanya beberapa bulan.
YMCA, sebagai penyedia layanan remaja tertua di Inggris dan Wales, menyebut ada pemotongan setara lebih dari ÂŁ1.2bn dalam nilai riil antara 2010 dan 2024. Kondisi ini berarti semakin sedikit aktivitas rekreasi, budaya, dan olahraga yang dijalankan dari pusat-pusat remaja.
Seperti Romalandia, sejumlah pusat tidak menerima pendanaan otoritas lokal atau dukungan pemerintah. Mereka bertahan lewat donasi pribadi, dengan sebagian dana berasal dari perusahaan, lembaga amal, serta hibah komunitas berbasis proyek.
Tetapi tidak semua kabar selalu suram. Di London, Wali Kota Sadiq Khan mengalokasikan ÂŁ50m dari anggaran tahun ini untuk layanan remaja di seluruh ibu kota. Sementara itu, di tingkat Inggris, DCMS juga mulai membuka hub yang, menurut keterangan mereka, akan membantu remaja soal pekerjaan, kesejahteraan, serta mencegah mereka jatuh ke kehidupan kriminal.
Meski dana tersedia, persoalan berikutnya muncul: bagaimana klub-klub remaja bisa relevan bagi Gen Z. Dan bila bisa relevan, bagaimana model penyelenggaraannya seharusnya dibentuk agar sungguh membantu orang-orang yang datang ke sana.
Malam tanpa tidur dan tekanan anggaran
Sejumlah pekerja remaja bercerita tentang tekanan yang mereka hadapi ketika anggaran makin dipersempit. Bagi Daniel Balaz, pendiri Romalandia, persoalan pendanaan adalah kepala sakit yang konstan.
Ia menyampaikan pusat bisa menghadapi penutupan sementara jika tidak menemukan tambahan dukungan. “Honestly, I don’t sleep,” ujarnya. Daniel mengaku sebagian besar waktunya dipakai untuk mengejar dan menindaklanjuti peluang pendanaan.
Ia juga menuturkan dampak yang harus ditanggung dari pekerjaan semacam itu. “We have to work through different departments, different services,” katanya, sambil menekankan bahwa organisasi harus terus waspada agar pemasukan tetap bisa dijaga.
Data YMCA menunjukkan, jumlah pekerja remaja penuh waktu turun 34% pada 2023-24 dibanding 2012-13 di Inggris. Di Wales, penurunannya bahkan lebih nyata dengan angka 46% dalam periode waktu yang sama.
Bila mereka sudah berhasil mendapatkan dana, para pekerja remaja masih menghadapi tantangan yang lebih besar. Mereka harus memastikan layanan yang tersedia benar-benar selaras dengan kehidupan dan kebutuhan remaja saat ini.
“Tidak ada yang mau ke klub remaja”—yang berubah adalah cara bertemu
Paul McKenzie, tokoh senior yang sudah bekerja di London dan wilayah tenggara Inggris selama lebih dari 30 tahun, menyebut masalahnya jelas. “nobody wants to go to a youth club,” katanya.
Paul ditemui di Essex, pada inisiatif baru bernama Youth Unity yang ia dirikan bersama. Program tersebut didukung sebagian oleh Metropolitan Police.
Menurut Paul, di era ketika anak muda punya akses luas ke media sosial, konsep klub remaja tradisional tidak lagi bekerja. “Everything’s changed. It’s a ‘space’.” ungkapnya, menegaskan bahwa yang dibutuhkan kini adalah ruang yang berbeda.
Di Romford, Paul berbicara dari sebuah jalan samping. Bahkan bila seseorang lewat, lokasi hub tersebut tidak langsung terlihat karena area luar untuk basket, catur, dan tinju tertutup pagar baja tinggi.
Youth Unity tetap menyediakan ruang indoor untuk aktivitas yang oleh Paul dinilai relevan bagi kehidupan modern. Di sana ada sesi podcasting, gaming, serta forum debat—aktivitas yang menurutnya dekat dengan minat remaja.
Paul mengakui bahwa pendanaan dan fasilitas yang menarik membuat perbedaan besar. Namun ia mengatakan dirinya bisa bertahan karena siap melakukan apa pun agar tetap berjalan.
“For me if they pull the funding on this, I’ll still be here on a Friday. I’ll bring a candle if the lights go out and I think that explains it all.” ujarnya. Dalam pandangannya, menjaga pintu tetap terbuka berarti komitmen yang tegas, terutama di tempat yang perilaku anti-sosial kerap terjadi.
Berita Terkait
“The crime rate in this area is very high so if these doors close you may end up sitting in the park, then we have grooming or drugs.” tambahnya, menghubungkan penutupan klub remaja dengan risiko meningkatnya masalah di lingkungan.
Hubungan itu terlihat pula dari riset lembaga yang berupaya mencegah anak-anak terlibat kekerasan. Caleb Jackson, kepala bagian perubahan di Youth Endowment Fund, mengatakan penelitian menunjukkan klub remaja bisa menurunkan pelanggaran sebesar 13%.
Ia menekankan bahwa klub sering dibuka pada jam ketika kekerasan remaja paling mungkin terjadi, yakni antara 16:00 hingga 20:00. Tetapi Jackson juga menyatakan membuka klub saja tidak cukup.
“It’s really important that those children connect with trusted adults,” katanya. Dalam sebuah survei, 73% pekerja remaja mengatakan mereka secara informal membimbing anak-anak yang berisiko, 65% menyatakan membantu meredakan konflik, dan 55% menangani misinformasi berbahaya.
Paul sendiri terbiasa melihat gangguan terjadi secara berkala. Ia bercerita tentang situasi terbaru ketika ia membantu menyelamatkan nyawa seorang anak setelah ditusuk.
“Three weeks ago we had up to 300 young people out there fighting, just where you came in today. Now for me if the lights go out here, if we can’t secure funding, what do those young people do? ” ujarnya. Paul mengatakan ia akan terus berupaya agar tetap terbuka.
“One thing we don’t do is close the door to anybody so some weeks we might have to go without money, but it’s super important not to close the door.” katanya. Meski begitu, ia memahami kenapa pendekatan seperti itu tidak selalu mungkin diterapkan di semua tempat.
Bagi lembaga amal, perdebatan itu membawa pertanyaan lebih luas. Jika layanan remaja semakin bergantung pada staf yang melampaui batas tugas yang dibayar, apakah model tersebut benar-benar berkelanjutan.
Keamanan, intervensi dini, dan tempat yang membuat remaja percaya
Walau angka terbaru dari Home Office menunjukkan kekerasan berbasis pisau turun 8% di Inggris dan Wales, banyak orang tetap mengatakan mereka tidak merasa aman. Terutama mereka yang tinggal di kawasan dengan kekerasan yang lebih terlihat.
Pemerintah menyatakan pusat-pusat remaja memiliki peran penting dalam menghadapi persoalan tersebut. Tujuan utamanya membantu anak muda merasa aman, dan sebagian remaja yang ditemui menyebut klub membantu mereka tetap berada di jalur yang benar.
Adam, 17 tahun, ikut program magang di Youth Unity. Ia mengatakan ia harus membuat pilihan sulit dalam hidupnya.
“I was in a bad group of friends for about a year and it was one of the most important years of my life,” ujarnya. “It just kind of ruined that time of my life. I started coming here and it made me want to give back to the young people that might be in my situation.”
Di Youth Unity, reporter juga bertemu Zipporah, 15 tahun. Dalam sesi debat pekan ini, Zipporah beradu argumen secara verbal dengan remaja putri lain mengenai manfaat dan risiko media sosial.
Ia merasa aman ketika datang ke tempat ini. Ia juga menyatakan ingin menjadi paramedis.
“Romford is a very active place. Quite a few fights have happened and in the time I’ve been coming here, there [have] been two major ones.” ucapnya. Ia menambahkan bahwa staf bergerak cepat saat situasi memanas.
“You can see the way that the staff here work in that situation. They’ll be the first ones out and looking around to see what’s happening, who’s hurt and how to help the people that are involved.”
Jejak di komunitas membuat pusat lebih bertahan
Staf di lapangan menyebut faktor besar penentu keberhasilan pusat remaja adalah seberapa dalam posisinya tertanam di komunitas. Contoh yang sering disebut adalah Lambton Street Youth and Community Hub (LSYCH) di Sunderland.
LSYCH merupakan salah satu pusat remaja tertua di Eropa, dengan sejarah sejak 1901. “It’s so established in Sunderland,” kata Marie Mould, yang telah mengelola LSYCH selama dua tahun dan pernah menggunakan pusat itu saat remaja.
Marie menambahkan, “It’s ingrained in the community.” Ia menggambarkan kedekatan itu dengan cara yang sangat personal: “You could walk around the streets and somebody you know will have either gone there, the parent went there, the grandad went there or the great-grandad went there.”
Ia percaya inilah bagian penting yang membuat LSYCH tetap berkembang. Berkat dukungan goodwill dari warga, LSYCH memiliki 44 relawan.
Marie menegaskan, tanpa relawan tersebut, “none of this will be happening right now”. Salah satu relawan adalah Sophie yang berusia 20 tahun. Sophie mulai datang sejak enam tahun lalu.
Ia bercerita bahwa kondisi di rumahnya tidak stabil. Dukungan yang diterima Sophie dari LSYCH, menurutnya, meninggalkan jejak yang sulit dihilangkan.
Saat ini, ia menempuh gelar di bidang youth work. “I want to be on the other side and be there for the next generation.” ujarnya.
“I don’t think I’d be a youth worker if it wasn’t for being here. I couldn’t actually imagine what my life would have been like.” tambah Sophie. Ia juga menunjukkan bagaimana intervensi awal dapat mengarahkan masa depan remaja.
Menurut Kate Roberts Fox, Policy and Public Affairs Manager dari The Children’s Society, intervensi semacam itu bersifat krusial. Ia menyebut 82% pendanaan remaja dari otoritas lokal difokuskan pada apa yang disebut “late intervention services”.
Contoh layanan tersebut mencakup mengambil anak ke perawatan, atau menyediakan dukungan krisis. “late intervention services” itu menunjukkan bagaimana banyak anggaran baru bergerak ketika masalah sudah lebih jauh, padahal tempat seperti LSYCH berupaya hadir lebih awal dalam hidup remaja.












